Allah SWT berfirman;
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اِنَّ الَّذِيْنَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَتُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ
“Sungguh, orang-orang yang telah dipastikan mendapat ketetapan Tuhanmu, tidaklah akan beriman,” (QS. Yunus 10: Ayat 96)
Hidayah adalah hak prerogatif Allah
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menerangkan bahwa bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah berlaku ketetapan-ketetapan Allah, yaitu mengazab mereka dengan azab yang pedih di akhirat nanti. Iman mereka tidak dapat diharapkan lagi, karena hati mereka telah tertutup dan terkunci mati, tidak bisa menerima petunjuk Ilahi, sehingga mereka tetap dalam kekafiran dan perbuatan dosa.
Tadabbur (Perenungan) dari Yunus 96:
1.Hidayah adalah hak prerogatif Allah
•Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Ketika hati telah dikunci karena kekufuran dan kedurhakaan yang terus-menerus, maka hidayah bisa dicabut sebagai bentuk keadilan dan ketetapan Allah.
2.Peringatan pentingnya mensyukuri nikmat iman
•Ayat ini menjadi peringatan bagi orang-orang beriman untuk menjaga keimanan mereka dan tidak meremehkan dosa, karena kekufuran yang terus-menerus bisa menyebabkan hati tertutup dari kebenaran.
3.Bahwa bukan karena kurangnya bukti, tetapi karena hati yang membangkang
•Dalam konteks ayat-ayat sebelumnya, banyak tanda-tanda dan mukjizat telah diberikan, namun tetap saja ada yang tidak beriman. Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan kurangnya dalil, tapi kerasnya hati.
4.Ada konsekuensi dari pilihan manusia
•Ketetapan Allah tidak datang begitu saja, tapi sebagai akibat dari penolakan terus-menerus terhadap kebenaran. Maka ayat ini memperingatkan tentang pentingnya menerima kebenaran ketika ia datang.
5.Mengajarkan rasa takut yang sehat terhadap kesesatan
•Ayat ini mendorong muhasabah (introspeksi diri), agar kita senantiasa berdoa untuk diberikan keteguhan iman dan dijauhkan dari penyakit hati yang bisa menjauhkan dari hidayah.
Doa untuk mendapatkan hidayah;
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّا بُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 8)