Membantu Orang Lain untuk Kebaikan, Maka Kita Mendapatkan Bagian dari Pahalanya

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

مَنْ  يَّشْفَعْ  شَفَا عَةً  حَسَنَةً  يَّكُنْ  لَّهٗ  نَصِيْبٌ  مِّنْهَا   ۚ وَمَنْ  يَّشْفَعْ  شَفَا عَةً  سَيِّئَةً  يَّكُنْ  لَّهٗ  كِفْلٌ  مِّنْهَا   ۗ وَكَا نَ  اللّٰهُ  عَلٰى  كُلِّ  شَيْءٍ  مُّقِيْتًا

“Barang siapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang baik, niscaya dia akan memperoleh bagian dari (pahala)nya. Dan barang siapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang buruk, niscaya dia akan memikul bagian dari (dosa)nya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” QS. An-Nisa’ 4: Ayat 85)

Pertolongan baik, membantu/memudahkan orang lain untuk melakukan kebaikan akan memperoleh bagian dari pahalanya

Sebagai makhluk sosial, memberi pertolongan merupakan tindakan terpuji dan hal itu sudah sepatutnya dilakukan dalam kehidupan sosial. Namun demikian, ternyata tidak semua memberi pertolongan itu dibenarkan oleh Allah Swt. Dalam Al-Quran sudah dijelaskan bahwa ada dua macam pertolongan, ada pertolongan baik dan buruk, yang keduanya sama-sama mendapatkan balasan dari Allah Swt. Hal ini telah dijelaskan dalam QS. An-Nisa’ [4]: 85.

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا

Barangsiapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang baik, niscaya dia akan memperoleh bagian dari (pahala)nya. Dan barangsiapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang buruk, niscaya dia akan memikul bagian dari (dosa)nya. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Sebelum memasuki penafsiran, penting kiranya untuk mengetahui latar belakang turunnya ayat tersebut. Menurut Quraish Shihab, ayat ini masih ada kaitannya dengan ayat sebelumnya yang memerintahkan Nabi Muhammad Saw. untuk mengajak umatnya terjun ke medan juang. Rupanya ajakan Nabi mendapatkan respon yang berbeda-beda. Ada sebagian dari mereka yang memiliki sahabat dan kerabat yang tidak bisa dan enggan untuk menerima ajakan Nabi, sehingga mereka diminta menjadi perantara kepada Nabi untuk diizinkan tidak ikut perang.

Namun di sisi lain, ada yang memiliki keinginan kuat untuk ikut ajakan Nabi, akan tetapi tidak cukup biaya dan senjata, hal ini membuat mereka bersedih hati dan berkeluh kesah. Sehingga datanglah beberapa orang yang berupaya memberikan pertolongan dengan cara menjadi perantara kepada orang yang mampu untuk melengkapi kebutuhan mereka. Oleh karena itu, Allah berjanji untuk memberikan balasan dan pahala kepada masing-masing orang tersebut sebagaimana QS. An-Nisa’ [4]:85 tersebut.

Dua macam pertolongan: baik dan buruk

Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, ayat tersebut menjelaskan bahwa barangsiapa memberikan pertolongan yang baik kapanpun itu, dengan menjadi perantara sehingga orang lain dapat melaksanakan tuntunan agama atau dengan cara mengajak langsung maupun memberikan sesuatu sehingga orang lain berpeluang untuk berbuat baik, maka ia juga akan mendapatkan pahala karena telah berupaya menolong dan menjadi perantara.

Namun demikian, sebaliknya, barangsiapa yang memberikan pertolongan buruk, yakni dengan menjadi perantara seseorang berbuat keburukan, maka orang tersebut juga ikut menanggung bagian dosanya. Menurut Ibnu Katsir orang tersebut turut menanggung dosa karena juga berupaya dalam urusan tersebut dan telah diniatkan sejak semula.

Sedangkan dalam Tafsir Al-Jalalain dijelaskan bahwa yang dimaksudkan man yasyfa’ syafa’atan adalah memberi pertolongan kepada sesama manusia. Adapun yang dimaksud yasyfa’ hasanatan (memberikan pertolongan yang baik) adalah pertolongan yang sesuai syariat. Sedangkan yang dimaksud yasyfa’ sayyiatan (memberikan pertolongan yang buruk) adalah pertolongan yang tidak sesuai dengan syariat.

Menurut Al-Qurtubi, pertolongan yang baik adalah menolong dalam kabaikan dan taat. Sedangkan pertolongan yang buruk adalah menolong dalam kemaksiatan. Al-Qurtubi juga sejalan dengan Al-Jauzi yang menyatakan bahwa pertolongan yang baik adalah mendamaikan dua orang yang bertikai. Sedangkan pertolongan yang buruk adalah berusaha mengadu domba dan ghibah.

Al-Zamakhsyari dalam kitab tafsirnya, Al-Kasysyaf menyatakan bahwa yang dimaksud memberi pertolongan yang baik adalah menjaga hak orang Islam, menolak keburukan yang dapat membahayakan umat Islam, dan mendatangkan kebaikan kepadanya. Dalam hal ini, memberikan pertolongan karena semata-mata mengharapkan ridho Allah, bukan karena disogok atau mengambil keuntungan. Sedangkan memberi pertolongan yang buruk adalah yang tidak sesuai dengan hal tersebut.

Menurut Al-Zamakhsyari, Al-Qurtubi, dan Al-Jauzi yang dimaksud memberikan pertolongan yang baik adalah mendoakan orang Islam (dalam kebaikan). Sebaliknya, mendoakan orang Islam dalam keburukan adalah memberi pertolongan yang buruk, sebagaimana hadis Nabi Muhammad Saw. yang mereka sebutkan dalam tafsirnya:

مَنْ دَعَا لِأَخِيْهِ اْلمُسْلِمِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ اسْتُجِيْبَ لَهُ قَالَ لَهُ اْلمَلِكُ: وَلَكَ ِمِثْلُ ذَلِكَ, فَذَلِكَ النَّصِيْبُ

Artinya: “Barangsiapa yang mendoakan saudaranya sesama Muslim di luar kehadirannya, maka dikabulkan doanya. Malaikat akan menimpali dengan ucapan: semoga Anda memperoleh semacam itu” (H.R. Muslim).

Ibnu Katsir mengutip sebuah riwayat Ibnu Abi Hatim dalam menjelaskan ayat ini, khususnya tentang makna firman-Nya, ‘Allah maha kuasa atas segala sesuatu.’ Maksud akhir ayat ini yaitu Allah Maha Kuasa membalas setiap orang sesuai dengan amal perbuatannya.

Dari berbagai penafsiran di atas dapat dipahami bahwa Allah Swt. tidak pernah menyia-nyiakan amal perbuatan hamba-Nya. Dalam artian, Allah memberikan balasan kepada hamba-Nya, baik berupa amal kebaikan maupun keburukan.

Dua macam pertolongan dalam ayat ini seperti menganjurkan kita untuk memastikan terlebih dahulu, apakah orang yang kita beri pertolongan tersebut dalam lingkup perkara yang baik atau buruk, pun orang yang memberi pertolongan terhadap kita itu ada niat baik atau buruk. Tidak hanya itu, hal lain yang jarang diperhatikan kebanyakan orang adalah memberi pertolongan kepada orang lain itu harus berdasarkan hati yang ikhlas agar perbuatan baiknya tidak berakhir sia-sia.

Pada intinya, Allah memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk berbuat kebaikan, namun juga memberikan batasan-batasan dalam hal-hal tertentu yang harus kita perhatikan. Keduanya memiliki konsekuensi masing-masing yang baik dan buruknya tergantung jalan mana yang akan kita tempuh.

Semoga kita termasuk orang yang berusaha memberikan pertolongan baik kepada sesama muslim untuk membantu/memudahkan melakukan kebaikan.