أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
هُوَ الَّذِيْ يُسَيِّرُكُمْ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ ۗ حَتّٰۤى اِذَا كُنْتُمْ فِى الْفُلْكِ ۚ وَ جَرَ يْنَ بِهِمْ بِرِ يْحٍ طَيِّبَةٍ وَّفَرِحُوْا بِهَا جَآءَتْهَا رِ يْحٌ عَا صِفٌ وَّجَآءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَا نٍ وَّظَنُّوْۤا اَنَّهُمْ اُحِيْطَ بِهِمْ ۙ دَعَوُا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ ۙ لَئِنْ اَنْجَيْتَـنَا مِنْ هٰذِهٖ لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الشّٰكِرِ يْنَ
“Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan (dan berlayar) di lautan. Sehingga ketika kamu berada di dalam kapal, dan meluncurlah (kapal) itu membawa mereka (orang-orang yang ada di dalamnya) dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya; tiba-tiba datanglah badai dan gelombang menimpanya dari segenap penjuru, dan mereka mengira telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa dengan tulus ikhlas kepada Allah semata (seraya berkata), Sekiranya Engkau menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, pasti kami termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Yunus 10: Ayat 22)
Manusia sering berdoa dengan tulus kepada Allah saat dalam bahaya, tetapi setelah diselamatkan, mereka kembali berbuat zalim dan melupakan-Nya
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini, Allah menunjukkan kemampuan, kekuasaan, dan anugerah-Nya kepada manusia seraya berfirman, “Dialah Allah yang telah memberikan kepadamu (manusia) kesanggupan berjalan di darat, berlayar di lautan, dan terbang di udara dengan memberikan kepadamu kesempatan untuk mempergunakan beraneka macam sarana seperti bintang, kapal, dan sebagainya. Dengan alat angkutan tersebut kamu dapat mencapai berbagai keinginanmu dan untuk bersenang-senang.”
Dengan kesanggupan dan kemampuan yang diberikan-Nya itu, manusia diuji dan dicoba oleh Allah, sehingga nampak jelas watak dan tabiatnya, yang diibaratkan Allah sebagai berikut: dengan kesanggupan yang diberikan-Nya itu, manusia membuat sebuah bahtera yang dapat mengarungi samudera luas. Tatkala mereka telah berada dalam bahtera itu dan ia berlayar membawa mereka dengan bantuan hembusan angin yang baik dan ombak yang tenang, mereka pun bergembira. Tiba-tiba datanglah angin badai yang kencang dan ombak yang menghempas dari segenap penjuru, sehingga timbullah kecemasan dan ketakutan dalam hati mereka.
Mereka merasa tidak akan dapat lagi melihat matahari yang akan terbit pada esok harinya karena hempasan ombaknya yang dahsyat. Karena itu mereka pun berdoa kepada Allah seraya merendahkan diri dengan penuh keikhlasan, sambil menyesali perbuatan yang pernah mereka lakukan, agar Allah melepaskan mereka dari gulungan ombak yang maha dahsyat itu, mereka mengucapkan, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya jika engkau lepaskan kami dari malapetaka yang akan menimpa kami, tentulah kami menjadi orang-orang yang mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan.”
Manusia sering berdoa dengan tulus kepada Allah saat dalam bahaya, tetapi setelah diselamatkan, mereka kembali berbuat zalim dan melupakan-Nya.
Sifat dasar manusia cenderung lupa dan lalai ketika dalam keadaan aman serta nyaman. Beberapa alasan yang menyebabkan hal ini adalah:
- Rasa takut dan ketidakberdayaan saat dalam bahaya – Ketika menghadapi situasi sulit atau mengancam nyawa, manusia merasa tidak memiliki kendali sehingga secara naluriah mereka mencari pertolongan kepada Allah dengan penuh ketulusan.
- Kelalaian dan kesombongan setelah selamat – Setelah bahaya berlalu, banyak yang merasa aman dan kembali pada kebiasaan lamanya, bahkan lupa bersyukur dan mengakui bahwa keselamatan itu datang dari Allah.
- Cinta dunia yang berlebihan – Banyak orang lebih fokus pada urusan duniawi dan kesenangan sementara, sehingga setelah selamat mereka kembali sibuk dengan kehidupan dunia dan melupakan janji atau doa yang mereka panjatkan saat dalam kesulitan.
- Godaan setan dan hawa nafsu – Setan selalu berusaha membuat manusia lalai dan menjauh dari ketaatan. Setelah diselamatkan, setan membisikkan rasa percaya diri berlebihan dan mengalihkan perhatian manusia dari bersyukur kepada Allah.
- Kurangnya kesadaran dan keimanan yang kuat – Orang yang imannya lemah cenderung hanya mengingat Allah saat butuh, tetapi tidak membangun hubungan yang konsisten dengan-Nya dalam keadaan senang maupun susah.
Inilah sebabnya Al-Qur’an sering mengingatkan manusia agar selalu bersyukur dan tidak hanya ingat kepada Allah saat dalam kesulitan.
Doa agar tidak lalai dan selalu bersyukur kepada Allah:
1. Doa dari Al-Qur’an (Ibrahim: 7)
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika.”
“Ya Allah, bantulah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i)