Semua yang di Langit dan Bumi Berserah Diri kepada Allah SWT

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اَفَغَيْرَ  دِيْنِ  اللّٰهِ  يَبْغُوْنَ  وَلَهٗۤ  اَسْلَمَ  مَنْ  فِى  السَّمٰوٰتِ  وَا لْاَ رْضِ  طَوْعًا  وَّكَرْهًا  وَّاِلَيْهِ  يُرْجَعُوْنَ

“Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan?”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 83)

Yang ada di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya,

Semua para nabi berserah diri kepada Allah SWT.

قُوْلُوْۤا  اٰمَنَّا  بِا للّٰهِ  وَمَاۤ  اُنْزِلَ  اِلَيْنَا  وَمَاۤ  اُنْزِلَ  اِلٰۤى  اِبْرٰهٖمَ  وَاِ سْمٰعِيْلَ  وَاِ سْحٰقَ  وَيَعْقُوْبَ  وَ  الْاَ سْبَا طِ  وَمَاۤ  اُوْتِيَ  مُوْسٰى  وَعِيْسٰى  وَمَاۤ  اُوْتِيَ  النَّبِيُّوْنَ  مِنْ  رَّبِّهِمْ   ۚ لَا  نُفَرِّقُ  بَيْنَ  اَحَدٍ  مِّنْهُمْ   ۖ وَنَحْنُ  لَهٗ  مُسْلِمُوْنَ
“Katakanlah, Kami beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami berserah diri kepada-Nya.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 136)

قُلْ  اٰمَنَّا  بِا للّٰهِ  وَمَاۤ  اُنْزِلَ  عَلَيْنَا  وَمَاۤ  اُنْزِلَ  عَلٰۤى  اِبْرٰهِيْمَ  وَ  اِسْمٰعِيْلَ  وَاِ سْحٰقَ  وَيَعْقُوْبَ  وَا لْاَ سْبَا طِ  وَمَاۤ  اُوْتِيَ  مُوْسٰى  وَ  عِيْسٰى  وَا لنَّبِيُّوْنَ  مِنْ  رَّبِّهِمْ   ۖ لَا  نُفَرِّقُ  بَيْنَ  اَحَدٍ  مِّنْهُمْ   ۖ وَنَحْنُ  لَهٗ  مُسْلِمُوْنَ
“Katakanlah (Muhammad), Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 84)

اِنَّاۤ  اَنْزَلْنَا  التَّوْرٰٮةَ  فِيْهَا  هُدًى  وَّنُوْرٌ   ۚ يَحْكُمُ  بِهَا  النَّبِيُّوْنَ  الَّذِيْنَ  اَسْلَمُوْا  لِلَّذِيْنَ  هَا دُوْا  وَ  الرَّبَّا نِيُّوْنَ  وَا لْاَ حْبَا رُ  بِمَا  اسْتُحْفِظُوْا  مِنْ كِتٰبِ  اللّٰهِ  وَكَا نُوْا  عَلَيْهِ  شُهَدَآءَ   ۚ فَلَا  تَخْشَوُا  النَّا سَ  وَا خْشَوْنِ  وَلَا  تَشْتَرُوْا  بِاٰ يٰتِيْ  ثَمَنًا  قَلِيْلًا   ۗ وَمَنْ  لَّمْ  يَحْكُمْ  بِمَاۤ  اَنْزَلَ  اللّٰهُ  فَاُ ولٰٓئِكَ  هُمُ  الْكٰفِرُوْنَ
“Sungguh, Kami yang menurunkan Kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya. Yang dengan Kitab itu para nabi yang berserah diri kepada Allah memberi putusan atas perkara orang Yahudi, demikian juga para ulama dan pendeta-pendeta mereka, sebab mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga murah. Barang siapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 44)

Berserah diri kepada Allah atau biasa kita sebut tawakal.

Menyerahkan semua kehidupan kita hanya untuk Allah semata.

Berserah diri kepada Allah bukan berarti kita sepenuhnya pasrah dan tidak mau melakukan suatu hal yang mampu mengubah.

Pasrah, tawakal, berarti kita menerima semua keputusan terbaik dari Allah SWT untuk kita. Meskipun menurut kita tidak baik, tapi menurut Allah itulah yang terbaik untuk kehidupan kita.

Semoga kita hanya berserah diri kepada Allah dan terus bertawakal berusaha istiqomah dalam menghadapi semua permasalahan kehidupan di dunia ini.