Allah SWT berfirman;
اَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَـرٰٮهُ ۗ قُلْ فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّثْلِهٖ وَا دْعُوْا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
“Apakah pantas mereka mengatakan dia (Muhammad) yang telah membuat-buatnya? Katakanlah, Buatlah sebuah surat yang semisal dengan surat (Al-Qur’an), dan ajaklah siapa saja di antara kamu orang yang mampu (membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Yunus 10: Ayat 38)
Jika kamu ragu terhadap Al-Qur’an, maka buatlah satu surah yang serupa dan ajaklah siapa saja yang bisa membantu membuat satu surat
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah mengalihkan pembicaraan kepada orang-orang jahiliyah yang mengingkari kerasulan Muhammad saw dan Al-Qur’an itu ciptaan Muhammad. Menghadapi tuduhan orang-orang jahiliyah itu Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw agar menangkis tuduhan mereka dengan mengatakan bahwa apabila perkataan mereka itu benar, hendaklah mereka membuat sebuah surah yang semisal dengan sebuah surah dalam Al-Qur’an, dari segi daya tariknya, petunjuk ilmunya, gaya bahasanya, dan susunannya. Sebagai tantangan kepada mereka, Allah menyuruh Nabi Muhammad saw untuk mengatakan kepada mereka agar mereka mengajak siapa saja yang dipandang mampu selain Allah, untuk membuktikan apa yang mereka ucapkan itu.
Firman Allah:
Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Quran ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.” (al-Isra/17: 88).
Hal yang bisa ditadaburi dari quran yunus ayat 38, Ajakan untuk berpikir kritis dan berpikir logis, Allah tidak melarang manusia berpikir, bahkan memberikan tantangan rasional agar manusia menyelidiki kebenaran Al-Qur’an dengan akal yang jujur.
Ayat ini juga menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan karangan manusia, karena tidak ada yang mampu menandingi keindahan, kedalaman makna, dan kebenarannya meskipun hanya satu surah.
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, pernah ada seorang tokoh musyrik Quraisy yang mencoba menandingi Al-Qur’an dengan membuat semacam “surah tandingan.” Salah satu yang terkenal adalah surah yang disebut-sebut berjudul “Surat al-Fil wa al-Dhafda’” (Surat Gajah dan Katak), atau kadang hanya dikenal dengan “Surat ad-Dhafda’” (Surat Katak). Tokoh yang membuatnya adalah Musailamah al-Kazzab, seorang nabi palsu dari Yamamah.
Musailamah adalah seorang pendusta yang mengaku sebagai nabi pada masa Rasulullah masih hidup. Ia berasal dari Bani Hanifah di wilayah Yamamah (sekarang termasuk wilayah Arab Saudi). Ia dikenal luas karena membuat ayat-ayat palsu yang meniru gaya Al-Qur’an, tapi isinya sangat dangkal dan konyol.
Contoh “surat” buatan Musailamah (Surat Katak):
“Ya dhafda’, binti dhafda’, naqqi maa tnaqqin, a’laiki al-ma’ wa laka al-ma’, wa fi batniki al-ma’, wa fouqaiki al-ma’, wa tahtaki al-ma’, fa ma a’shadda sabraki ‘ala al-ma’!”
“Wahai katak, anak katak, bersuara sesukamu! Air ada padamu, untukmu, dalam perutmu, di atasmu, dan di bawahmu. Alangkah sabarnya engkau terhadap air!”
“Surat” ini menjadi bahan tertawaan karena isinya dangkal dan tak bermakna dalam. Musailamah mencoba meniru gaya linguistik Al-Qur’an (dengan ritme dan rima), tetapi tidak memiliki kedalaman makna, keindahan bahasa, atau hikmah sebagaimana ayat-ayat Al-Qur’an.
Hikmah dari peristiwa ini:
- Mukjizat Al-Qur’an bukan hanya dari sisi isinya, tapi juga keindahan bahasa dan struktur sastra yang tak tertandingi.
- Upaya menandingi Al-Qur’an sudah pernah terjadi sejak awal, tapi semuanya gagal total dan mempermalukan si pembuatnya sendiri.
- Allah menjaga kemurnian Al-Qur’an dengan cara menunjukkan betapa mustahilnya manusia membuat yang serupa.
Doa yang memohon keteguhan iman terhadap kebenaran Al-Qur’an, perlindungan dari keraguan, dan kemampuan untuk memahami serta mengamalkan isi Al-Qur’an;
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى الْإِيمَانِ، وَارْزُقْنِي فَهْمَ كِتَابِكَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُؤْمِنِينَ بِهِ غَيْرَ شَاكِّينَ، وَاحْفَظْنِي مِنْ كُلِّ رَيْبٍ وَضَلَالٍ.
Allāhumma tsabbit qalbī ‘alal-īmān, warzuqnī fahma kitābik, waj‘alnī minal-mu’minīna bihī ghayra shākkīn, waḥfaẓnī min kulli raybin wa ḍalālin.
“Ya Allah, teguhkanlah hatiku di atas keimanan, anugerahkanlah kepadaku pemahaman terhadap kitab-Mu, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang beriman kepadanya tanpa keraguan, dan lindungilah aku dari segala keraguan dan kesesatan.”