Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ يَهْدِيْهِمْ رَبُّهُمْ بِاِ يْمَا نِهِمْ ۚ تَجْرِ يْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْاَ نْهٰرُ فِيْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya. Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. Yunus 10: Ayat 9)
Melakukan kebajikan dulu baru mendapat hidayah atau Mendapatkan hidayah dulu baru melakukan kebajikan
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini Allah menerangkan balasan dan pahala yang baik yang diterima orang-orang yang beriman dan beramal saleh di akhirat nanti yaitu mereka diberi tempat yang mulia berupa surga yang penuh kenikmatan.
Iman dan amal saleh merupakan dua hal yang sangat erat hubungannya, satu dengan yang lain berjalin dan bersangkut paut. Amat banyak ayat Al-Quran yang menerangkan keeratan hubungan itu. Iman berupa keyakinan dan kepercayaan kepada adanya Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta dan Pemilik semesta alam, Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada hamba-Nya. Karena sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang ada pada-Nya itu. Dia menganugerahkan hidayat dan petunjuk bagi manusia agar mereka dengan petunjuk itu berbahagia hidup di dunia dan di akhirat.
Petunjuk ini diakui oleh orang yang beriman sebagai petunjuk dari Allah, yang perwujudannya adalah sebagaimana yang disebutkan dan yang dikemukakan contoh-contohnya di dalam Al-Quran dan hadis-hadis Nabi saw. Jadi amal yang saleh yang dikerjakan oleh seorang Muslim adalah manifestasi dari imannya, atau dengan perkataan lain bahwa seseorang yang telah mengaku beriman tentulah ia suka mengerjakan amal saleh. Mustahil seseorang yang beriman tidak mengerjakannya.
Iman dan amal saleh ini menjadi sebab manusia hidup berbahagia di dunia, dan diberi balasan oleh Allah berupa surga di akhirat. Dengan demikian, mereka telah sampai ke tingkat kehidupan rohani yang paling tinggi.
Dari ayat ini, tampak bahwa iman dan amal salih mendahului hidayah lebih lanjut dari Allah. Artinya, seseorang yang sudah memiliki keimanan dan berusaha melakukan kebajikan akan semakin diberi petunjuk oleh Allah untuk terus berada di jalan yang benar.
Namun, dalam konteks yang lebih luas, hidayah bisa datang lebih dulu kepada seseorang sehingga dia tergerak untuk beriman dan beramal salih. Dalam banyak ayat lain, disebutkan bahwa Allah memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki (misalnya, QS. Al-Qasas: 56 dan QS. An-Nur: 46).
اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَهُوَ اَعْلَمُ بِا لْمُهْتَدِيْنَ
“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qasas 28: Ayat 56)
لَـقَدْ اَنْزَلْنَاۤ اٰيٰتٍ مُّبَيِّنٰتٍ ۗ وَ اللّٰهُ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ
“Sungguh, Kami telah menurunkan ayat-ayat yang memberi penjelasan. Dan Allah memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”(QS. An-Nur 24: Ayat 46)
“melakukan kebajikan dulu baru mendapatkan hidayah” atau “mendapatkan hidayah dulu baru melakukan kebajikan.” Kedua hal ini bisa terjadi secara bersamaan atau bergantian. Ada orang yang mendapatkan hidayah dulu lalu beramal salih, dan ada juga yang berusaha melakukan amal salih sehingga hatinya terbuka untuk lebih banyak hidayah dari Allah. Setiap hari minimal 17 kali dalam sehari minta hidayah (petunjuk)
اِهْدِنَا الصِّرَا طَ الْمُسْتَقِيْمَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 6)
Doa meminta hidayah yang dapat dipanjatkan untuk memperoleh petunjuk, yakni:
اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى
Allahumma innii as-aslukal hudaa wat tuqaa, wal ‘afaa-fa, wal ghinaa.
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu hidayah, ketakwaan, perlindungan, dan kekayaan