Larangan Berlaku Angkuh, Sombong dan Riya

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَلَا  تَكُوْنُوْا  كَا لَّذِيْنَ  خَرَجُوْا  مِنْ  دِيَا رِهِمْ  بَطَرًا  وَّرِئَآءَ  النَّا سِ  وَ  يَصُدُّوْنَ  عَنْ  سَبِيْلِ  اللّٰهِ  ۗ وَا للّٰهُ  بِمَا  يَعْمَلُوْنَ  مُحِيْطٌ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang (riya) serta menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Allah meliputi segala yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 47)

Larangan berlaku angkuh, sombong dan riya

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini Allah melarang kaum Muslimin agar tidak bersikap seperti orang-orang kafir Quraisy yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dengan maksud ria pada manusia. Mereka berlaku angkuh dan sombong terhadap manusia yang melihatnya dan mereka selalu memuji-muji tentaranya dengan menonjolkan sikap-sikap keperwiraan dan keberaniannya. Mereka bermaksud membangkitkan permusuhan dengan Nabi Muhammad dan berpaling dari dakwahnya dan menyiksa para sahabat yang mengikuti jejak Nabinya. Allah memberi peringatan, bahwa Dia Maha Mengetahui apa saja yang mereka kerjakan dan memberi ancaman dengan azab yang setimpal dengan kejahatannya.

Menurut Imam al-Bukhari, ayat itu diturunkan sehubungan dengan peristiwa kaum musyrikin Quraisy, ketika mereka meninggalkan negeri Mekah dan bergerak menuju Badar. Ketika Rasulullah berhadapan dengan tentara musyrikin itu, beliau munajat dengan berkata, “Ya Allah, inilah kaum Quraisy telah datang dengan kesombongan dan kecongkakannya, mereka ingkar kepada-Mu dan mendustakan utusan-Mu, maka berikanlah pertolongan yang Engkau telah janjikan kepada kami.” Ketika Abu Sufyan yang memimpin kafilah unta niaga itu melihat, bahwa untanya telah selamat menyusur pantai, maka ia berkata kepada Abu Jahal yang memimpin pasukan Quraisy, “Kedatangan kamu itu hanya sekadar menyelamatkan kafilah unta jangan sampai dirampas oleh sahabat-sahabat Muhammad, maka sekarang kafilah unta itu telah selamat. Karena itu pulanglah kamu kembali ke Mekah.” Abu Jahal berkata, “Demi Allah kami tidak akan kembali sebelum sampai ke Badar.”

Kebetulan pada waktu itu di Badar ada pasar besar yang banyak menghimpun barang dagangan setiap tahun. Abu Jahal berkata, “Kami akan tinggal di Badar selama tiga hari sehingga sempat minum arak dengan puas, memakan hidangan yang enak, menyembelih unta dan menghibur diri dengan lagu dan kesenian. Biarlah semua bangsa Arab mengetahui dan menyaksikan, bahwa kaum Quraisy berada dalam kebesaran dan kejayaan.” Karena itu Allah melarang kaum Muslimin berlaku seperti mereka, sebaliknya orang-orang mukmin harus tetap memelihara keikhlasan hati, ketabahan, kesabaran dan ketaatan kepada Rasulullah.

Angkuh, sombong, dan riya dilarang dalam Islam karena sifat-sifat ini merusak hubungan dengan Allah dan sesama manusia;

1. Angkuh dan Sombong Merupakan Sifat Iblis.
Sifat angkuh (takabbur) dan sombong adalah sifat yang pertama kali ditunjukkan oleh Iblis ketika ia menolak untuk sujud kepada Nabi Adam. Kesombongan menyebabkan seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain, dan ini adalah ciri khas dari sifat buruk yang sangat dibenci Allah.

“Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqarah [2]: 34)

2. Kesombongan Menghalangi Petunjuk dan Kebaikan.
Orang yang sombong sering merasa dirinya sudah benar, sehingga sulit menerima nasihat, ilmu, atau petunjuk dari orang lain. Kesombongan menjadikan hati seseorang tertutup dari kebenaran, menghalanginya dari pertumbuhan spiritual dan mendekatkan diri kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi. (HR. Muslim)

3. Riya Menghilangkan Keikhlasan.
Riya adalah melakukan amal kebaikan bukan karena Allah, melainkan untuk mendapatkan pujian atau pengakuan dari manusia. Sifat riya merusak niat ibadah, karena hanya amal yang dilakukan dengan ikhlas yang diterima oleh Allah.

“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya (pamer). (QS. Al-Ma’un [107]: 4-6)

4. Merusak Hubungan Sosial
Sifat sombong dan angkuh sering kali menimbulkan perpecahan, permusuhan, dan kebencian di antara sesama manusia. Orang yang sombong merasa dirinya lebih baik dari orang lain, sehingga sulit menjalin hubungan sosial yang harmonis. Sifat ini juga menghalangi seseorang untuk berempati dan merendahkan hati kepada sesama.

“Dan janganlah engkau memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman [31]: 18)

5. Menyebabkan Kehancuran Diri Sendiri
Orang yang sombong cenderung berpikir bahwa segala sesuatu yang ia miliki atau capai adalah hasil usahanya sendiri, dan bukan karena rahmat Allah. Hal ini menimbulkan sikap egois dan lupa akan Allah. Kesombongan semacam ini bisa membawa kehancuran diri sendiri, baik di dunia maupun di akhirat.

Allah berfirman tentang Qarun yang sombong dengan kekayaannya:
“Maka Kami benamkan dia dan rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela diri. (QS. Al-Qashash [28]: 81)

6. Menghilangkan Pahala Amal Kebaikan
Riya, yang merupakan tindakan memperlihatkan amal agar dilihat dan dipuji oleh manusia, bukan karena Allah, dapat menghilangkan pahala amal tersebut. Allah hanya menerima amal yang dilakukan dengan ikhlas dan tanpa riya.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, ‘Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Riya.’ Pada hari kiamat nanti, ketika Allah membalas amal-amal manusia, Dia akan berkata kepada orang-orang yang berbuat riya, ‘Pergilah kepada orang-orang yang dahulu kalian ingin pamer di hadapan mereka di dunia, lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka. (HR. Ahmad)

7. Menghalangi Rahmat Allah.
Allah sangat tidak menyukai orang yang angkuh, sombong, dan berbuat riya. Ketiga sifat ini menjauhkan manusia dari rahmat dan keberkahan Allah. Sifat rendah hati (tawadhu’) dan ikhlas adalah yang disukai Allah, karena keduanya menandakan keimanan yang tulus.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian semua bersikap rendah hati sehingga tidak ada seorang pun yang berlaku zalim terhadap orang lain dan tidak ada yang menyombongkan diri terhadap yang lainnya.” (HR. Muslim)

Doa Memohon Dijauhkan dari Sifat Angkuh, Sombong, dan Riya:

اللّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الكِبْرِ وَالرِّيَاءِ وَالعُجْبِ وَسُوءِ الأَخْلَاقِ

Allahumma inni a’udzu bika minal kibr, war-riya’, wal-‘ujbi, wa su’i al-akhlaq.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat sombong, riya, ujub, dan akhlak yang buruk.”