Setiap Manusia Didampingi Setan yang Membujuknya kepada Kedurhakaan

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَيَوْمَ  يَحْشُرُهُمْ  جَمِيْعًا  ۚ يٰمَعْشَرَ  الْجِنِّ  قَدِ  اسْتَكْثَرْتُمْ  مِّنَ  الْاِ نْسِ  ۚ وَقَا لَ  اَوْلِيٰۤـئُهُمْ  مِّنَ  الْاِ نْسِ  رَبَّنَا  اسْتَمْتَعَ  بَعْضُنَا  بِبَعْضٍ  وَّبَلَغْنَاۤ  اَجَلَـنَا  الَّذِيْۤ  اَجَّلْتَ  لَـنَا  ۗ قَا لَ  النَّا رُ  مَثْوٰٮكُمْ  خٰلِدِيْنَ  فِيْهَاۤ  اِلَّا  مَا  شَآءَ  اللّٰهُ  ۗ اِنَّ  رَبَّكَ  حَكِيْمٌ  عَلِيْمٌ

“Dan (ingatlah) pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka semua (dan Allah berfirman), Wahai golongan jin! Kamu telah banyak (menyesatkan) manusia. Dan kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, Ya Tuhan, kami telah saling mendapatkan kesenangan dan sekarang waktu yang telah Engkau tentukan buat kami telah datang. Allah berfirman, Nerakalah tempat kamu selama-lamanya, kecuali jika Allah menghendaki lain. Sungguh, Tuhanmu Maha Bijaksana, Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 128).

Setiap manusia senantiasa didampingi setan yang berusaha untuk membujuknya dengan bisikan yang mengajaknya kepada kefasikan dan kedurhakaan kepada Allah

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada hari Kiamat nanti, seluruh umat manusia dan jin akan dikumpulkan di Padang Mahsyar, lalu Allah berfirman kepada mereka untuk mencela perbuatan jin yang telah mempengaruhi manusia dan mengajak mereka kepada kesesatan, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kamu,dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Dan sungguh, ia (setan itu) telah menyesatkan sebagian besar di antara kamu. Maka apakah kamu tidak mengerti? (Yasin/36: 60-62)

Semua orang yang mengikuti ajaran jin dan setan akan dikumpulkan bersama-sama. Semua orang yang mukallaf akan dihimpun bersama para pengikutnya, baik dalam segi kebenaran maupun kejahatan. Lalu berkatalah orang-orang yang menjadi pengikut jin itu sebagai jawaban mereka kepada Allah, “Ya Tuhan kami, masing-masing di antara kami telah merasakan kenikmatan dari pihak lainnya. Jin-jin itu mendapatkan kenikmatan karena mereka telah berhasil menyesatkan kami dengan bujukan-bujukan dan mengikuti kehendak hawa nafsu, sebaliknya kamipun merasa senang mengikuti mereka dan mendengarkan bisikan-bisikan mereka. Kami merasa leluasa bergelimang kelezatan di dunia.”

Dalam ayat ini, Allah memberikan petunjuk bahwa setiap manusia senantiasa didampingi setan yang berusaha untuk membujuknya dengan bisikan yang mengajaknya kepada kefasikan dan kedurhakaan kepada Allah, sehingga ia tidak menyadari, bahwa hal itu adalah tipu daya dari setan tersebut. Makhluk halus itu selalu berusaha untuk menyesatkan manusia kepada lembah kebatilan dan kejahatan, sebagaimana kuman-kuman yang selalu berusaha untuk menimbulkan bermacam-macam penyakit dalam tubuh manusia atau hewan. Kuman-kuman itu mengetahui jalannya untuk memasuki tubuh manusia atau binatang dari lubang-lubang yang halus. Demikian pula setan mengetahui jalan untuk memasuki hati manusia, sehingga manusia jatuh ke lembah kesesatan tanpa disadarinya.

Apabila ada kuman yang berhasil menyelinap ke dalam tubuh manusia dan menyebabkan timbulnya penyakit, maka manusia yang lebih halus sifatnya, dapat dimasuki pengaruh makhluk-makhluk halus, yaitu jin dan setan, yang dapat menjerumuskan kepada penyakit-penyakit rohani manusia.

Orang-orang yang menjadi pengikut jin dan setan berkata, dengan penuh kesedihan dan penyesalan, “Ya Tuhan, kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami, setelah kami menerima kelezatan duniawi karena mengikuti ajakan jin dan setan dan kami telah mengakui dosa-dosa kami, maka kami berserah diri kepada-Mu untuk menerima hukuman-Mu yang seadil-adilnya.”

Perkataan mereka memperlihatkan penyesalan dan keterlanjuran mereka dalam mengikuti hawa nafsu dan sekarang mereka berserah diri kepada Allah yang mengetahui segala perbuatan mereka. Dalam ayat ini tidak disebutkan bagaimana jawaban jin dan alasan setan yang membawa mereka kepada kesesatan itu, tetapi dijelaskan dalam firman Allah yang lain yang menunjukkan bahwa setan, jin dan manusia yang menjadi korban hasutan mereka saling bertikai melepas tanggungjawab dan saling mengutuk satu sama lain:

“¦ kemudian pada hari Kiamat sebagian kamu akan saling mengingkari dan saling mengutuk; dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sama sekali tidak ada penolong bagimu.” (al-‘Ankabut/29: 25)

Sebagai jawaban atas keluhan mereka itu Allah berfirman, “Neraka itulah tempat kamu berdiam sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali Tuhan menghendaki yang lainnya.” Segala sesuatu berada di bawah kehendak dan pilihan-Nya, dan tidak ada yang mengetahui kehendak-Nya selain Dia sendiri. Dialah Tuhan Yang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui.

Ibnu ‘Abbas memahami ayat di atas, bahwa siapapun tidak patut turut campur dalam menentukan nasib seorang hamba Allah, apakah dia akan dimasukkan ke surga atau ke neraka. Semuanya berada di bawah kekuasaan dan kehendak Allah.

Hidup itu pilihan; mau menjadi hamba Allah atau hamba syetan. Apakah berkeinginan masuk surga atau masuk neraka.

Kenapa Allah SWT menciptakan setan ? Sehingga banyak manusia yang terjerumus ke dalam neraka. Apakah ada hikmah dibalik penciptaanya ?

Setan dilihat sebagai ujian bagi manusia. Allah memberikan manusia kebebasan berpilih antara kebaikan dan kejahatan, dan syetan dianggap sebagai penguji yang mencoba menggoda manusia agar melakukan perbuatan yang salah.

Dalam ujian hidup ini, manusia diberi akal dan kebebasan untuk memilih antara taat kepada Allah atau mengikuti godaan syetan. Pilihan ini menjadi dasar ujian keimanan dan kesetiaan manusia kepada Allah. Setan sendiri tidak memiliki kekuasaan untuk memaksa seseorang untuk berbuat dosa; manusia memiliki tanggung jawab penuh terhadap tindakan dan keputusan mereka.

Keyakinan pada takdir (qadar) juga menjadi faktor penting, dan segala sesuatu yang terjadi dianggap sebagai bagian dari kebijaksanaan dan rencana Allah yang lebih besar. Meskipun setan mencoba mempengaruhi manusia, akhirnya, setiap individu bertanggung jawab atas pilihannya sendiri di hadapan Allah pada hari kiamat.

Semoga kita diberi kekuatan untuk melawan bisikan setan dan melawan tipu daya setan.

Doa Dijauhkan dari godaan Setan.
Sering seringlah membaca ta’awudz….

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِِ

A’uudzubillaah himinas syaitoon nirrojiim

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”