Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَمَا مِنْ دَآ بَّةٍ فِى الْاَ رْضِ وَلَا طٰٓئِرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَا حَيْهِ اِلَّاۤ اُمَمٌ اَمْثَا لُـكُمْ ۗ مَا فَرَّطْنَا فِى الْـكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ
“Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 38)
Semua sudah diatur oleh Allah SWT
Keyakinan bahwa semua sudah diatur Allah, berkorelasi positif dengan rasa tawakal kita kepada Allah SWT.
Hadits Tawakal Seperti Burung Menurut Imam Ahmad dan Ghazali. Rasulullah SAW mengibaratkan tawakal seperti perilaku burung.
Sungguh seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezekinya burung-burung. Mereka berangkat pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang” (HR Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan Al-Mubarak dari Umar bin Khathab).
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang-orang yang bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya akan dicukupkan rezekinya oleh Allah sebagaimana Dia mencukupi rezeki burung-burung. Betapa tidak, Allah adalah Dzat Yang Mahahidup, dan Yang tidak pernah mati.
Karena itu, barangsiapa bertawakal kepada-Nya, niscaya Allah SWT akan mencukupi segala kebutuhannya.
وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بَا لِغُ اَمْرِهٖ ۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Talaq 65: Ayat 3)
Tawakal terambil dari kata wakala-yakilu yang berarti mewakilkan, dan dari kata ini terbentuk kata wakil. Kata wakil bisa diartikan dengan “pelindung”.
: وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ
“ Dan Dia (Allah) atas segala sesuatu menjadi wakil (QS Al-An’am: 102).
وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًا “
“Dan cukuplah Allah sebagai wakil (QS An-Nisa: 81).
Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa menjadikan Allah sebagai wakil, berarti menyerahkan kepada-Nya segala persoalan (Shihab: 2000: 124).
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin mendefinisikan tawakal sebagai “penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ditawakali) semata. Sedangkan menurut Allamah Al-Manawi tawakal adalah “menampakkan kelemahan serata penyandaran (diri) kepada yang ditawakali”.
Apakah tawakal identik dengan sikap pasif dan apatis? Dalam Alquran perintah bertawakal terulang sebanyak sebelas kali; sembilan berbentuk tunggal dan dua berbentuk jamak. Kesemuanya selalu awali perintah melakukan sesuatu. Sebagai contoh:
وَإِن جَنَحُوا۟ لِلسَّلْمِ فَٱجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ “
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kamu kepadanya dan bertawakallah kepada Allah.” (QS Al-Anfal: 61).
Dari sana jelaslah bahwa tawakal tidak identik dengan sikap pasif. Karena itu, tidak disebut tawakal orang yang pasrah kepada Allah tanpa mau berusaha. Tidak disebut tawakal pula orang yang menginginkan sesuatu tapi tidak mau mengerahkan potensi yang dimilikinya untuk meraih apa yang diinginkannya tersebut. Tawakal adalah urusan hati. Ia hadir setelah badan dan pikiran dioptimalkan terlebih dahulu.
Rasulullah SAW menyerupakan orang yang bertawakal dan diberi rezeki itu dengan burung yang pergi dipagi hari untuk mencari rezeki dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang. Kita tahu bahwa burung tidak memiliki sandaran apapun, baik perdagangan, pertanian, dan lainnya. Ia keluar dari sarang dengan bekal tawakal kepada Allah SWT yang kepada-Nya ia bergantung.
Tentang hal ini, Imam Ahmad memberikan komentar: “Tidak ada isyarat yang membolehkan kita untuk meninggalkan usaha. Sebaliknya, di dalam hadits ini terdapat isyarat tentang perlunya kita bergerak mencari rezeki. Jadi maksud hadits di atas, bahwa seandainya manusia bertawakal kepada Allah dalam kepergian, kedatangan, dan usaha mereka, dan mereka mengetahui kebaikan (rezeki) itu ditangan-Nya, tentu mereka tidak akan pulang kecuali dalam keadaan mendapatkan harta dengan selamat, sebagaimana burung-burung tersebut” (Fadhl Ilahi, 2000: 37-38).
Imam Ahmad pun pernah ditanya tentang “status” seseorang yang kerjanya hanya beribadah dan duduk di rumah atau mesjid sambil berkata, “Aku tidak mau bekerja, sampai rezekiku datang sendiri”. Ia mengatakan, “Orang tersebut adalah orang malas dan tak mengenal ilmu.
Semoga kita termasuk orang yang bertawakal menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT tentunya setelah berusaha semaksimal mungkin.