Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
رَبَّنَاۤ اِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِيْ وَمَا نُعْلِنُ ۗ وَمَا يَخْفٰى عَلَى اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍ فِى الْاَ رْضِ وَلَا فِى السَّمَآءِ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tampakkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 38)
Allah Maha Mengetahui, yang tersembunyi dan yang nyata, maka luruskan niat dan sandarkan segalanya hanya kepada-Nya
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI: Selanjutnya Nabi Ibrahim berdoa, “Wahai Tuhan kami, sesungguh-nya Engkau mengetahui segala yang tersimpan dalam hati kami termasuk di dalamnya segala yang tersirat dan tergores dalam hati kami. Engkau mengetahui pula segala yang kami ucapkan dan nyatakan termasuk di dalamnya doa-doa yang telah kami panjatkan kepada Engkau. Tidak ada sesuatupun yang tidak Engkau ketahui segala yang ada di bumi maupun di langit, karena semua itu hanya Engkaulah yang menciptakan, memiliki, dan mengaturnya, perkenankanlah doa kami, Ya Tuhan kami.”
Ayat ini mengajarkan kepada kaum Muslimin cara-cara berdoa yang baik sesuai dengan ketentuan agama, yaitu berdoa dengan hati yang bersih, penuh keyakinan akan kebesaran dan kekuasaan Allah, dan isi doa itu melukiskan keinginan untuk menyempurnakan penghambaan diri kepada Tuhan, bukan untuk mencapai sesuatu cita-cita untuk kepentingan dan kesenangan diri dan merugikan orang lain.
Doa yang dimohonkan Nabi Ibrahim itu ditujukan agar Tuhan menjadikannya dan anak cucunya hamba Allah yang taat, dan agar anak cucunya itu diberi rezeki, sehingga dengan rezeki itu mereka dapat menyempurnakan penghambaan dirinya kepada Allah. Dengan rezeki itu pula, mereka dapat membela dan mengembangkan agama Allah serta menjadi pelayan dan khadam Kabah, rumah Allah.
Tadabbur dari QS. Ibrahim ayat 38;
1. Allah mengetahui sebelum kita meminta
Tidak ada yang tersembunyi, bahkan yang belum terucap. Ini mengajarkan bahwa doa bukan sekadar “memberi tahu”, tapi bentuk penghambaan dan ketundukan.
2. Kejujuran hati lebih penting dari panjangnya doa
Karena Allah tahu isi hati, maka yang utama adalah ketulusan, bukan kata-kata yang indah atau panjang.
3. Doa adalah cermin tauhid
Nabi Ibrahim memulai dengan pengakuan ilmu Allah yang sempurna. Ini menunjukkan bahwa doa terbaik diawali dengan pengagungan kepada-Nya.
4. Fokus doa: ibadah, bukan sekadar dunia
Permohonan Nabi Ibrahim bukan untuk kesenangan pribadi, tapi agar dirinya dan keturunannya menjadi hamba yang taat. Dunia (rezeki) hanya sebagai sarana ibadah.
5. Kesadaran total akan kekuasaan Allah
Karena Allah mengetahui segala yang di langit dan di bumi, maka hanya kepada-Nya tempat bergantung bukan kepada makhluk.
“Allah Maha Mengetahui, maka berdoalah dengan hati yang jujur, bertauhid kuat, dan tujuan hidup yang terarah pada ketaatan, bukan sekadar kepentingan dunia.”
Allah Maha Mengetahui, apa yang menjadi fokus kita; maka jaga hati tetap bersih, luruskan niat, jauhi prasangka buruk, dan isi batin dengan keyakinan serta husnuzan kepada-Nya,karena dari situlah doa dan amal mendapatkan nilai di sisi-Nya
Doa untuk meluruskan niat ;
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، فَإِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
“Ya Allah, bersihkan hati kami dari kemunafikan, amal kami dari riya’, lisan kami dari dusta, dan pandangan kami dari khianat. Sesungguhnya Engkau mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang tersembunyi di dalam dada.”

