Tugas Rasul Menyampaikan Amanat, Bukan Memberi Hidayah

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman;

فَتَوَلّٰى  عَنْهُمْ  وَقَا لَ  يٰقَوْمِ  لَقَدْ  اَبْلَغْتُكُمْ  رِسٰلٰتِ  رَبِّيْ  وَنَصَحْتُ  لَـكُمْ  ۚ فَكَيْفَ  اٰسٰی  عَلٰى  قَوْمٍ  كٰفِرِ يْنَ

“Maka, Syu’aib meninggalkan mereka seraya berkata, Wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan amanat Tuhanku kepadamu dan aku telah menasihati kamu. Maka, bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang kafir?” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 93)

Tugas rassul, menyampaikan amanat, memberi nasihat dan bukan memberi hidayah

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Melihat kehancuran yang menimpa kaumnya yang ingkar, maka Nabi Syuaib dengan berat hati berpaling meninggalkan mereka seraya berkata dengan penuh sesal dan iba, “Wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan amanat Tuhanku berupa pesan-pesan-Nya yang dibuktikan dengan aneka mukjizat kepadamu yang dapat membawa kepada kebaikan jika kamu lakukan, dan aku telah menasihati kamu berupa sesuatu yang dapat menyelamatkan kamu dari hukuman Allah.

Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap penderitaan orang-orang kafir yang telah mendarah daging dalam diri mereka kekufuran?” Itu tidak akan terjadi, sebab aku sudah berusaha keras memberikan petunjuk dan berupaya menyelamatkan mereka, tetapi mereka malah memilih kehancuran. Rassul tidak bisa memberi hidayah dan tidak bisa mengubah kekufuran yang sudah mendarah daging.

۞ فَمَا لَكُمْ فِى ٱلْمُنَٰفِقِينَ فِئَتَيْنِ وَٱللَّهُ أَرْكَسَهُم بِمَا كَسَبُوٓا۟ ۚ أَتُرِيدُونَ أَن تَهْدُوا۟ مَنْ أَضَلَّ ٱللَّهُ ۖ وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ سَبِيلًا

“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.(QS An Nisa 4: 88).

Jangan mengharap hidyah dari orang lain, jangan mengharap hidayah terjadi pada orang lain, yang bisa dilakukan hanya memberi nasihat, mengajak ke kebaikan dan mencegah kemungkaran. Terus berusaha memelihara kebaikan dalam diri dan terus menjadi orang yang baik dan disertai doa supaya diberi petunjuk, selain minta petunjuk yang minimal 17 kali dalam sehari diucapkan;

اِهْدِنَا  الصِّرَا طَ  الْمُسْتَقِيْمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 6)

Mendawamkan doa setelah sholat, untuk selalu diberi petunjuk(hidayah);

رَبَّنَا  لَا  تُزِغْ  قُلُوْبَنَا  بَعْدَ  اِذْ  هَدَيْتَنَا  وَهَبْ  لَنَا  مِنْ  لَّدُنْكَ  رَحْمَةً  ۚ اِنَّكَ  اَنْتَ  الْوَهَّا بُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 8)