أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَلِكُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلٌ ۚ فَاِ ذَا جَآءَ رَسُوْلُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُمْ بِا لْقِسْطِ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
“Dan setiap umat (mempunyai) rasul. Maka apabila rasul mereka telah datang, diberlakukanlah hukum bagi mereka dengan adil dan (sedikit pun) tidak dizalimi.” (QS. Yunus 10: Ayat 47)
Tujuan pengutusan rasul ialah untuk memberikan berbagai pedoman yang wajib diikuti
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat, pada saat umat itu memerlukannya. Tujuan pengutusan rasul ialah untuk memberikan berbagai pedoman yang wajib mereka turuti seperti pokok-pokok akidah dan segala amal saleh yang menyelamatkan mereka dari siksaan di hari pembalasan.
Pada saat para rasul itu telah datang kepada mereka dan telah menyampaikan kepada mereka petunjuk-petunjuk yang harus mereka ketahui mengenai urusan agama, maka seharusnyalah mereka tidak membuat alasan untuk menolak dan menentangnya. Pada hari pembalasan nanti Allah juga akan memberikan keputusan tentang apa yang harus mereka rasakan dengan seadil-adilnya, dan mereka sedikitpun tidak teraniaya, itulah pembalasan yang setimpal dengan perbuatan yang mereka lakukan, oleh karena itu mereka berhak dijatuhi siksaan yang pedih.
Allah ingin menyelematkan manusia dengan mengirim rassul setiap zamannya, tapi kenyataannya selalu ada pembangkangan.
Tadabbur yang bisa diambil dari kondisi itu adalah:
- Kasih sayang Allah tidak pernah putus, meskipun manusia sering membangkang. Allah tetap mengutus para rasul untuk menyelamatkan mereka, menunjukkan bahwa hidayah selalu terbuka sampai akhir hayat.
- Manusia diuji dengan kebebasan memilih, apakah mau mengikuti kebenaran atau mempertahankan kesombongan. Pembangkangan itu memperlihatkan betapa besar peran hati: siapa yang tunduk kepada Allah akan diselamatkan, siapa yang sombong akan celaka.
- Kesabaran para rasul menjadi teladan, bahwa tugas rassul adalah menyampaikan kebenaran dengan sabar, meskipun hasilnya kadang penuh penolakan.
- Tidak semua orang akan beriman, meskipun kebenaran sudah sangat jelas. Ini mengajarkan bahwa hidayah adalah hak prerogatif Allah, dan manusia hanya bisa berusaha.
- Peringatan tentang bahaya keras kepala: banyak umat terdahulu binasa bukan karena bodoh, tapi karena keras kepala menolak kebenaran yang sudah mereka tahu.
Bersyukur atas petunjuk yang Allah berikan, baik atas diutusnya rassul maupun diturunkannya wahyu berupa kitab suci, jangan menunda untuk menerima kebenaran, dan tetap rendah hati dalam beragama.
Doa yang mencerminkan permohonan agar kita diberi hidayah untuk menerima kebenaran.
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
Allahumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnā ittibā‘ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnā ijtinābah.
“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakanlah kami kemampuan untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan serta karuniakanlah kami kemampuan untuk menjauhinya.”