Pikun Adalah Pengingat bahwa Ilmu dan Ingatan Merupakan Nikmat Allah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّاكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada usia yang sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahakuasa.” (QS An-Nahl [16]: 70)

Pikun Adalah Pengingat bahwa Ilmu dan Ingatan Merupakan Nikmat Allah

Angka 70 dalam surah An-Nahl mengingatkan kita pada ayat ke-70 yang berbicara tentang perjalanan usia manusia. Ayat ini bukan berarti bahwa pada usia 70 tahun seseorang pasti mengalami pikun. Namun, ayat tersebut mengingatkan bahwa manusia dapat mencapai usia lanjut ketika sebagian kemampuan yang dahulu dimilikinya mulai berkurang, termasuk kemampuan mengingat dan memahami.

Usia 70 tahun dapat menjadi momentum untuk melakukan introspeksi. Kita telah melewati perjalanan panjang kehidupan, memperoleh ilmu, mengumpulkan pengalaman, membangun keluarga, dan mungkin memberikan manfaat kepada banyak orang. Namun, seiring bertambahnya usia, kita perlu menyadari bahwa kemampuan fisik dan daya ingat tidak selalu tetap seperti ketika muda.

Penurunan daya ingat dapat terjadi secara bertahap pada sebagian orang seiring penuaan. Akan tetapi, pikun yang berat bukanlah sesuatu yang pasti dialami setiap orang lanjut usia. Jika gangguan ingatan semakin nyata atau mengganggu kehidupan sehari-hari, pemeriksaan medis tetap diperlukan.

Tiga Pelajaran dari QS An-Nahl Ayat 70

Pertama, kemampuan manusia memiliki batas.

Ketika muda, kita belajar, mengingat banyak hal, membangun karier, dan mengumpulkan pengalaman. Kita mungkin merasa mampu mengandalkan ilmu dan kecerdasan untuk menghadapi berbagai persoalan. Namun, ayat ini mengingatkan bahwa semua kemampuan tersebut memiliki batas. Manusia tidak selamanya kuat, tidak selamanya sehat, dan tidak selamanya mampu mengingat segala sesuatu.

Kesadaran ini seharusnya menjadikan kita lebih rendah hati, bukan takut berlebihan menghadapi usia tua.

Kedua, ilmu dan ingatan merupakan nikmat Allah.

Kita sering merasa bahwa ilmu, pengalaman, dan kecerdasan sepenuhnya merupakan hasil usaha sendiri. Padahal, kemampuan untuk belajar, memahami, dan mengingat juga merupakan karunia Allah yang patut disyukuri.

Karena itu, selama pikiran masih jernih dan ingatan masih terjaga, gunakanlah untuk menambah ilmu, memperbanyak amal saleh, menyampaikan kebaikan, dan mewariskan pengalaman yang bermanfaat kepada generasi berikutnya.

Jangan menunggu sampai kemampuan berkurang untuk menyadari betapa berharganya nikmat tersebut.

Ketiga, usia lanjut bukan berarti kehilangan kemuliaan.

Orang yang mengalami penurunan daya ingat tetap memiliki martabat yang harus dihormati. Mereka tidak boleh diremehkan, dipermalukan, atau dianggap tidak lagi berguna. Bagi keluarga, kondisi tersebut justru menjadi kesempatan untuk melatih kesabaran, kasih sayang, dan bakti.

Jika suatu saat kita sendiri mengalami penurunan kemampuan, semoga keluarga memperlakukan kita dengan penuh penghormatan. Dan jika orang tua kita mengalaminya, semoga kita mampu memberikan perhatian sebagaimana dahulu mereka merawat kita.

Menerima Sunatullah, Tetap Melakukan Ikhtiar

Memahami pikun sebagai bagian dari sunatullah bukan berarti kita menyerah tanpa usaha. Kita tetap berkewajiban menjaga tubuh dan pikiran sebagai amanah Allah.

Menjaga kesehatan melalui aktivitas fisik, tidur yang cukup, pola makan seimbang, hubungan sosial yang baik, serta kegiatan yang merangsang pikiran merupakan bagian dari ikhtiar. Mengendalikan faktor risiko penyakit dan memeriksakan gangguan ingatan yang memburuk juga merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Kita memang tidak dapat menjamin bahwa ingatan akan selalu terjaga sampai akhir hayat. Namun, kita dapat berusaha menjaga kesehatan, menggunakan ilmu untuk kebaikan, dan mempersiapkan diri menghadapi setiap tahap kehidupan dengan iman.

Sunatullah mengajarkan kita menerima keterbatasan, sedangkan ikhtiar mengajarkan kita menjaga amanah tubuh yang Allah berikan.

Ketika Ingatan Memudar, Jangan Biarkan Syukur Memudar

QS An-Nahl ayat 70 mengingatkan bahwa kehidupan manusia memiliki perjalanan: dari keadaan lemah, menjadi kuat, kemudian mungkin kembali lemah pada usia lanjut. Semua itu mengajak kita untuk tidak menyombongkan kemampuan yang dimiliki dan tidak melupakan Sang Pemberi nikmat.

Ketika usia membuat ingatan kita memudar, jangan biarkan kesadaran kita kepada Allah ikut memudar. Ilmu yang kita miliki, ingatan yang kita gunakan, dan usia yang kita jalani adalah nikmat sekaligus amanah dari Allah.

Kita tidak selalu mampu mempertahankan seluruh kemampuan, tetapi selama masih diberi kesempatan, kita dapat terus berikhtiar, memperbanyak syukur, menjaga hubungan dengan sesama, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.

Sebab, ukuran keberhasilan hidup bukan semata-mata seberapa banyak ilmu yang masih kita ingat, melainkan seberapa jauh ilmu dan nikmat yang Allah berikan telah kita gunakan untuk berbuat baik dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Doa memohon ilmu dan umur yang barokah;

اللَّهُمَّ احْفَظْ عَلَيَّ عَقْلِي وَذَاكِرَتِي، وَبَارِكْ لِي فِي عِلْمِي وَعُمُرِي، وَأَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَارْزُقْنِي حُسْنَ الْخَاتِمَةِ

Allāhumma ihfaẓ ‘alayya ‘aqlī wa dzākiratī, wa bārik lī fī ‘ilmī wa ‘umrī, wa a‘innī ‘alā dzikrika wa syukrika wa ḥusni ‘ibādatik, warzuqnī ḥusnal-khātimah.

“Ya Allah, jagalah akal dan ingatanku. Berkahilah ilmu dan umurku. Bantulah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya. Karuniakanlah kepadaku akhir kehidupan yang baik.”