Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Bisa menyelesaikan banyak hal dalam satu waktu mungkin pernah terlintas dalam benak kita saat kecil. Bagaimana tidak, sepintas ini terdengar seperti cara untuk terbebas dari beragam tugas yang diberikan. Ternyata situasi ini punya istilah tersendiri yaitu multitasking.
Istilah multitasking biasanya diberikan pada seseorang yang terampil atau cekatan karena bisa melakukan berbagai macam hal di waktu yang bersamaan. Namun tahukah kalian, sebenarnya multitasking membawa dampak negatif yang lebih besar, terutama bila dilakukan oleh siswa.
Disadur dari Sampoerna University, multitasking adalah sebuah seni mengubah fokus secara cepat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya secara bergantian. Jadi ketika siswa bisa melakukan multitasking, maka Ia dianggap mampu menyelesaikan dua atau lebih tugas dalam satu waktu. Dalam prosesnya, siswa tersebut bisa menyelesaikan dalam waktu bersamaan atau berpindah-pindah antara satu tugas ke tugas lainnya.
Kemampuan ini cukup potensial bila dimiliki oleh siswa. Tidak bisa dipungkiri kalau yang namanya pelajar memiliki ambisi yang tinggi atas impiannya. Jadi Ia akan merasa semangat untuk menantang diri mengerjakan banyak hal dan lebih produktif. Contohnya seperti saat belajar di kelas, para siswa akan menulis catatan sembari mendengarkan penjelasan guru. Lalu ada juga siswa yang belajar sembari makan.
Hal-hal seperti ini yang secara tidak langsung melatih kemampuan siswa untuk hidup lebih efisien dan bisa menghemat waktu. Selain itu tingkat kreativitas dapat meningkat seiring lamanya jam terbang melakukan hal tersebut. Disampaikan oleh Melwani dan kapadia (2020) yang disadur dari Hashmicro, bahwa kreativitas tersebut didukung oleh tingkat aktivasi sumber daya kognitif yang tinggi dan fleksibilitas kognitif. Simpelnya, kreativitas dapat terlahir dari kondisi tekanan yang berat hingga memancing perkembangan otak.
Hanya saja kegiatan multitasking membuat siswa menjadi mudah kehilangan fokus. Misalnya saja belajar sembari mendengarkan musik. Sang siswa tersebut akan membagi fokusnya kepada dua hal secara bersamaan, membuat belajarnya menjadi kurang maksimal.
Bahkan ada penlitian yang menyebutkan multitasking berdampak pada kesehatan. Dalam sebuah studi di University of London, peserta yang melakukan multitasking mengalami penurunan IQ hingga 15 poin saat tes uji kognitif. Pada penelitian sejenis oleh University of Sussex, dijelaskan bahwa orang yang sering multitasking memiliki densitas otak yang lebih rendah di bagian korteks cingulate anterior, bagian yang bertugas atas rasa empati serta kontrol kognitif dan emosional.
Dampak kesehatan lainnya yang terasa adalah rasa stress yang ditimbulkan. Beban tugas atau tanggung jawab yang banyak tetapi dilakukan seorang diri dapat membuat kewalahan. Tubuh akan merasa cepat letih dan pikiran menjadi cepat stress. Justru akibat stress, kemampuan berpikir menjadi berkurang dan akhirnya menurunkan tingkat kreativitas.
Lalu pertanyaannya, apakah multitasking masih layak dilakukan oleh siswa? Untuk menjawab hal ini mungkin sudah jelas untuk menghindari hal tersebut. Dampak negatif yang diberikan cukup besar dibanding dampak positifnya, terlebih bagi siswa yang masih berusia muda. Usia muda adalah waktu yang cocok untuk mengembangkan diri ataupun mengeksplorasi diri. Salah satu cara yang lebih aman dilakukan adalah dengan belajar dengan terencana.
Merencanakan belajar yang baik dapat membantu siswa untuk belajar bertanggung jawab atas amanah yang diberikan. Contohnya adalah tanyakan kepada siswa apa tujuan yang ingin dicapai. Setelah tahu apa yang ingin dicapai, susun rencana belajar seperti daftar to-do-list dan skala prioritas. Fungsi dari to-do-list dan skala prioritas ini adalah melatih siswa untuk tahu mana tugas yang penting dan mendesak dan penting tetapi tidak mendesak.
Selain itu, menjauhkan dari distraksi ketika menjalankan kewajiban juga penting agar multitasking bisa dihindari. Contohnya saja kehadiran smartphone dengan bunyi notifikasinya itu biang distraksi yang sering terjadi. Maka dari itu, sisahkan dahulu smartphone tersebut agar dapat fokus menyelesaikan tugasnya.
Multitasking mungkin adalah salah satu kemampuan yang menarik untuk dimiliki oleh siswa. Namun kenyataannya dampak negatifnya lebih besar dari dampak positif yang diberikan. Untuk itu, mari ajak siswa untuk melatih diri fokus pada apa yang bisa dikerjakan sesuai dengan skala prioritas yang ada. Selain itu, beritahu para siswa untuk menjauhkan diri dari distraksi yang menggangu ketika sedang menyelesaikan kewajibannya.
Penulis: Gumilar Ganda