Shalat Khauf dan Tata Caranya

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَاِ ذَا  كُنْتَ  فِيْهِمْ  فَاَ قَمْتَ  لَهُمُ  الصَّلٰوةَ  فَلْتَقُمْ  طَآئِفَةٌ  مِّنْهُمْ  مَّعَكَ  وَلْيَأْخُذُوْۤا  اَسْلِحَتَهُمْ   ۗ فَاِ ذَا  سَجَدُوْا  فَلْيَكُوْنُوْا  مِنْ  وَّرَآئِكُمْ   ۖ وَلْتَأْتِ  طَآئِفَةٌ  اُخْرٰ ى  لَمْ  يُصَلُّوْا  فَلْيُصَلُّوْا  مَعَكَ  وَلْيَأْخُذُوْا  حِذْرَهُمْ  وَاَ سْلِحَتَهُمْ   ۚ وَدَّ  الَّذِيْنَ  كَفَرُوْا  لَوْ  تَغْفُلُوْنَ  عَنْ  اَسْلِحَتِكُمْ  وَاَ مْتِعَتِكُمْ  فَيَمِيْلُوْنَ  عَلَيْكُمْ  مَّيْلَةً  وَّا حِدَةً   ۗ وَلَا  جُنَا حَ  عَلَيْكُمْ  اِنْ كَا نَ  بِكُمْ  اَ  ذًى  مِّنْ  مَّطَرٍ  اَوْ  كُنْـتُمْ  مَّرْضٰۤى  اَنْ  تَضَعُوْۤا  اَسْلِحَتَكُمْ   ۚ وَ  خُذُوْا  حِذْرَكُمْ   ۗ اِنَّ  اللّٰهَ  اَعَدَّ  لِلْكٰفِرِ يْنَ  عَذَا بًا  مُّهِيْنًا

“Dan apabila engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu engkau hendak melaksanakan sholat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (sholat) besertamu dan menyandang senjata mereka, kemudian apabila mereka (yang sholat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat) maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang lain yang belum sholat, lalu mereka sholat denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata mereka. Orang-orang kafir ingin agar kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu sekaligus. Dan tidak mengapa kamu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat suatu kesusahan karena hujan atau karena kamu sakit, dan bersiap siagalah kamu. Sungguh, Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 102).

Ayat sebelumnya rukhsah gugurnya kewajiban hijrah karena udzur (An Nisa 98 – 99) dan rukhsah shalat bisa di qasar (An Nisa 101).

Ayat 102, rukshah merubah tata cara sholat karena keadaan bahaya, sholat biasa disesuaikan dengan sholat khauf.

Shalat khauf adalah shalat fardhu yang dikerjakan apabila kaum muslimin sedang berada dalam keadaan perang, melawan musuh atau berjaga jaga dari serangan musuh.

Shalat khauf adalah shalat yang dikerjakan ketika berada dalam keadaan sangat menakutkan, genting, atau bahaya. Khauf sendiri secara bahasa artinya takut. Salah satu contoh keadaan menakutkan adalah peperangan, baik dalam perjalanan atau sedang bermukim.

“Shalat khauf banyak ragamnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukannya pada keadaan dan cara yang berbeda-beda. Masing-masing disesuaikan agar shalat terlaksana lebih baik dan lebih mendukung untuk pengawasan musuh. Sekalipun tata caranya berbeda, namun intinya tetap sama.” (HR. Muslim)
Berikut adalah tata cara shalat khauf yang dihimpun dari buku Tafsir al-Munir Jilid 3: Aqidah, Syariah, Manhaj (Juz 5-6 an-Nisaa’ – al-Maa’idah) oleh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili.

Pertama, Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat khauf satu raka’at bersama salah satu golongan, sementara golongan yang lain menghadap ke musuh. Kemudian golongan pertama berpaling dan menggantikan di tempat kawan-kawan mereka yang lain sambil menghadap ke arah musuh.

Setelah itu, datanglah golongan kedua lalu shalat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam satu raka’at. Lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam salam dan golongan kedua pun meneruskan satu raka’at, begitu juga dengan golongan yang pertama.”

Kedua, dari Sahl bin Abi Hatsmah Radhiyallahu anhu, ia menerangkan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami para sahabatnya pada waktu shalat khauf. Beliau membariskan mereka di belakangnya menjadi dua shaff. Kemudian beliau shalat satu raka’at bersama shaff yang dekat dengannya (shaff pertama).
Setelah itu, beliau berdiri dan terus berdiri hingga para Sahabat di shaff pertama merampungkan satu raka’at (yang tersisa secara sendiri-sendiri). Kemudian para Sahabat di shaff kedua maju, dan golongan yang berada di shaff pertama mundur ke belakang.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami mereka (yang awal mulanya berada di shaff kedua) lalu duduk (dan menunggu) hingga mereka merampungkan satu raka’at (yang tertinggal). Kemudian beliau salam (beserta mereka).”

Ketiga, Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu berkata, “Aku pernah shalat khauf bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau membariskan kami dalam dua shaff. Satu shaff di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sementara musuh berada di antara kami dan kiblat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir, lalu kami semua bertakbir. Ketika beliau ruku’, kami semua pun ruku’, kemudian bangkit dari ruku’, kami pun melakukannya besama-sama.

Kemudian beliau dan shaff terdepan menyungkur sujud. Sedangkan shaff terakhir tetap berdiri menghadap musuh. Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shaff terdepan selesai sujud lalu berdiri, shaff belakang pun sujud lalu berdiri. Kemudian shaff belakang maju ke depan dan shaff yang di depan mundur.

Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam rukuk, dan kami semua pun rukuk. Dan ketika bangkit dari rukuk, kami pun bangkit bersama-sama. Kemudian beliau dan shaff pertama yang sebelumnya pada raka’at pertama berada di belakang, menyungkur sujud. Sementara shaff kedua berdiri menghadap ke musuh.
Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shaff di belakang beliau selesai sujud, shaff belakang pun menyungkur sujud. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam salam, dan kemudian kami pun salam bersama-sama.

Semoga kedepan tidak akan pernah melaksanakan sholat khauf dan negara aman aman saja tidak harus menghadapi bahayanya orang kafir