Perbedaan Taubat Bani Israil dengan Umat Nabi Muhammad SAW

عُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَلَوْ  اَنَّا  كَتَبْنَا  عَلَيْهِمْ  اَنِ  اقْتُلُوْۤا  اَنْفُسَكُمْ  اَوِ  اخْرُجُوْا  مِنْ  دِيَا رِكُمْ  مَّا  فَعَلُوْهُ  اِلَّا  قَلِيْلٌ  مِّنْهُمْ   ۗ وَلَوْ  اَنَّهُمْ  فَعَلُوْا  مَا  يُوْعَظُوْنَ  بِهٖ  لَـكَا نَ  خَيْرًا  لَّهُمْ  وَاَ شَدَّ  تَثْبِيْتًا

“Dan sekalipun telah Kami perintahkan kepada mereka, Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu, ternyata mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sekiranya mereka benar-benar melaksanakan perintah yang diberikan, niscaya itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 66)

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

66. Dan jika Kami mewajibkan sebagian orang yang ingin bertaubat sebagaimana yang Kami perintahkan atas Bani Israil: “Sebaiknya kalian membunuh diri kalian,” yaitu supaya seseorang membunuh dirinya sendiri, atau agar mereka saling bunuh, atau Kami perintahkan mereka untuk meninggalkan tempat tinggal dan rumah mereka, maka tidak akan ada yang mengerjakan perintah itu kecuali hanya sedikit.

Dan jika mereka mengerjakan apa yang diminta kepada mereka, mau mengambil pelajaran dan pasrah, maka sungguh itu lebih baik bagi mereka baik di dunia maupun di akhirat, dan akan lebih menguatkan keyakinan, keimanan dan keteguhan langkah mereka untuk berjalan di atas kebenaran dan keimanan.

Ayat ini turun untuk menunjukkan keadaan orang-orang munafik tersebut, yaitu jika hal itu diwajibkan pada suatu umat, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Dan tidak ada yang mengerjakannya kecuali hanya sedikit orang yang benar-benar beriman seperti Tsabit bin Qays dan Ammar, dan Ibnu Mas’ud.

Bani Israil (Yahudi) bertobat dari dosa besar dengan cara bunuh diri…Ini harus dilihat di Taurat yang asli, apakah ada perintah untuk bertobat dengan cara buhuh diri, sebagai muslim percaya kalau Quran menyebutkan bertobatnya Yahudi dengan cara bunuh diri (kalau mengamalkan Taurat secara benar).

وَاِ ذْ  قَا لَ  مُوْسٰى  لِقَوْمِهٖ  يٰقَوْمِ  اِنَّكُمْ  ظَلَمْتُمْ  اَنْفُسَکُمْ  بِا تِّخَا ذِكُمُ  الْعِجْلَ  فَتُوْبُوْاۤ  اِلٰى  بَا رِئِكُمْ  فَا قْتُلُوْۤا  اَنْفُسَكُمْ   ۗ ذٰ  لِكُمْ  خَيْرٌ  لَّـكُمْ  عِنْدَ  بَا رِئِكُمْ   ۗ فَتَا بَ  عَلَيْكُمْ   ۗ اِنَّهٗ  هُوَ  التَّوَّا بُ  الرَّحِيْمُ

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, Wahai kaumku! Kamu benar-benar telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sesembahan), karena itu bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu. Itu lebih baik bagimu di sisi Penciptamu. Dia akan menerima tobatmu. Sungguh, Dia-lah Yang Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 54)

Tobatnya Bani Israil sungguh berat di mana mereka harus membunuh diri mereka dengan cara membunuh satu sama lain. Dalam tafsiran ulama lainnya disebutkan bahwa orang yang tidak menyembah pedet (anak sapi) akan membunuh orang yang menyembah anak sapi. Sedangkan taubatnya umat Muhammad dengan memenuhi syarat:

(1) ikhlas dalam taubat,

(2) menyesal,

(3) berhenti dari maksiat,

(4) bertekad tidak mengulangi maksiat tersebut di masa akan datang,

(5) bertaubat di waktu diterimanya taubat yaitu sebelum matahari terbit dari arah tenggelamnya dan sebelum nyawa sampai di kerongkongan.

Islam sudah disempurnakan berbuat dosa, bertaubat tidak dengan cara bunuh diri.

…يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ

“Wahai orang-orang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sesungguhnya…”.
(QS At Tahrim 8)
Taubat Nasuha adalah taubat yang dilakukan dengan penuh keikhlasan, kejujuran, kemurnian, dan ketulusan hanya karena Allah SWT. Taubat ini mengharuskan pelakunya memiliki keinginan kuat untuk tidak kembali kepada dosa yang telah lalu.
Allah maha penerima taubat, tapi kita jangan membiasakan membuat dosa, karena kita tidak tahu ajal menjemput. Kebiasaan buruk akan membiasakan kita berbuat dosa dan kebiasan baik akan membiasakan kita berbuat baik.

Doa memohon ampunan

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَتُبْ عَلَىَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Robbighfir lii wa tub ‘alayya, innaka antat-tawwaabur-rohiim.

“Ya Rabbku, ampunilah dosa-dosaku dan terimalah taubat dariku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”