Ketika Kemaksiatan Menekan Orang yang Membela Kebenaran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لُـوْۤا  اَوَلَمْ  نَـنْهَكَ  عَنِ  الْعٰلَمِيْنَ

“(Mereka) berkata, Bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 70).

Ketika Kemaksiatan Menekan Orang yang Membela Kebenaran

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI: Nasihat Nabi Lut tidak membuat para pendurhaka itu mengurungkan niat. Dengan angkuh dan sombong mereka berkata, “Dan bukankah kami sejak awal telah melarangmu, wahai Lut, dari melindungi manusia; yakni para tamumu yang ingin kami ajak melakukan hubungan seksual?

Ayat ini sangat kaya untuk ditadabburi karena bukan sekadar menceritakan kaum Nabi Luth, tetapi juga menggambarkan bagaimana kerusakan moral dapat berubah menjadi budaya yang menekan orang-orang yang masih menjaga kebenaran.

Tadabbur QS. Al-Hijr Ayat 70

1. Kerusakan moral membuat dosa dianggap sebagai hak.
Kaum Nabi Luth tidak lagi merasa bersalah. Sebaliknya, mereka menganggap Nabi Luth yang salah karena menghalangi keinginan mereka. Ketika hati telah tertutup oleh dosa, pelaku maksiat dapat memandang kemungkaran sebagai sesuatu yang wajar, bahkan merasa berhak melakukannya.

2. Orang yang mempertahankan nilai kebenaran sering mendapat tekanan.
Ucapan mereka, “Bukankah kami telah melarangmu…” menunjukkan adanya intimidasi kepada Nabi Luth. Ini menjadi pelajaran bahwa orang yang berpegang teguh pada ajaran Allah tidak jarang menghadapi tekanan, ejekan, bahkan ancaman. Namun, tekanan tidak boleh membuat seorang mukmin meninggalkan prinsip-prinsip syariat.

3. Hilangnya rasa malu adalah tanda rusaknya fitrah manusia.
Kaum Nabi Luth secara terang-terangan mendatangi rumah beliau untuk melakukan perbuatan yang diharamkan Allah. Mereka bukan hanya kehilangan rasa malu, tetapi juga berusaha memaksa orang lain untuk membiarkan kemungkaran itu terjadi. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila engkau tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.”
(HR. Sahih al-Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa hilangnya rasa malu merupakan pintu menuju berbagai bentuk kerusakan akhlak.

4. Menjaga kehormatan tamu adalah bagian dari akhlak Islam.
Nabi Luth tidak hanya menolak kemungkaran, tetapi juga berusaha melindungi tamunya. Ini mengajarkan bahwa memuliakan tamu dan menjaga kehormatan orang lain adalah akhlak yang harus dipertahankan meskipun menghadapi risiko dan tekanan.

5. Jangan sampai masyarakat memaksa kita menerima kemungkaran.
Setiap zaman memiliki bentuk tekanannya masing-masing. Ada kalanya seseorang didorong untuk menganggap dosa sebagai hal yang biasa, bahkan dipaksa agar tidak lagi menyuarakan kebenaran. Seorang mukmin hendaknya tetap bersikap bijaksana, santun, namun teguh dalam memegang nilai-nilai Islam.

QS. Al-Hijr ayat 70 mengingatkan bahwa kerusakan moral tidak berhenti pada perilaku individu. Ketika kemaksiatan telah menjadi kebiasaan, pelakunya akan berusaha membungkam nasihat, menekan orang-orang saleh, bahkan menganggap kebenaran sebagai penghalang kebebasan mereka.

Nabi Luth mengajarkan kepada kita bahwa mempertahankan prinsip-prinsip Allah lebih utama daripada mengikuti tekanan masyarakat. Di tengah perubahan zaman, seorang mukmin dituntut untuk tetap menjaga fitrah, kehormatan, dan keberanian menyampaikan kebenaran dengan hikmah serta akhlak yang mulia.

Seorang mukmin harus siap menghadapi kenyataan bahwa mempertahankan kebenaran kadang tidak membuatnya populer. Dalam masyarakat yang nilai-nilainya terbalik, orang yang jujur bisa dianggap aneh, sedangkan pelaku kebatilan memperoleh dukungan. Namun ukuran benar dan salah bukanlah suara mayoritas, melainkan petunjuk Allah.

Fenomena ini dapat muncul pada zaman sekarang

1. Korupsi yang dianggap hal biasa.
Di sebuah instansi, budaya korupsi sudah mengakar. Ketika ada pegawai yang jujur dan menolak ikut menerima suap, justru ia dianggap menghambat, tidak solid, bahkan dimutasi atau dikucilkan. Yang salah menjadi mayoritas, sedangkan yang benar ditekan.

2. Penyalahgunaan jabatan.
Seseorang yang berusaha melaporkan penyimpangan (whistleblower) sering kali mendapat tekanan, intimidasi, bahkan ancaman. Bukan pelaku yang dipermalukan, tetapi orang yang membongkar keburukan.
Orang berkontribusi membuka kunjungan menteri dan keluarganya ke Amerika akhirnya dimutasikan ke pelosok.

Ayat ini mengingatkan agar kita tidak ikut arus ketika keburukan telah menjadi kebiasaan. Tetaplah memegang prinsip, meskipun harus menghadapi tekanan. Sejarah Nabi Luth menunjukkan bahwa pertolongan Allah pada akhirnya datang kepada orang-orang yang tetap teguh di atas kebenaran, sedangkan kebatilan, betapapun kuat dukungan sosialnya, tidak akan bertahan selamanya.

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، وَاحْفَظْ قُلُوبَنَا مِنَ الْفِتَنِ، وَثَبِّتْنَا عَلَى دِينِكَ حَتَّى نَلْقَاكَ.

Allāhumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnā ittibā’ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnā ijtinābah, waḥfaẓ qulūbanā minal-fitan, wa thabbitnā ’alā dīnika ḥattā nalqāk.

“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu benar dan anugerahkanlah kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkanlah kepada kami bahwa yang batil itu batil dan anugerahkanlah kepada kami kemampuan untuk menjauhinya. Jagalah hati kami dari berbagai fitnah dan teguhkanlah kami di atas agama-Mu hingga kami bertemu dengan-Mu.”