Loyalitas kepada Penguasa karena Materi, Kedudukan dan Uang

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَجَآءَ  السَّحَرَةُ  فِرْعَوْنَ  قَا لُوْۤا  اِنَّ  لَـنَا  لَاَ جْرًا  اِنْ كُنَّا  نَحْنُ  الْغٰلِبِيْنَ

“Dan para pesihir datang kepada Fir’aun. Mereka berkata, (Apakah) kami akan mendapat imbalan, jika kami menang?” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 113)

Loyalitas kepada penguasa karena materi, kedudukan dan uang

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Setelah Firaun mengerahkan orang-orangnya untuk mengumpulkan para ahli sihir yang pandai dari berbagai pelosok wilayah kekuasaannya, ketika para ahli sihir tersebut datang kepada Firaun, dan mereka pun berkata kepadanya, “Apakah kami akan mendapatkan imbalan jasa, atas tugas yang berat ini, bila kami berhasil mengalahkan Musa?”

Demikian motivasi para ahli sihir sama dengan latar belakang perjuangan para pembesar Firaun yaitu materi, kedudukan dan uang, tidak ada sama sekali idealisme, spiritualisme maupun moralitas yang luhur. Tujuan hidupnya hanya untuk sesaat yaitu uang.

Loyalitas kepada penguasa karena materi, kedudukan dan uang, seharusnya membela yang benar.

Dalam hadisnya Rasululullah SAW berpesan:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ (رواه مسلم)
“Siapa diantaramu yang melihat sesuatu kemungkaran maka hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya (kekuasaannya), bila tidak memiliki kemampuan maka cegahlah ia dengan lisannya (tulisan), bila tidak mampu juga maka hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan hatinya (mengingkari perbuatan tercela itu dengan hatinya)”. (HR. Muslim, No: 70).

Menolak Kemungkaran
Wajib menolak kemungkaran dalam hati seorang muslim adalah merupakan sikap yang paling akhir, setelah cara lain tidak mungkin dilakukan, karena tidak memiliki kemampuan. Usaha memberantas kemungkaran dan kebatilan yang lebih tinggi dari itu harus terus dilakukan, sampai kebatilan dan perbuatan yang tercela lenyap dari lingkungan kita.

Bila kebenaran ditegakkan secara konsekuen, maka kebatilan akan punah dan sesungguhnya yang batil dan mungkar itu akan sirna. Rasululluh s.a.w. berpesan:

لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ (رواه الترمذي)
“Kalian harus memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, atau bila tidak, maka Allah akan menjadikan orang-orang jahat diantaramu menguasai dan mencengkeram kamu; dan andaikata orang-orang baik diantaramu berdo’a untuk keselamatan, maka do’a mereka tidak akan dikabulkan”. (HR. Tirmidzi, No: 48).

Semoga kita selalu istiqomah membela yang benar, mengajak ke kebaikan dan mencegah kemungkaran.