Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan sholat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 40)
Shalat: Ibadah Para Nabi Sepanjang Zaman
Shalat bukanlah ibadah yang baru dikenal dalam Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Ia adalah ibadah agung yang telah menjadi syariat para nabi sejak zaman dahulu, sebagai bentuk penghambaan dan kedekatan kepada Allah.
Salah satu bukti kuatnya terdapat dalam firman Allah pada QS Ibrahim ayat 40, ketika Nabi Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat…”
Ayat ini bukan sekadar doa biasa. Ia mencerminkan bahwa: Shalat sudah menjadi syariat yang dijalankan Nabi Ibrahim. Bahkan beliau memohon agar keturunannya istiqamah dalam mendirikannya
Shalat dalam Kehidupan Nabi Ibrahim
Dalam tafsir Kementerian Agama RI dijelaskan bahwa doa Nabi Ibrahim ini merupakan bentuk:
- Rasa syukur atas nikmat Allah
- Ketundukan dan kepatuhan yang semakin dalam
- Kesadaran bahwa shalat adalah inti ibadah
Beliau tidak hanya meminta keturunannya sekadar shalat, tetapi: Menjaga rukun dan syaratnya serta menyempurnakan amalan sunnahnya, menjalankannya dengan khusyuk dan penuh penghambaan.
Ini menunjukkan bahwa sejak zaman Nabi Ibrahim, shalat sudah dipahami sebagai: Ibadah yang utuh, serius, dan penuh makna, bukan sekadar gerakan lahiriah.
Shalat sebagai Pembeda dan Pokok Ibadah. Shalat memiliki kedudukan yang sangat tinggi, pembeda antara mukmin dan kafir dan pokok dari seluruh ibadah
Orang yang menjaga shalat akan lebih mudah menjalankan ibadah lain dan lebih dekat dengan amal saleh. Sebaliknya, meninggalkan shalat menjadi tanda rapuhnya hubungan dengan Allah. Shalat Mensucikan Jiwa dan Mencegah Kemungkaran
Fungsi utama shalat ditegaskan dalam firman Allah: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar…” (QS Al-Ankabut: 45)
Shalat bukan hanya ritual, tetapi:
- Membersihkan jiwa dan hati
- Menjaga perilaku dan akhlak
- Menguatkan kesadaran akan pengawasan Allah
Karena dalam shalat, seorang hamba selalu mengingat Allah, dan itulah kekuatan terbesarnya.
Doa adalah Ibadah, Ibadah adalah Kedekatan. Dalam lanjutan tafsir, disebutkan bahwa Nabi Ibrahim juga memohon agar ibadahnya diterima. Ini menunjukkan bahwa: Keinginan beribadah lebih utama dari keinginan duniawi. Bahkan lebih diutamakan daripada mengikuti tekanan keluarga yang menyimpang
Hal ini sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad bahwa: “Doa itu adalah ibadah.” Artinya : Setiap doa adalah bentuk penghambaan dan setiap ibadah adalah bentuk komunikasi dengan Allah
Kesinambungan Syariat Shalat.
Dari penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa :
- Shalat telah disyariatkan sejak para nabi terdahulu
- Nabi Ibrahim adalah salah satu yang menegakkannya dengan kuat
- Syariat ini kemudian disempurnakan bentuknya pada masa Nabi Muhammad
Namun esensinya tetap sama:
Menghubungkan hamba dengan Tuhannya. Penutup: Menjaga Warisan Para Nabi. Shalat yang kita kerjakan hari ini bukan sekadar kewajiban, tetapi:
- Warisan para nabi
- Tanda keimanan
- Penjaga kehidupan spiritual
Jika Nabi Ibrahim saja berdoa agar keturunannya menjaga shalat, maka itu menjadi isyarat kuat bagi kita:
Shalat harus dijaga, bukan sekadar dikerjakan
Karena dari shalat lahir ketenangan, tumbuh ketaatan, dan terjaga arah hidup menuju Allah.
Doa agar anak keturunan mencintai dan menjaga sholat;
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang mendirikan sholat, dan (jadikan pula) sebagian dari keturunanku (demikian). Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (Quran Surah Ibrahim ayat 40)

