Pertolongan Alloh Tergantung Usaha Kita; Simak juga Manfaat Ikhtiar dan Tawakal

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

قَا لُـوْۤا  اُوْذِيْنَا  مِنْ  قَبْلِ  اَنْ  تَأْتِيَنَا  وَمِنْۢ  بَعْدِ  مَا  جِئْتَنَا  ۗ قَا لَ  عَسٰى  رَبُّكُمْ  اَنْ  يُّهْلِكَ  عَدُوَّكُمْ  وَيَسْتَخْلِفَكُمْ  فِى  الْاَ رْضِ  فَيَنْظُرَ  كَيْفَ  تَعْمَلُوْنَ

“Mereka (kaum Musa) berkata, Kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum engkau datang kepada kami dan setelah engkau datang. (Musa) menjawab, Mudah-mudahan Tuhanmu membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi; maka Dia akan melihat bagaimana perbuatanmu.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 129)

Pertolongan Allah tidaklah diberikan begitu saja, melainkan tergantung kepada usaha-usaha yang dilakukan.

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Bani Israil mengeluh kepada Musa a.s, bahwa nasib mereka sama saja, baik sebelum kedatangan Musa a.s, untuk menyeru mereka kepada agama Allah dan melepaskan mereka dari perbudakan Firaun maupun sesudahnya. Mereka merasa tidak mendapat faedah dari kedatangan Nabi Musa as itu. Dahulu mereka diazab dan diperbudak oleh Firaun, anak-anak mereka dibunuh, mereka disuruh kerja paksa, sekarang pun demikian. Keluhan ini menunjukkan kekerdilan jiwa dan kelemahan daya juang dan tidak adanya kesabaran pada mereka.

Mendengar keluhan ini, maka Nabi Musa berkata, “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuh kamu dan menjadikan kamu khalifah di bumi, maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu,” maksudnya: meskipun yang terjadi demikian akan tetapi harapan bahwa Allah akan membinasakan musuh-musuhmu, dan menjadikan kamu berkuasa di bagian bumi yang telah dijanjikan Tuhanmu harus tetap ada.

Di dalam ucapan kepada kaumnya, Nabi Musa as memakai ungkapan “mudah-mudahan.” Ia memakai ungkapan tersebut untuk tidak memastikan datangnya pertolongan dan rahmat Allah kepada mereka. Sebab andaikata ia menggunakan ungkapan yang memastikan, boleh jadi umatnya akan mengabaikan kewajiban-kewajiban yang perlu mereka lakukan untuk memperoleh pertolongan Allah, karena pertolongan Allah kepada hamba-Nya tidaklah diberikan begitu saja, melainkan tergantung kepada usaha-usaha yang dilakukan umat yang bersangkutan, misalnya kesungguhan, disiplin, persatuan, dan sebagainya…

Nabi Musa mempergunakan kata mudah mudahan, ini sesuatu yang tidak pasti dan harus ada usaha yang dilakukan. Kita hanya hanya berihtiar selanjutnya tawakal. Secara sederhana, arti ikhtiar dan tawakal jelas berbeda. Ikhtiar adalah usaha kita dalam mencapai suatu tujuan dengan mengharapkan ridho Allah SWT. Sedangkan tawakal adalah menyerahkan semua kepada Allah SWT dan pasrah terhadap hasil yang kita dapat nantinya.

Ikhtiar secara bahasa artinya memilih. Sedangkan bila dilihat secara istilah, ikhtiar adalah usaha seorang hamba untuk memperoleh apa yang dikehendakinya. Orang yang berikhtiar berarti dia memilih suatu pekerjaan kemudian dia melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh agar dapat berhasil dan sukses dengan ridho Allah SWT.

Tawakal atau tawakkul artinya adalah mewakilkan atau menyerahkan. Dalam ajaran Islam, tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.

Mengutip dari buku Mengobati Penyakit Hati, Meningkatkan Kualitas Diri, Mahi Ṣadr, 2003, berikut adalah beberapa manfaat dan ikhtiar:

  1. Kepuasan batin, karena telah berusaha dengan sekuat tenaga dan kemampuan yang dimiliki.
  2. Terhormat di hadapan Allah SWT dan sesama manusia.
  3. Dapat menjalankan hidup hemat karena merasakan susahnya bekerja.
  4. Tidak mudah berputus asa.
  5. Menghargai jerih payahnya dan jerih payah orang lain.
  6. Tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain.

Sedangkan di bawah ini adalah beberapa manfaat bila kita hidup dengan sifat tawakal:

  1. Mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat.
  2. Memperoleh kecukupan dari apa yang dibutuhkan.
  3. Tidak mudah dikuasai oleh setan.
  4. Setiap urusan akan terencana dengan baik dan matang.
  5. Akan selalu bersikap optimis dalam menjalani kehidupan.
  6. Sadar akan keagungan Allah SWT dan keterbatasan usaha manusia.

Namun, walaupun arti ikhtiar dan tawakal berbeda, sejatinya kedua hal ini harusnya seimbang adanya di dalam hidup para umat Muslim. Tidak bisa bila ikhtiar lebih banyak dilakukan daripada tawakal, begitupun sebaliknya. Tidak akan menjadi berkah bila hanya bertawakal saja tanpa berikhtiar. Keduanya harus selaras dan seimbang.

Setiap Muslim sepatutnya senantiasa berserah diri kepada Rabb seluruh alam. Untuk itu Muslim dapat berdoa agar hanya berserah diri kepada-Nya, terdapat doa yang sering dibaca oleh Nabi Muhammad ﷺ perihal berserah diri kepada Allah ﷻ.

Allaahumma laka aslamtu wa bika aamantu wa `alaika tawakkaltu wa ilayka anabtu wa bika khaashamtu. Allaahumma innii a`udzu bi-`izzatika laa ilaaha illaa Anta an tudhillanii. Anta-l Hayyu-lladzii laa yamuut, wa-l jinnu wa-l insu yamuutuun.”

Ya Allah! Hanya kepadaMu diriku berserah diri, hanya denganMu aku beriman, hanya kepadaMu aku bertawakal, hanya kepadaMu aku kembali, dan hanya denganMu aku membela diri. Ya Allah! Aku berlindung dengan keperkasaanMu, tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Engkau, agar jangan sampai Engkau menyesatkanku. Engkaulah Yang Mahahidup Yang tidak akan mati, sementara manusia dan jin pasti akan mati)