Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

وَمَا كَا نَ هٰذَا الْقُرْاٰ نُ اَنْ يُّفْتَـرٰ ى مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰـكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ الْكِتٰبِ لَا رَ يْبَ فِيْهِ مِنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ
“Dan tidak mungkin Al-Qur’an ini dibuat-buat oleh selain Allah; tetapi (Al-Qur’an) membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya. Tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan seluruh alam.” (QS. Yunus 10: Ayat 37)
Tidak masuk akal apabila Al-Qur’an itu diciptakan oleh selain Allah. Dan tidak mungkin manusia mampu membuat Al-Qur’an
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah menjelaskan bahwa tidaklah pantas dan tidak masuk akal apabila Al-Qur’an itu diciptakan oleh selain Allah. Dan tidak mungkin manusia mampu membuat Al-Qur’an. Sebagai alasan ketidakmungkinan itu ialah karena siapa pun juga selain Allah tidak akan mampu membuat yang semacam Al-Qur’an. Apabila ada yang merasa mampu membuatnya maka anggapan serupa itu hanyalah impian belaka yang tidak mungkin terjelma dalam dunia kenyataan. Hal ini pernah diucapkan oleh orang yang paling kafir dan paling memusuhi Nabi Muhammad saw yaitu Abu Jahal, pada saat mengomentari kejujuran Muhammad, “Muhammad tidak pernah berdusta kepada seorangpun, jadi apakah mungkin ia berdusta kepada Allah.”
Jadi apabila tidak mungkin Al-Qur’an itu diciptakan oleh selain Allah, maka yang dapat diyakini ialah bahwa Al-Qur’an itu hanyalah kalam Allah semata. Al-Qur’an berfungsi sebagai “pembenar” terhadap kitab-kitab yang sebelumnya, yaitu kitab yang diturunkan kepada Nabi Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa a.s. Al-Qur’an berisi pokok-pokok agama yang membimbing umat yang beriman kepada Allah dan hari akhirat serta mengamalkan isinya dengan sebaik-baiknya.
Al-Qur’an diturunkan kepada Muhammad saw bukanlah karena wahyu yang telah diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya itu tidak benar, tetapi karena umat manusia telah melupakan sebagian besar dari pokok-pokok agama mereka, bahkan ada pula yang sengaja memutarbalikkan agama mereka dan mencampurnya dengan tradisi-tradisi baru yang diciptakan oleh pemimpin mereka untuk merusak pokok ajaran agama mereka.
Pokok-pokok ajaran agama mereka itu belum pernah diketahui oleh Nabi Muhammad saw sebelum ia menjadi utusan yaitu sebelum ia menerima wahyu dari Allah.
Dikatakan bahwa Al-Qur’an sebagai pembenar terhadap kitab yang sebelumnya, karena Al-Qur’an membawa pokok-pokok ajaran yang bersesuaian dengan pokok-pokok akidah yang dibawa oleh Nabi Ibrahim. Juga disebabkan oleh kedatangan Nabi Muhammad saw yang menerima wahyu dari Allah itu, sesuai dengan isyarat yang terdapat dalam kitab-kitab yang sebelumnya, seperti firman Allah:
“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka. (al-Araf/7: 157)
Al-Qur’an itu berfungsi sebagai “perinci” kandungan kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah, yaitu kitab-kitab yang mengandung hukum dari Allah, dan menjadi petunjuk bagi seluruh manusia, yang berisi akidah, syariat, contoh teladan, nasehat-nasehat, dan urusan kemasyarakatan. Al-Quran mengandung petunjuk dan tidak ada bagian yang dapat diragukan, Al-Quran datang dari Zat Yang menciptakan, dan seandainya Al-Quran itu bukan kalam Allah sudah tentu akan didapati di dalamnya kesimpangsiuran dan banyak kesalahan.
Ada beberapa hal yang bisa ditadaburi, terutama berkaitan dengan keunikan dan kemustahilan manusia menciptakan Al-Qur’an:
1. Keautentikan Al-Qur’an; Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan buatan manusia. Ini berarti isinya berada di luar kapasitas akal, kemampuan sastra, dan pemahaman manusia biasa. Mustahil manusia—bahkan yang paling jenius—dapat menyusun sesuatu yang sempurna dari segi bahasa, makna, dan petunjuk hidup sebagaimana Al-Qur’an.
2. Konfirmasi terhadap kitab sebelumnya; Al-Qur’an tidak berdiri sendiri; ia membenarkan kitab-kitab wahyu sebelumnya (Taurat, Injil, Zabur), namun juga menjadi penyempurna. Ini menunjukkan kesinambungan risalah ilahi, bukan ciptaan baru yang bertentangan dengan wahyu terdahulu.
3. Penjelas segala sesuatu; Frasa “tafsilal-kitāb” dalam ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memberikan penjelasan yang rinci tentang hukum, akidah, dan nilai kehidupan. Ini mencerminkan kedalaman ilmu yang tidak mungkin disusun oleh manusia yang terbatas.
4. Tidak ada keraguan; Jika Al-Qur’an ciptaan manusia, pasti ada celah, pertentangan, atau keraguan. Namun Al-Qur’an secara konsisten menantang pembacanya untuk mencari kesalahan di dalamnya—dan tantangan itu tak pernah bisa dijawab oleh siapa pun. Hal ini menegaskan bahwa sumbernya bukan akal manusia.
5. Asal usul ilahi; Ayat ini ditutup dengan penegasan: “diturunkan dari Tuhan semesta alam”. Penegasan ini menempatkan Al-Qur’an sebagai wahyu dari Zat Yang Maha Mengetahui segalanya, bukan dari makhluk yang terbatas.
Untuk perenungan : bagaimana mungkin seorang Nabi yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis), hidup di tengah masyarakat Arab jahiliyah, bisa membawa kitab yang isinya mencakup hukum, sejarah, akidah, sains, sastra, dan nilai moral secara konsisten dan menyentuh setiap zaman? Tidak masuk akal kecuali itu berasal dari Tuhan.
“Ya Allah, jadikanlah hati kami tenang dengan wahyu-Mu, teguhkanlah iman kami terhadap kitab-Mu, karuniakanlah kepada kami pemahaman dan tadabbur terhadapnya, serta kemampuan mengamalkannya. Jangan Engkau jadikan dalam dada kami keraguan terhadap ayat-ayat-Mu. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.