Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Ketika seseorang ditanya berapa harga sebuah barang, angka pertama yang muncul dalam percakapan sering kali ikut memengaruhi penilaiannya. Jika harga awal disebut Rp500.000, harga Rp350.000 mungkin terasa murah. Namun, jika sejak awal yang disebut adalah Rp200.000, angka Rp350.000 bisa terasa mahal.
Padahal, barang yang dinilai sebenarnya sama.
Fenomena semacam ini tidak hanya terjadi ketika seseorang berbelanja. Dalam kehidupan siswa, pengaruh pilihan atau informasi pertama dapat muncul ketika memilih topik tugas, menentukan cara belajar, menilai seseorang, bahkan ketika memikirkan sebuah masalah.
Pilihan pertama dapat menjadi semacam titik acuan. Setelah titik tersebut terbentuk, pilihan berikutnya sering dibandingkan dengannya, meskipun belum tentu titik awal tersebut merupakan dasar yang tepat.
Dalam psikologi, kecenderungan seseorang terlalu dipengaruhi oleh informasi awal ketika membuat penilaian sering disebut anchoring effect atau efek jangkar.
“Jangkar” dalam konteks ini bukan berarti informasi pertama selalu dipercaya sepenuhnya. Informasi tersebut lebih berfungsi sebagai titik awal yang memengaruhi penilaian berikutnya.
Misalnya, seorang siswa diminta memperkirakan jumlah halaman sebuah buku. Jika sebelumnya ia diberi angka 100 sebagai acuan, perkiraannya mungkin berbeda dibandingkan jika angka awal yang diberikan adalah 300.
Padahal, siswa tersebut belum tentu memiliki informasi yang cukup untuk menentukan jumlah halaman sebenarnya.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa titik awal dapat memengaruhi cara seseorang memperkirakan sesuatu.
Salah satu alasannya adalah manusia membutuhkan titik acuan untuk membuat penilaian.
Ketika informasi yang tersedia belum lengkap, seseorang dapat menggunakan informasi yang sudah ada sebagai dasar sementara. Cara ini dapat membantu proses berpikir menjadi lebih cepat.
Masalahnya muncul ketika titik acuan tersebut sebenarnya tidak relevan.
Seorang siswa mungkin mendengar bahwa pelajaran tertentu “sangat sulit” sebelum mempelajarinya. Informasi tersebut dapat menjadi titik awal yang memengaruhi persepsinya. Ketika kemudian menemukan beberapa bagian yang memang membutuhkan latihan, ia mungkin semakin yakin bahwa pelajaran tersebut terlalu sulit.
Padahal, kesulitan pada beberapa bagian belum tentu berarti seluruh materi tidak dapat dipelajari.
Efek jangkar sering dijelaskan menggunakan harga atau angka, tetapi dalam kehidupan sehari-hari bentuknya jauh lebih luas.
Jangkar dapat berupa pendapat orang lain, pengalaman pertama, urutan pilihan, informasi yang pertama kali dibaca, atau kesan awal terhadap sebuah situasi.
Misalnya, seorang siswa mendengar bahwa sebuah kegiatan ekstrakurikuler hanya cocok untuk siswa yang sudah memiliki kemampuan tertentu. Pernyataan tersebut dapat menjadi acuan sebelum ia mencoba sendiri.
Begitu pula ketika seseorang pertama kali mendapatkan komentar bahwa dirinya “tidak berbakat” dalam suatu bidang. Pernyataan tersebut dapat memengaruhi cara ia memandang kemampuan dirinya pada pengalaman berikutnya.
Karena itu, penting bagi siswa untuk menyadari bahwa informasi pertama belum tentu merupakan gambaran lengkap.
Bayangkan seorang siswa harus memilih topik untuk proyek kelompok.
Teman pertama mengusulkan topik tentang lingkungan. Karena menjadi usulan pertama, pembicaraan kelompok kemudian banyak berputar di sekitar topik tersebut.
Anggota lain mungkin sebenarnya memiliki ide berbeda, tetapi mereka mulai membandingkan ide tersebut dengan usulan pertama.
Dalam situasi seperti ini, urutan penyampaian ide dapat memengaruhi arah pembicaraan.
Bukan berarti usulan pertama pasti buruk atau harus ditolak. Yang penting adalah memastikan bahwa ide tersebut dipilih karena memang sesuai dengan tujuan tugas, bukan hanya karena muncul lebih dahulu.
Memberikan jeda dapat membantu seseorang memisahkan informasi awal dari alasan sebenarnya di balik keputusan.
Misalnya, ketika mendapat beberapa pilihan topik tugas, siswa dapat membuat daftar seluruh alternatif terlebih dahulu sebelum menentukan pilihan. Setelah itu, setiap pilihan dapat dibandingkan berdasarkan kriteria yang memang relevan.
Cara tersebut mengurangi kemungkinan sebuah pilihan menjadi dominan hanya karena muncul pertama.
Jeda juga memberikan kesempatan untuk menyadari apakah keputusan dibuat berdasarkan informasi yang cukup atau hanya berdasarkan kesan awal.
Salah satu cara sederhana untuk mengurangi pengaruh informasi awal adalah mengubah pertanyaan.
Daripada bertanya:
“Apakah pilihan pertama ini cukup bagus?”
cobalah bertanya:
“Apa saja pilihan yang tersedia, dan berdasarkan apa saya harus memilih?”
Perubahan pertanyaan terlihat sederhana, tetapi dapat membuat proses berpikir menjadi lebih terstruktur.
Siswa dapat membuat tiga langkah:
Dengan cara tersebut, keputusan tidak terlalu bergantung pada pilihan yang pertama kali muncul.
Tidak.
Pengalaman pertama tetap dapat memberikan informasi yang berguna. Jika seseorang mencoba metode belajar tertentu dan ternyata cocok, pengalaman tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk menggunakannya kembali.
Masalahnya adalah ketika pengalaman pertama dianggap sebagai bukti bahwa situasi akan selalu sama.
Misalnya, seorang siswa pernah mendapatkan nilai kurang baik dalam sebuah mata pelajaran. Pengalaman tersebut memang merupakan bagian dari riwayat belajarnya, tetapi belum tentu menentukan hasil berikutnya.
Ada banyak faktor yang dapat berubah, seperti cara belajar, pemahaman materi, waktu latihan, kualitas tidur, bantuan guru, dan tingkat kesulitan soal.
Karena itu, pengalaman pertama sebaiknya menjadi informasi, bukan vonis akhir.
Pengaruh informasi awal tidak hanya berkaitan dengan benda atau keputusan akademik. Cara seseorang memandang orang lain juga dapat dipengaruhi oleh informasi yang pertama kali diterimanya.
Jika seorang siswa pertama kali mendengar bahwa temannya pendiam, ia mungkin lebih memperhatikan perilaku yang sesuai dengan kesan tersebut. Padahal, orang yang sama dapat aktif ketika berada dalam kelompok yang sudah membuatnya nyaman.
Begitu pula sebaliknya. Seseorang yang terlihat sangat aktif dalam satu kegiatan belum tentu selalu memiliki karakter yang sama dalam semua situasi.
Karena itu, mengenali seseorang membutuhkan lebih dari satu informasi atau satu pengalaman.
Sekolah memberikan banyak situasi ketika siswa harus memilih, membandingkan, dan membuat penilaian.
Ketika mengerjakan proyek, siswa memilih topik. Ketika mencari informasi, siswa memilih sumber. Ketika bekerja dalam kelompok, siswa menilai berbagai usulan. Ketika menghadapi soal, siswa memilih strategi penyelesaian.
Dalam semua situasi tersebut, informasi pertama dapat menjadi titik awal.
Siswa yang menyadari adanya pengaruh tersebut dapat belajar mengambil jarak sejenak dan bertanya apakah keputusan yang dibuat benar-benar didasarkan pada alasan yang relevan.
Kebiasaan ini membuat proses belajar tidak hanya berfokus pada menemukan jawaban, tetapi juga memahami bagaimana sebuah keputusan terbentuk.
Guru dapat menggunakan aktivitas sederhana. Misalnya, siswa diminta memperkirakan sebuah angka tanpa informasi tambahan. Setelah itu, guru memberikan angka acuan yang berbeda kepada kelompok lain dan meminta mereka membuat perkiraan kembali.
Hasilnya kemudian dibandingkan dan didiskusikan.
Aktivitas seperti ini dapat membantu siswa melihat bahwa penilaian manusia tidak selalu terbentuk hanya dari fakta yang tersedia. Cara informasi disajikan juga dapat memengaruhi proses berpikir.
Dalam pembelajaran di lingkungan seperti Pesantren Al Ma’soem, latihan semacam ini dapat dikaitkan dengan pembiasaan untuk mempertimbangkan informasi secara hati-hati sebelum mengambil keputusan.
Tidak semua keputusan membutuhkan analisis panjang. Untuk pilihan sederhana, menggunakan informasi awal sebagai acuan sering kali tidak menjadi masalah.
Namun, semakin penting sebuah keputusan, semakin berguna untuk memeriksa kembali dasar yang digunakan.
Siswa dapat membiasakan diri bertanya: apakah saya memilih ini karena memang paling sesuai, atau karena pilihan ini muncul lebih dahulu? Apakah informasi pertama yang saya terima memiliki bukti yang cukup? Apakah ada alternatif lain yang belum saya pertimbangkan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak menjamin seseorang selalu membuat keputusan sempurna. Namun, kebiasaan untuk memeriksa titik awal dapat membantu siswa memahami bahwa apa yang pertama kali kita lihat belum tentu menjadi dasar terbaik untuk menentukan apa yang seharusnya kita pilih.