Perilaku Buruk Pemimpin Ahli Kitab yang Menyimpang

 

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

يٰۤاَ يُّهَا  الَّذِيْنَ  اٰمَنُوْۤا  اِنَّ  كَثِيْرًا  مِّنَ  الْاَ حْبَا رِ  وَا لرُّهْبَا نِ  لَيَأْكُلُوْنَ  اَمْوَا لَ  النَّا سِ  بِا لْبَا طِلِ  وَيَصُدُّوْنَ  عَنْ  سَبِيْلِ  اللّٰهِ  ۗ وَا لَّذِيْنَ  يَكْنِزُوْنَ  الذَّهَبَ  وَا لْفِضَّةَ  وَلَا  يُنْفِقُوْنَهَا  فِيْ  سَبِيْلِ  اللّٰهِ  ۙ فَبَشِّرْهُمْ  بِعَذَا بٍ  اَلِيْمٍ

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya banyak dari orang-orang alim dan rahib-rahib mereka benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil, dan (mereka) menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih,” (QS. At-Taubah 9: Ayat 34)

Sesungguhnya banyak dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani;
– mendapatkan harta orang dengan jalan yang batil,
– suap-menyuap,
– meminta bayaran dalam proses penebusan dosa,
– riba,
– berbuat curang,
– mencuri,
– menganjurkan berinfak namun untuk kesejahteraan dirinya sendiri,
– menyimpan emas dan perak,
– menumpuk-numpuk harta,
– tidak menginfakkannya
– serakah dan kikir*

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Setelah ayat sebelumnya menerangkan tentang ketidaksukaan kaum musyrik dan Ahli Kitab terhadap tersebarnya Islam, maka ayat ini menginformasikan perilaku buruk sebagian pemimpin Ahli Kitab yang menyimpang. Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya banyak dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani mereka benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil, baik dengan jalan suap-menyuap, meminta bayaran dalam proses penebusan dosa, riba, berbuat curang, mencuri, termasuk menganjurkan berinfak namun untuk kesejahteraan dirinya sendiri, dan mereka juga menghalang-halangi manusia dari mengikuti jalan Allah, yakni agama Islam, melalui berbagai macam cara seperti menciptakan kebohongan terhadap Islam, menumbuhkan keraguan terhadap Al-Qur’an, dan mencela pribadi Rasulullah yang agung.

Padahal, kerusakan akhlak, pemikiran, dan akidah seorang tokoh atau pemimpin agama adalah sangat membahayakan bagi kehidupan umat manusia yang dipimpinnya. Dan di samping itu, mereka juga termasuk orang-orang yang suka menyimpan emas dan perak, yakni menumpuk-numpuk harta, dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, bahkan cenderung serakah dan kikir. Terhadap mereka itu, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, sebagai bentuk ejekan sekaligus celaan, bahwa mereka akan mendapat azab yang pedih di akhirat kelak

Perilaku buruk kaum musryrik banyak juga yang diikuti oleh kaum muslimim, apa bedanya kaum muslimin dengan kaum musyrikin kalau perilakunya sama ?

Perilaku buruk yang dulu sering dilakukan oleh kaum musyrik memang bisa saja diikuti oleh sebagian kaum Muslimin. Bedanya, meskipun perilakunya tampak sama, motivasi, keyakinan, dan pemahaman seseorang menentukan apakah ia masih dalam koridor Islam atau tidak.

Kaum musyrik melakukan keburukan berdasarkan keyakinan yang salah, seperti menyembah berhala, percaya kepada kekuatan selain Allah, atau melakukan syirik (menyekutukan Allah). Kaum Muslimin yang terjerumus dalam perilaku buruk biasanya karena kelemahan iman, nafsu, atau kebodohan, bukan karena keyakinan menyimpang. Selama mereka tetap mengimani Allah sebagai satu-satunya Tuhan, status keimanan mereka masih ada.

Dalam Islam, niat sangat penting. Dua orang bisa melakukan hal yang sama, tetapi niatnya berbeda. Seorang Muslim yang melakukan keburukan sadar bahwa itu salah, sehingga masih ada peluang untuk bertobat. Kaum musyrik tidak memiliki landasan ini karena keyakinan mereka sudah menyimpang.

Kaum musyrik: Perilaku buruk mereka sering kali membatalkan keimanan karena diiringi oleh syirik besar. Kaum Muslimin: Jika mereka melakukan keburukan tanpa syirik atau kufur, itu menjadi dosa yang bisa diampuni dengan taubat. Namun, jika keburukan itu sampai menafikan aqidah (misalnya menyembah selain Allah), mereka bisa keluar dari Islam.

Apa yang harus dilakukan supaya tidak berperilaku buruk seperti orang musyrik – – – -Tingkatkan pemahaman agama agar tidak terjebak perilaku musyrik.
– Jauhi segala bentuk syirik, bid’ah, dan kebiasaan buruk yang menyerupai kaum musyrik.
– Lakukan taubat nasuha jika terlanjur terjebak dalam perilaku buruk.
– Perkuat iman melalui amal saleh, ilmu, doa, dan mencari lingkungan yang baik.

Perilaku buruk memang bisa serupa, tetapi selagi hati dan aqidah tetap berpegang teguh kepada Allah, seorang Muslim masih punya kesempatan besar untuk memperbaiki diri.

“Ya Allah, lindungilah kami dari segala keburukan, jauhkanlah kami dari dosa-dosa, baik yang kecil maupun yang besar. Bukakanlah hati kami untuk selalu taat kepada-Mu, limpahkanlah rahmat dan ampunan-Mu kepada kami, serta bimbinglah kami ke jalan yang lurus menuju ridha-Mu. Jadikanlah kami hamba-Mu yang senantiasa bersyukur, bersabar, dan bertakwa. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan penjaga.”