Syirik demi Dunia: Jalan Menuju Azab

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَجَعَلُوْا  لِلّٰهِ  اَنْدَا دًا  لِّيُـضِلُّوْا  عَنْ  سَبِيْلِهٖ  ۗ قُلْ  تَمَتَّعُوْا  فَاِ نَّ  مَصِيْرَكُمْ  اِلَى  النَّا رِ

“Dan mereka (orang kafir) itu telah menjadikan tandingan bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah (Muhammad), Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ke neraka.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 30)

Menyekutukan Allah demi kesenangan dunia hanya menyesatkan dan berujung azab

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI bahwa ayat ini menerangkan tindakan kedua dan ketiga yang menyebabkan Allah menimpakan azab yang pedih kepada mereka. Sebab yang kedua ialah tindakan mempersekutukan Allah. Termasuk dalam tindakan ini ialah:

  1. Mengakui Tuhan itu banyak.
  2. Menyembah yang lain di samping menyembah Allah.
  3. Mengakui sesuatu selain Allah mempunyai kekuatan dan kekuasaan seperti kekuatan dan kekuasaan Allah SWT.

Mempersekutukan Allah ini adalah kepercayaan orang-orang Arab Jahiliah. Mereka mempunyai sesembahan selain Allah. Sesembahan itu ada yang berupa patung-patung yang mereka buat, di antaranya ada yang mereka letakkan di sekeliling Kabah. Mereka percaya kepada tenung dan ramalan nasib. Jika mereka ingin melakukan sesuatu pekerjaan yang penting atau perjalanan yang jauh, mereka pergi ke Kabah dan menyuruh penjaganya mengadakan undian. Hasil undian inilah yang menentukan apakah mereka akan melakukan pekerjaan atau perjalanan jauh itu atau tidak.

Sebab yang ketiga ialah orang-orang kafir itu berusaha menyesatkan manusia dari jalan Allah. Mereka menghalang-halangi, bahkan membunuh orang-orang yang melakukan pekerjaan atau mengikuti agama Islam.

Ketiga macam perbuatan di atas adalah perbuatan dosa besar. Oleh karena itu, Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad agar menyampaikan peringatan keras-Nya kepada manusia. Jika mereka tetap ingkar, biarkan mereka berbuat sesuka hatinya, bersenang-senang, dan berbuat kebinasaan di muka bumi dalam waktu tertentu, sampai Allah menimpakan azab yang keras kepada mereka.

Hal ini ditegaskan oleh firman Allah SWT: Katakanlah, “Bersenang-senanglah kamu dengan kekafiranmu itu untuk sementara waktu. Sungguh, kamu termasuk penghuni neraka. (az-Zumar/39: 8).

Akalnya sudah hilang, membuat tandingan yang tidak sepadan dengan Allah. Berhala yang tidak memberikan manfaat dan mudharat disembah, itulah gambaran betapa jauhnya manusia bisa tersesat ketika hati tidak lagi dipandu wahyu.

Tadabur dari Surah Ibrahim ayat 30 mengajak kita merenung bahwa kesyirikan bukan sekadar menyembah patung atau berhala, tetapi juga setiap bentuk pengagungan kepada selain Allah yang menggeser posisi-Nya dalam hati. Ketika manusia menjadikan sesuatu sebagai tandingan Allah, baik kekuasaan, harta, jabatan, bahkan manusia maka ia sedang membuka pintu kesesatan, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga bagi orang lain yang mengikutinya. Inilah yang disebut dalam ayat tersebut: mereka tidak hanya sesat, tetapi juga menyesatkan dari jalan Allah.

Lebih dalam lagi, ayat ini menunjukkan ironi besar: sesuatu yang tidak mampu memberi manfaat maupun menolak mudharat justru diikuti dan diagungkan, sementara Allah yang Maha Memberi dan Maha Melindungi ditinggalkan. Ini bukan sekadar kesalahan logika, tetapi kerusakan hati yang serius.

Pada akhirnya, Allah mengingatkan bahwa kenikmatan yang mereka kejar hanyalah sementara. Dunia boleh tampak indah, tetapi jika dibangun di atas kesyirikan dan kesesatan, ujungnya adalah penyesalan dan azab. Maka, tadabur ayat ini menuntun kita untuk terus memurnikan tauhid, menjaga hati dari “tandingan-tandingan modern”, dan memastikan bahwa hanya Allah satu-satunya yang kita agungkan, cintai, dan jadikan tujuan hidup.

Doa memohon agar hati tetap murni hanya untuk Allah:

اللَّهُمَّ اجْعَلْكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، وَاجْعَلْ خَشْيَتَكَ أَعْظَمَ فِي قَلْبِي مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، وَاصْرِفْ عَنِّي كُلَّ مَا يُنَافِسُكَ فِي مَحَبَّتِي وَطَاعَتِي.

Allahumma, jadikan Engkau yang paling aku cintai melebihi segala sesuatu, jadikan rasa takutku kepada-Mu yang paling besar dalam hatiku, dan palingkan dariku segala sesuatu yang menyaingi-Mu dalam cintaku dan ketaatanku.