Perilaku orang Yahudi dan Nasrani, Menganggap Dirinya Suci

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اَلَمْ  تَرَ  اِلَى  الَّذِيْنَ  يُزَكُّوْنَ  اَنْفُسَهُمْ   ۗ بَلِ  اللّٰهُ  يُزَكِّيْ  مَنْ  يَّشَآءُ  وَلَا  يُظْلَمُوْنَ  فَتِيْلًا

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya suci (orang Yahudi dan Nasrani)? Sebenarnya Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki dan mereka tidak dizalimi sedikit pun.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 49).

Perilaku orang Yahudi dan Nasrani, menganggap dirinya suci justru durhaka

Tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H

Ini merupakan keheranan dari Allah kepada hamba-hambaNya dan suatu celaan bagi orang-orang yang menyucikan diri mereka dari kaum Yahudi dan Nasrani serta orang-orang yang sejalan dengan mereka, yaitu setiap orang yang menyucikan dirinya sendiri dengan suatu perkara yang tidak ada padanya ;

وَقَا لَتِ  الْيَهُوْدُ  وَا لنَّصٰرٰ ى  نَحْنُ  اَبْنٰٓ ؤُا  اللّٰهِ  وَاَ حِبَّآ ؤُهٗ   ۗ قُلْ  فَلِمَ  يُعَذِّبُكُمْ  بِذُنُوْبِكُمْ   ۗ بَلْ  اَنْـتُمْ  بَشَرٌ  مِّمَّنْ  خَلَقَ   ۗ يَغْفِرُ  لِمَنْ  يَّشَآءُ  وَيُعَذِّبُ  مَنْ  يَّشَآءُ   ۗ وَلِلّٰهِ  مُلْكُ  السَّمٰوٰتِ  وَا لْاَ رْضِ  وَمَا  بَيْنَهُمَا   ۖ وَاِ لَيْهِ  الْمَصِيْرُ
“Orang Yahudi dan Nasrani berkata, Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya. Katakanlah, Mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu? Tidak, kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang Dia ciptakan. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki. Dan milik Allah seluruh kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Dan kepada-Nya semua akan kembali.” (QS. Al-Ma’idah 5: 18)

Mereka juga berkata ;
وَقَا لُوْا  لَنْ  يَّدْخُلَ  الْجَـنَّةَ  اِلَّا  مَنْ كَا نَ  هُوْدًا  اَوْ  نَصٰرٰ ى   ۗ تِلْكَ  اَمَا نِيُّهُمْ   ۗ قُلْ  هَا تُوْا  بُرْهَا نَکُمْ  اِنْ  کُنْتُمْ  صٰدِقِيْنَ
“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani. Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 111)

Ini merupakan pengakuan kosong belaka yang tidak memiliki landasan apa pun, dan yang ada landasannya adalah apa yang telah Allah tegaskan dalam al-Quran dalam FirmanNya,
“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al-Baqarah:112).

Mereka itulah orang-orang yang Allah sucikan, oleh karena itulah Allah berfirman dalam ayat ini, “Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya” yaitu dengan iman dan amal shalih, dengan berlepas diri dari akhlak yang tercela dan menghiasi diri dengan akhlak yang luhur. Adapun mereka itu walaupun telah menyucikan diri atas dasar sangkaan mereka bahwa mereka berada pada suatu (derajat) dan bahwa pahala itu hanya milik mereka sendiri, maka sesungguhnya mereka hanyalah para pendusta, dan mereka tidak mendapatkan bagian sedikit pun dari pahala orang-orang yang suci, hal itu disebabkan oleh kezhaliman dan kekufuran mereka, dan bukannya kezhaliman dari Allah terhadap mereka, oleh karena itu Allah berfirman,

“Dan mereka tidak dianiaya sedikit pun,” hal ini untuk menegaskan keumuman (suatu perkara), artinya, mereka sedikit pun tidak dizhalimi, meski hanya seukuran biji yang ada pada belahan atom atau sesuatu yang dibuang dari kotoran tangan dan selainnya..

Perilaku Yahudi dan nasrani, merasa paling suci, merasa paling benar dan menganggap sebagai unat pilihan.

Jangan merasa paling suci, paling benar, tapi berusaha untuk terus mensucikan diri, menghindari dosa, karena Allah SWT menyukai orang yang mensucikan dirinya.

ۗ اِنَّ  اللّٰهَ  يُحِبُّ  التَّوَّا بِيْنَ  وَيُحِبُّ  الْمُتَطَهِّرِ يْنَ

“Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 222).

Semoga kita termasuk orang yang terus berusaha mensucikan diri bukan termasuk orang yang merasa paling suci.