أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اِنَّمَا مَثَلُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَآءٍ اَنْزَلْنٰهُ مِنَ السَّمَآءِ فَا خْتَلَطَ بِهٖ نَبَا تُ الْاَ رْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّا سُ وَا لْاَ نْعَا مُ ۗ حَتّٰۤى اِذَاۤ اَخَذَتِ الْاَ رْضُ زُخْرُفَهَا وَا زَّيَّنَتْ وَظَنَّ اَهْلُهَاۤ اَنَّهُمْ قٰدِرُوْنَ عَلَيْهَاۤ ۙ اَتٰٮهَاۤ اَمْرُنَا لَيْلًا اَوْ نَهَا رًا فَجَعَلْنٰهَا حَصِيْدًا كَاَ نْ لَّمْ تَغْنَ بِا لْاَ مْسِ ۗ كَذٰلِكَ نُـفَصِّلُ الْاٰ يٰتِ لِقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman Bumi dengan subur (karena air itu), di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila Bumi itu telah sempurna keindahannya, dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman)nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang yang berpikir.” (QS. Yunus 10: Ayat 24)
Perumpamaan kehidupan dunia yang sementara, seperti hujan yang menyuburkan tanaman tetapi kemudian layu dan musnah, menunjukkan bahwa segala sesuatu di dunia ini fana, sementara kehidupan akhiratlah yang kekal
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menerangkan sifat kehidupan dunia dan perumpamaan yang tepat ditinjau dari segi kefanaanya, seperti lenyapnya suatu harapan yang mulai timbul pada diri seseorang. Sifat dunia seperti ini diserupakan dengan air hujan yang diturunkan Allah dari langit. Dengan air itu tumbuhlah beraneka macam tanaman dan tumbuhan, yang beraneka rupa dan berlainan rasa yang menjadi makanan bagi manusia dan binatang. Lalu permukaan bumi ditutupi oleh keindahan pemandangan dari pohon-pohon yang menghijau, yang dihiasi oleh bunga dan buah-buahan yang beraneka warna.
Pada saat itu timbullah harapan dan cita-cita manusia yang mempunyai kebun itu, seandainya tumbuh-tumbuhan itu berbuah dan bisa dipetik. Di tengah harapan yang demikian, datanglah malapetaka yang memusnahkan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan itu, sehingga bumi yang berhiaskan pohon yang beraneka warna itu tiba-tiba menjadi datar dan rata seakan-akan belum pernah ditumbuhi apapun. Pada saat itu, sirnalah harapan dan cita-cita itu, sebagaimana kehidupan dan kesenangan duniawi yang dapat pula sirna seketika.
Kefanaan hidup di dunia itu ditegaskan oleh firman Allah:
Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain? (al-Araf/7: 97-98)
Sebagaimana Allah telah memberikan perumpamaan yang tepat dan jelas dalam melukiskan keadaan kehidupan dunia dan tertipunya manusia oleh kehidupan itu karena pengaruh setan dan mengikuti hawa nafsu, maka seperti itu pulalah jelas dan terangnya Allah menerangkan hakikat tauhid, pokok-pokok agama, budi pekerti yang baik dan amal-amal yang saleh yang harus dikerjakan dan dipatuhi. Hanya orang-orang yang mau menggunakan akal pikiran yang sehatlah yang dapat memahami perumpamaan dan penjelasan itu. Banyak manusia yang lalai dan ingkar karena merasa dirinya telah merasa cukup, merasa sanggup dan merasa berkuasa, sehingga lupa akan tujuan hidup dan kehidupan yang sebenarnya.
Manusia sering terkecoh dengan kehidupan yang fana, berusaha jungkir balik mencari yang fana dan belum pasti tapi melupakan kehidupan akhirat yang kekal abadi dan tidak mempersiapkannya menghadapi kehidupan akhirat.
Al-Qur’an sering mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh kehidupan dunia yang fana dan lebih mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat yang kekal. Banyak ayat selain QS Yunus ayat 24, Al Araf 97-98 yang menegaskan hal ini, di antaranya:
1. Surah Al-Hadid (57:20) “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Ibarat hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu mengering, lalu kamu melihatnya menjadi kuning, kemudian hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dan ridha dari Allah. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
2. Surah Al-Kahfi (18:103-104) “Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sementara mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.’”
3. Surah Al-Ankabut (29:64) “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.”
Ayat-ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara dan sering menipu manusia, sehingga mereka sibuk mengejar kesenangan dunia tetapi melupakan akhirat. Oleh karena itu, Islam mengajarkan keseimbangan—mencari rezeki di dunia, tetapi tidak melupakan akhirat sebagai tujuan utama.
“Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan utama kami, jangan jadikan dunia sebagai puncak ilmu kami, jangan jadikan neraka sebagai tempat kembali kami, dan jadikanlah surga sebagai tempat tinggal dan ketenangan kami.”