Larangan Memperolok-olokkan Ayat-ayat Al Qur’an

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَاِ ذَا  رَاَ يْتَ  الَّذِيْنَ  يَخُوْضُوْنَ  فِيْۤ  اٰيٰتِنَا  فَاَ عْرِضْ  عَنْهُمْ  حَتّٰى  يَخُوْضُوْا  فِيْ  حَدِيْثٍ  غَيْرِهٖ  ۗ وَاِ مَّا  يُنْسِيَنَّكَ  الشَّيْطٰنُ  فَلَا  تَقْعُدْ  بَعْدَ  الذِّكْرٰ ى  مَعَ  الْقَوْمِ  الظّٰلِمِيْنَ

“Apabila engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 68)

Larangan memperolok olokkan ayat ayat al Quran

Dalam tafsir Quraish Shihab, Muhammad Quraish Shihab menjelaskan bahwa apabila engkau mendatangi perkumpulan orang-orang kafir, kemudian mendapati mereka menghujat atau menghina al-Qur’ân, pergilah dari situ sampai mereka beralih kepada pembicaraan lain! Apabila kamu lupa, lalu menemani mereka dalam membicarakan hal-hal yang batil, kemudian kamu ingat bahwa hal itu dilarang, janganlah kamu duduk bersama mereka lagi.

ذَلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا آَيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا

Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok. (QS. Al-Kahfi [18]: 106)

ذَلِكُمْ بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ آَيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ لَا يُخْرَجُونَ مِنْهَا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ

Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat. (QS. Al-Jaatsiyah [45]: 35)

ذٰلِكَ  جَزَآ ؤُهُمْ  جَهَنَّمُ  بِمَا  كَفَرُوْا  وَا تَّخَذُوْۤا  اٰيٰتِيْ  وَرُسُلِيْ  هُزُوًا

“Demikianlah, balasan mereka itu Neraka Jahanam, karena kekafiran mereka, dan karena mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai bahan olok-olok.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 106)

Terkait kasus-kasus penistaan terhadap agama dan umat Islam (terutama kepada para pewaris Nabi yakni para ulama) di zaman modern ini baik di Tanah Air maupun di dunia internasional yang dilakukan siapapun juga berdasarkan panduan ayat-ayat tersebut di atas maka dapatlah diambil beberapa pelajaran:

Pertama, Apa yang dilakukan kaum kafir dan munafik terhadap agama dan umat Islam sejatinya adalah skenario Allah Ta’ala untuk membongkar kekafiran, kemunafikan, aib serta rencana dan aksi kejahatan mereka untuk diperlihatkan kepada kaum beriman, serta mengakibatkan berlakunya azab bagi mereka di dunia dan akhirat.

Kedua, Apa yang mereka lakukan memberikan kesempatan bagi orang-orang beriman untuk membuktikan keimanan mereka dengan cara melakukan perlawanan dengan segala bentuknya dengan cara-cara yang bilhikmah.

Ketiga, haram hukumnya bagi kaum Mukmin untuk terlibat dalam rencana mereka.

Keempat, haram bagi orang-orang beriman untuk menjadikan para pelaku penistaan tersebut sebagai teman akrab, penolong, dan pelindung, apatah lagi sebagai penguasa atau pemimpin bagi mereka.

Sikap tegas bagi penista agama dan umat Islam

Kaum Mukmin mesti bersikap tegas kepada siapa saja yang telah dengan jelas melecehkan agama dan umat Islam karena Allah Ta’ala telah menvonis mereka sebagai pelaku dosa besar dan telah menjadi kafir. Sikap tegas ini telah dicontohkan Rasulullah Saw. yang tidak menggubris dan tidak memaafkan seorang yang telah beriman dan yang telah menista Rasulullah Saw. dan para shohabah Ra. sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:

Diriwayatkan dari lbnu Umar, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Qatadah secara ringkas. Ketika dalam peristiwa perang Tabuk ada orang-orang yang berkata, “Belum pernah kami melihat seperti para ahli baca Al-Qur`an ini, orang yang lebih buncit perutnya, lebih dusta lisannya dan lebih pengecut dalam peperangan”. Maksudnya, menunjuk kepada Rasulullah Saw. Dan para sahabat yang ahli baca Al Qur`an. Maka berkatalah Auf bin Malik kepadanya: “Omong kosong yang kamu katakan. Bahkan kamu adalah munafik. Niscaya akan aku beritahukan kepada Rasulullah SAW. ”Lalu pergilah Auf kepada Rasulullah Saw. untuk memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Tetapi sebelum ia sampai, telah turun wahyu Allah kepada beliau.

Ketika orang itu datang kepada Rasulullah Saw., beliau telah beranjak dari tempatnya dan menaiki untanya. Maka berkatalah dia kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah! Sebenarnya kami hanya bersenda-garau dan mengobrol sebagaimana obrolan orang-orang yang bepergian jauh untuk pengisi waktu saja dalam perjalanan kami”. Ibnu Umar berkata, ”Sepertinya aku melihat dia berpegangan pada sabuk pelana unta Rasulullah Saw., sedangkan kedua kakinya tersandung-sandung batu sambil berkata: “Sebenarnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja”. Lalu Rasulullah Saw. bersabda kepadanya: “Apakah terhadap Allah, ayat-ayatNya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”

Candaan dan olok olok terhadap ayat quran dan kepada rassul sering ditemukan di masyarakat kita padahal mereka muslim, ini termasuk dosa besar.

Semoga kita selalu berada pada lingkungan yang baik, yang tidak menjadikan ayat ayat Quran sebagai olok olok dan candaan