Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
لَا شَرِ يْكَ لَهٗ ۚ وَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَ نَاۡ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ
“tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama berserah diri (muslim).” (QS. Al-An’am 6: Ayat 163)
Salatnya, ibadahnya, serta semua pekerjaan yang dilakukannya, hidup dan matinya adalah semata-mata untuk Allah yang tiada sekutu bagi-Nya.
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; menjelaskan dalam ayat ini, Nabi Muhammad diperintahkan agar mengatakan bahwa sesungguhnya salatnya, ibadahnya, serta semua pekerjaan yang dilakukannya, hidup dan matinya adalah semata-mata untuk Allah Tuhan semesta alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Itulah yang diperintahkan kepadanya. Rasul adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah dalam mengikuti dan mematuhi semua perintah dan larangan-Nya. Dua ayat ini (162 & 163) mengandung ajaran Allah kepada Muhammad, yang harus disampaikan kepada umatnya, bagaimana seharusnya hidup dan kehidupan seorang muslim di dalam dunia ini.
Semua pekerjaan salat dan ibadah lainnya harus dilaksanakan dengan tekun sepenuh hati karena Allah, ikhlas tanpa pamrih. Seorang muslim harus yakin kepada kodrat dan iradat Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah-lah yang menentukan hidup mati seseorang. Oleh karena itu seorang muslim tidak perlu takut mati dalam berjihad di jalan Allah dan tidak perlu takut hilang kedudukan dalam menyampaikan dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar. Ayat ini selalu dibaca dalam salat sesudah takbiratul ihram sebagai doa iftitah.
Semua aktivitas kehidupan kita dihubungkan dengan Allah atau agama Islam, kalau tidak…itulah yang disebut sekuler.
“Sekuler” merujuk pada pandangan atau pendekatan yang terkait dengan dunia atau kehidupan yang tidak memiliki unsur agama. Sebuah masyarakat atau pemerintahan yang bersifat sekuler berusaha untuk memisahkan urusan agama dari urusan dunia atau negara. Dalam konteks ini, keputusan politik, hukum, dan kebijakan biasanya dibuat tanpa campur tangan agama. Sekularisme sering kali menekankan pemisahan antara agama dan urusan publik atau pemerintahan.
Indonesia masyarakatnya mayoritas Islam, tapi menerapkan syareat Islam saja seperti anti, ini masalah iman, tidak punya keyakinan bahwa syareat islam lebih baik dari syareat yang dibuat oleh manusia. Iman itu pemberian Allah Swt dalam bentuk hidayah yang condong baik dengan syariat Allah.
Taufik Allah itu belum tentu ada jika malas ibadah dan taat kepada Allah menuju ke arah jalan iman.
“Iman itu membenarkan, percaya dan condong hati kepada Allah. Tapi dalam kehidupan kita, iman itu belum terlihat. Karena iman hati sesuai kata dan perbuatan. Yang terlihat justru, iman pada mulut saja, tapi sekuler pada perbuatan. Iman masih sebatas di masjid dan tempat ibadah, dan tidak ada di kantor maupun tempat kerja sehingga terjadi penyimpangan dimana-mana,”.
Sehingga sangat wajar ketika ada seorang ulama Mesir mengatakan, “Saya tidak melihat nilai-nilai yang diajarkan Islam di Indonesia, padahal banyak muslim. Sebaliknya, saya tidak melihat muslim di Eropa tapi disana banyak terlihat nilai-nilai Islam”.
Doa yang dapat dibaca agar dijauhkan dari sikap pamer, bohong, dan munafik;
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ النِّفَاقِ وَعَمَلِي مِنَ الرِّيَاءِ وَ لِسَانِي مِنَ الْكَذِبِ وَعَيْنِي مِنَ الْخِيَانَةِ إِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الأَعْيُنِ وَمَا تُخْفى الصُّدُوْرِ
Allaahumma thohhir qolbii minan nifaaaqi wa ‘amalii minar riyaa-I wa lisaanii minal kadzibi wa ‘ainii minal khiyaanati innaka ta’lamu khoo-inatal a’yuni wa maa tukhfish shuduur.
“Ya Allah, sucikanlah hatiku dari kemunafikan, amal perbuatanku dari pamer, lidah dan ucapanku dari kebohongan, dan sucikan mataku dari khianat. Sesungguhnya, Engkau mengetahui pandangan mata yang khianat dan mengetahui apa saja yang tersembungyi dalam hati.”