Kebijakan sekolah tentang santri yang meninggalkan pondok pesantren menjadi hal yang cukup relevan di pendidikan saat ini. Beberapa pondok pesantren melarang santrinya untuk bisa keluar area kampus, ini merupakan hal yang normal mengingat santri dididik untuk bisa menjadi santri yang fokus pada tujuan awal yaitu misalkan hafalan Al Quran atau bisa mempertahankannya. Ketika santri diberikan akses untuk bisa meninggalkan pondok pesantren ditakutkan tujuan utama itu tidak bisa digapai. Maka beberapa pondok pesantren melarang santrinya untuk bisa meninggalkan area pondok dengan alasan alasan tertentu dan tentu saja ketika ada santri yang meninggalkan pondok dan wali santri atau ustadz tidak tahu, itu artinya ustadz tidak bertanggung jawab pada keselamatan dan keamanan santri. Tapi bagaimana jika santri meninggalkan pondok pesantren karena ada keperluan lain seperti untuk mengikuti kompetisi di luar sekolah atau karena santri memang masih aktif di dalam kelas yang tidak ada di sekolah? Berikut ulasannya.
Bolehkah Santri Izin Meninggalkan Pondok Pesantren? Bagaimana Izin Santri yang baik?
Beberapa pondok pesantren sangat melarang santrinya ke luar area pondok pesantren dengan berbagai alasan, jangankan untuk keperluan pribadi santri bahkan kepentingan orang tua kepada santri pun kadang dilarang. Alasannya cukup relevan yaitu agar santri bisa fokus dalam belajar, sehingga beberapa pondok pesantren tidak membiarkan santrinya untuk bisa pulang apa lagi ditemui oleh sanak keluarganya atau jika diizinkan pun hanya satu semester atau satu tahun sekali.
Tapi beberapa pondok pesantren modern malah memberikan akses yang mudah untuk komunikasi dan untuk bertemu dengan orang tua, diluar kekhawatiran pondok pesantren tentang kurang fokusnya anak ketika mereka menimba ilmu di pesantren jika memang sering ditemui orang tua, tapi beberapa kasus membuktikan bahwa dengan metode belajar yang mungkin sedikit modern membuat santri tetap bisa fokus untuk belajar di pesantren tanpa hilang fokus karena sering ditemui orang tua. Tapi bagaimana untuk izin santri untuk keluar?
Berbicara tentang izin untuk keluar, dalam pertemuan orang tua yang dilaksanakan pada hari Sabtu (16/12) kemarin, Al Masoem sekolah berpesantren modern di Bandung membuka sesi tanya jawab dengan calon orang tua santri dan ada pertanyaan yang cukup jelas yaitu bagaimana izin santri ketika mereka memang ingin keluar karena beberapa hal seperti les, kursus dan ketika mereka akan melaksanakan kegiatan atau mengikuti kompetisi?
Di Al Masoem sendiri kata atau istilah izin itu dibagi menjadi 2 jenis, yaitu izin pribadi seperti izin keluar sebentar baik itu diantar oleh wali santri atau izin karena keluar dengan orang tua dan izin karena kepentingan akademis seperti untuk ikut les yang tidak ada di Al Masoem atau ikut serta dalam beberapa kegiatan kompetisi.
Untuk kasus pertama jika santri memang membutuhkan keperluan sehari hari, Al Masoem menyediakan minimarket untuk tempat santri membeli berbagai macam keperluan, apa lagi santriwati yang memang membutuhkan keperluan bulanan yang lebih banyak bisa dimudahkan untuk bisa membeli berbagai macam barang di minimarket yang disediakan yang Insya Allah komplit. Tapi jika memang tidak ada barang yang dimaksudkan, santri tetap boleh keluar dari area pondok pesantren dengan syarat :
- Santri harus didampingi dengan wali santrinya
- Jika dijemput orang tua untuk sekedar makan diluar diperbolehkan asal ada komunikasi terlebih dahulu dengan wali santri sebagai orang tua di pesantren
- Tidak diperbolehkan jika yang menjemput bukan orang tua (Termasuk Saudara kecuali memang sudah ada konfirmasi terlebih dahulu dari orang tua santri)
- Boleh dibawa pulang oleh orang tua, tapi usahakan tidak menggunakan ojek online apa lagi jika tidak ada konfirmasi dari orang tua
- Jika orang tua tidak bisa menjemput, Al Masoem menyediakan armada kepulangan yang sudah jelas untuk lokasi yang dituju
- Boleh ikut les ke luar tapi di Al Masoem juga sudah menyediakan karena kami bekerja sama dengan Neutron dan Primagama tapi jika dirasa kurang bisa keluar dengan syarat syarat lain
Lantas bagaimana jika santri izin untuk ikut kompetisi?
- Jika ikut kompetisi, Al Masoem menyediakan mobil dinas untuk bisa mengantar jemput santri yang ikut kompetisi dimanapun itu
- Jika santri ikut serta dalam kegiatan di luar pesantren seperti ikut les berkuda, memanah dan berenang jika memang bisa dilaksanakan di sekolah maka laksanakan di sekolah karena kami juga menyediakan fasilitas yang sama tapi jika memang dirasa kurang bisa keluar dengan syarat syarat lainnya
Jadi apakah santri boleh keluar izin dari pondok? Jawabannya tentu boleh, Al Masoem tidak pernah melarang sesuatu yang jadi minat dan bakat santinya. Dan kami paham jika memang kami memberikan fasilitas dan dirasa kurang maka penting bagi kami untuk bisa membantu sebisa mungkin untuk bisa memberikan yang terbaik bagi santri santri Al Ma’soem. Karena bagaimanapun pondok pesantren merupakan wadah terbaik untuk membentuk santri santri yang tidak hanya pandai dalam hafalan Quran tapi juga berkompeten di bidang yang menjadi minat dan bakat mereka.
Izin Santri yang Baik dan Benar
Khusus untuk santri jika ingin keluar dan meninggalkan pondok pesantren untuk sementara bisa meminta izin terlebih dahulu kepada para ustadz atau wali santri. Adapun adab yang baik dalam meminta izin kepada para wali santri dapat dilaksanakan sebagai berikut :
Izin santri adalah permintaan izin yang dilakukan oleh santri kepada pihak pondok pesantren untuk melakukan suatu kegiatan atau keperluan di luar pondok. Izin santri dapat dilakukan secara lisan atau tertulis.
Izin santri yang baik dan benar harus memenuhi beberapa kriteria, yaitu:
- Alasan yang jelas. Santri harus menjelaskan alasan mengapa ingin izin. Alasan yang jelas akan memudahkan pihak pondok pesantren untuk memberikan pertimbangan.
- Persetujuan dari orang tua. Jika izin santri dilakukan untuk keperluan di luar pondok, santri harus mendapatkan persetujuan dari orang tua. Persetujuan orang tua dapat berupa surat izin dari orang tua atau keterangan lisan dari orang tua.
- Penerimaan dari pihak pondok pesantren. Pihak pondok pesantren akan memberikan pertimbangan atas permohonan izin santri. Jika permohonan izin diterima, santri akan mendapatkan surat izin dari pihak pondok pesantren.
Berikut adalah contoh surat izin santri:
[Nama Pondok Pesantren]
[Alamat Pondok Pesantren]
[Tanggal]
Kepada Yth. [Pimpinan Pondok Pesantren]
Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama: [Nama Santri]
Kelas: [Kelas Santri]
Dengan ini memohon izin kepada Bapak/Ibu untuk melakukan kegiatan [jenis kegiatan] di luar pondok pesantren. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada tanggal [tanggal kegiatan] mulai pukul [jam mulai] hingga [jam selesai].
Alasan izin saya adalah [alasan izin].
Demikian surat permohonan izin ini saya buat dengan sebenar-benarnya. Atas perhatian Bapak/Ibu, saya ucapkan terima kasih.
Hormat saya, [Nama Santri]
Berikut adalah beberapa tips untuk mengajukan izin santri yang baik dan benar:
- Ajukan izin dengan sopan dan santun.
- Jelaskan alasan izin dengan jelas dan singkat.
- Lengkapi persyaratan izin yang dibutuhkan.
- Terima keputusan pihak pondok pesantren dengan lapang dada.
Dengan mengajukan izin santri yang baik dan benar, santri akan menunjukkan sikap yang disiplin dan taat aturan. Selain itu, santri juga akan mendapatkan izin dengan lebih mudah.

