أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَيَقُوْلُوْنَ مَتٰى هٰذَا الْوَعْدُ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
“Dan mereka mengatakan, Bilakah (datangnya) ancaman itu, jika kamu orang-orang yang benar?” (QS. Yunus 10: Ayat 48)
Manusia mempertanyakan kapan azab datang, padahal itu urusan Allah
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa mereka akan bertanya kepada Rasulullah dan pengikut-pengikutnya tentang kapan saatnya janji yang telah dijanjikan kepada mereka itu akan terjadi. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang mengejek kepada Rasulullah dan pengikut-pengikutnya seolah-olah menurut penilaian mereka bahwa janji Allah itu tidak akan terjadi. Janji Allah yang ditanyakan kepada Nabi saw dan pengikutnya ialah ancaman Allah yang akan ditimpakan kepada mereka baik siksaan di dunia ataupun siksaan di akhirat.
Allah berfirman: …Sehingga apabila mereka telah melihat apa yang diancamkan kepada mereka, baik azab maupun Kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah bala tentaranya. (Maryam/19: 75)
Dan firman-Nya : Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat ataukah Tuhanku menetapkan waktunya masih lama. (al-Jinn/72: 25).
Hal yang bisa ditadaburi ;
- Manusia sering tergesa-gesa menuntut bukti atau kepastian dari janji Allah, padahal segala sesuatu ada waktunya yang telah ditentukan.
- Ketidaktahuan manusia tentang waktu datangnya azab menunjukkan keterbatasan ilmu manusia dibandingkan dengan ilmu Allah yang sempurna.
- Kesabaran dan keimanan diuji dengan ketidakpastian waktu — orang beriman tetap yakin tanpa harus melihat atau mengetahui secara pasti.
- Peringatan bahwa azab itu pasti terjadi bagi yang ingkar, walaupun mereka meragukannya.
“Ya Allah, kuatkanlah imanku terhadap janji-Mu, sabarkanlah hatiku atas segala ketentuan-Mu, dan lindungilah aku dari azab-Mu yang pedih.”