Korelasi Asmaul Husna “Asy Syahid” dengan Muraqabatullah

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَلِكُلٍّ  جَعَلْنَا  مَوَا لِيَ  مِمَّا  تَرَكَ  الْوَا لِدٰنِ  وَا لْاَ قْرَبُوْنَ   ۗ وَا لَّذِيْنَ  عَقَدَتْ  اَيْمَا نُكُمْ  فَاٰ  تُوْهُمْ  نَصِيْبَهُمْ   ۗ اِنَّ  اللّٰهَ  كَا نَ  عَلٰى  كُلِّ  شَيْءٍ  شَهِيْدًا

“Dan untuk masing-masing (laki-laki dan perempuan) Kami telah menetapkan para ahli waris atas apa yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya dan karib kerabatnya. Dan orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berikanlah kepada mereka bagiannya. Sungguh, Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 33)

Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat An-Nisa Ayat 33

Usai melarang manusia berangan-angan yang akan mendorongnya iri dan dengki atas kelebihan orang lain, termasuk dalam hal warisan, ayat ini lalu mengingatkan bahwa harta warisan itu sudah ditentukan pembagiannya oleh Allah. Dan ketahuilah bahwa untuk setiap harta peninggalan, dari apa yang ditinggalkan oleh kedua orang tua dan juga yang ditinggalkan oleh karib kerabat, kami jadikan pewaris-pewarisnya, dan juga bagi orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka sebagai suami istri, maka berikanlah kepada mereka bagiannya sesuai dengan kesepakatan sebelumnya.

Sungguh, Allah maha menyaksikan segala sesuatu.

SALAH SATU sifat Allah yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna adalah asy-Syahîd atau Allah Yang Maha Menyaksikan.

Kata asy-Syahîd tersusun dari akar kata yang tersusun dari huruf-huruf syin, ha’, dan dal. Makna dasarnya berkisar pada “kehadiran”, pengetahuan, informasi, dan kesaksian. Kata asy-Syahîd sebagai nama Allah dalam Al-Qur`an diulang sebanyak 20 kali.

Allah Asy-Syahîd, Allah Maha Menyaksikan segala peristiwa dan mengetahui hakikat sesuatu secara terperinci. Tidak ada yang tersamarkan atau terlewatkan. Persaksian-Nya sempurna dan menyeluruh, baik lahir maupun batin, dekat atau jauh, samar atau jelas, yang telah, sedang, atau akan terjadi, di mana pun dan kapan pun tanpa ada batasnya.

Persaksian Allah adalah paling sempurna, meliputi persaksian lahir dan batin, gaib dan nyata, awal dan akhir, syariat dan hakikat, dunia dan akhirat.

يَوۡمَ يَبۡعَثُهُمُ ٱللَّهُ جَمِيعٗا فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوٓاْۚ أَحۡصَىٰهُ ٱللَّهُ وَنَسُوهُۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ٦

“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al- Mujâdilah: 6)

Tatkala kita memahami makna yang terkandung dalam nama asy-Syahîd, niscaya kita akan lebih menjaga setiap perbuatan sebab Allah senantiasa menyaksikan seluruh gerak-gerik kita, baik terang-terangan maupun tersembunyi. Dengan begitu, perbuatan kita akan terjaga dari hal-hal yang sekiranya menentang keridhaan Allah Swt.

Mengingat Allah Maha Menyaksikan apa yang kita lakukan, kelak Dia akan menuntut tanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan tersebut. Karena itu, melakukan sebuah pekerjaan atau amal dengan kualitas terbaik, menjadi sebuah keniscayaan.

Seorang hamba yang meneladani nama asy-Syahîd, sejatinya mampu menjadi pribadi yang jujur di mana pun dan kapan pun. Ia mampu menjadi saksi yang jujur dan menegakkan persaksian karena Allah. Lebih dari itu, ia harus mampu menjadi teladan yang baik bagi orang lain, sehingga kebaikannya dapat disaksikan dan diteladani oleh sesama.

Kebutuhan muraqabatullah (merasa diawasi oleh Allah SWT). Hal ini mengingatkan kita sebuah kisah ketika Jibril tiba-tiba datang menemui Rasulullah SAW yang sedang duduk di hadapan para sahabatnya. Jibril duduk bersila di hadapan Rasulullah sembari menempelkan kedua lututnya ke lutut Rasulullah SAW seraya bertanya empat hal: Apa itu Iman, Apa itu Islam, Apa itu Ihsan, dan Apakah Qadha dan Qodar itu? Ketika menjawab Ihsan, Rasulullah SAW mengatakan Al Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya, dan jika engkau tidak melihat maka Allah pasti melihatmu.

Semoga dalam setiap aktivitas kita merasa Allah menyaksikan kita sehingga terhindar untuk melakukan keburukan