SMA

SMA Bebas Penjurusan. Mari Maksimalkan !

Pada awal tahun 2022 ini KEMENDIKBUD (Kementerian pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia) kembali mencetuskan program kurikulum baru, yaitu kurikulum Merdeka belajar yang dimana pada kurikulum ini ada kebijakan khusus untuk tingkat SMA yaitu penghapusan atau pembebasan siswa dari penjurusan. Jadi siswa bebas memilih mata pelajaran yang diminatinya selama 2 tahun terakhir atau dari kelas 11 – 12 SMA.

Ini merupakan langkah yang bagus karena siswa bisa fokus ke jurusan yang mereka minati saja tanpa harus diberikan porsi pelajaran yang luar biasa banyak. Seperti misalkan seorang siswa akan mengambil ke perguruan tinggi negeri favorit jurusan pertanian, maka siswa tersebut di kelas 11 dan 12 bisa mengambil 2 mata pelajaran yang sesuai dengan minat mereka yaitu Biologi dan Kimia saja tanpa harus membawa mata pelajaran fisika. Ini akan menjadi sebuah langkah yang efektif dimana tidak akan ada mata pelajaran yang tidak jadi minat siswa yang disajikan kepada siswa.

Karena peminatan dalam pembelajaran ini juga sangat penting mengingat manusia itu makhluk sosial yang tidak bisa multitasking, kalaupun bisa tidak akan bisa maksimal. Maka dari itu dengan program pembebasan penjurusan ini dapat membuat siswa bisa memaksimalkan minat dan bakatnya di sekolah dengan memberikan kebebasan siswa dalam memilih mata pelajaran. Meskipun tetap ada 7 mata pelajaran wajib yang tidak bisa ditinggalkan. Adapun beberapa dampak positif dari pembebasan penjurusan ini diantaranya adalah :

Peserta didik lebih terfokuskan pada tujuan mereka 

Tujuan utama dari pembebasan penjurusan ini adalah pemfokusan peserta didik ke tujuan utama mereka. Seperti yang saya bahas diatas pemfokusan ini membuat pembelajaran lebih efektif karena siswa akan mempelajari mata pelajaran sesuai dengan minat dan bakat mereka dan sesuai dengan tujuan mereka di masa depan.
Jika sebelumnya siswa disuguhi semua pelajaran IPA dan IPS sesuai dengan jurusannya, saat ini bahkan siswa bisa lompat jurusan. Misalkan seorang siswa berminat ke fakultas teknik sipil namun juga ingin masuk ke Akuntansi, siswa tersebut bisa mengambil Jurusan Fisika di Jurusan IPA dan bisa mengambil jurusan Akuntansi dan Ekonomi di IPS. 

Peserta didik lebih bisa “disamaratakan” dan “dimanusiakan”

Hal paling penting dari pembebasan penjurusan ini adalah tidak akan ada peserta didik yang dicap bodoh karena tidak pandai dalam Fisika, tidak ada peserta didik yang dicap bodoh karena tidak bisa Ekonomi dan Kimia. Tapi semua peserta didik akan disamaratakan karena apa yang mereka pelajari adalah apa yang mereka mianti kedepannya.

Jika memang tidak bisa atau apa yang mereka mianti memiliki nilai yang kurang, maka pihak sekolah akan membantu untuk peminatan ulang dan memilih prodi yang sesuai dengan minat dan bakat siswanya sesuai dengan hasil psikotes siswa. Namun tetap saja psikotes tidak bersifat memaksa tapi hanya rekomendasi bagi siswa dan orang tua peserta didik untuk bisa diambil jika tidak juga tidak akan dipermasalahkan.

Peserta didik bisa lebih percaya diri

Pembebasan jurusan juga bisa membuat peserta didik bisa lebih percaya diri dalam memilih karir yang mereka inginkan dimasa depan. Karena mata pelajaran yang mereka ambil yang pasti mereka bisa kuasai. Dengan terlalu banyak mata pelajaran seperti penjurusan dalam kurikulum sebelumnya malah membuat siswa terbebani bukan termotivasi untuk menguasainya. Dengan kurikulum merdeka ini juga siswa bisa lebih terfokuskan.

Namun yang jadi masalah dalam penghapusan penjurusan ini adalah kesanggupan sekolah menerapkan konsep kurikulum merdeka belajar ini. Apakah sekolah sanggup menggunakan kurikulum merdeka yang jauh lebih rasional bagi peserta didik?

Jawabannya adalah tergantung sekolah itu sendiri. Di SMA Al Ma’soem ketika KEMENDIKBUD mengungkapkan sistem kurikulum baru yang disebut kurikulum merdeka belajar, Baik kepala sekolah dan staf kurikulum bidang SMA langsung mempelajari dan tertarik dengan sistem kurikulum merdeka ini. Karena memiliki konsep yang sama dengan pendidikan di Al Masoem selama ini. Yaitu pemaksimalan Minat dan bakat siswa.

Jika sebelumnya kurikulum Al Masoem lebih menilai pada keaktifan siswa dalam ekstrakurikuler dan intrakurikuler, maka dengan adanya kurikulum merdeka belajar ini SMA Al Masoem bisa lebih memaksimalkan lagi peminatan siswa dalam menembus perguruan tinggi negeri.

Intinya, menggunakan kurikulum 2013 saja, 53% siswa SMA Al Ma’soem bisa masuk PTN setiap tahunnya, baik itu melalui jalur SNMPTN, SBMPTN ataupun Mandiri. Tapi dengan kurikulum merdeka yang lebih memfokuskan siswa kepada penjurusan dan prodi yang mereka inginkan, ini lebih mempermudah sekolah untuk memaksimalkan potensi siswa. Maka dari itu, target SMA Al Masoem dalam kurikulum merdeka ini adalah lebih dari 55% siswa SMA Al Masoem diterima ke PTN baik itu Perguruan Tinggi Negeri hingga Luar Negeri. 

Kami juga memiliki program kelas peminatan bahasa Asing dimana bagi siswa yang berminat kuliah ke Luar Negeri bisa mengikuti kelas ini.