Ketaatan Sejati: Tunduk kepada Allah dengan Kesadaran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَخَا فُوْنَ  رَبَّهُمْ  مِّنْ  فَوْقِهِمْ  وَيَفْعَلُوْنَ  مَا  يُؤْمَرُوْنَ

“Mereka takut kepada Tuhan yang (berkuasa) di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).” (QS. An-Nahl 16: Ayat 50)

Ketaatan Sejati: Tunduk kepada Allah dengan Kesadaran

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI bahwa di dalam ayat ini, Allah SWT menjelaskan ketaatan para malaikat secara khusus, yaitu bahwa para malaikat itu tunduk di bawah kekuasaan Allah dan tekun melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya. Makhluk yang ada di langit dan di bumi tidak dapat dan tidak mampu untuk menghindari hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan Allah yang berlaku.

Demikianlah, penjelasan ini diberikan kepada orang-orang yang mengingkari adanya Allah dan selalu membuat tipu daya itu, supaya mereka menyadari bahwa tidak ada ciptaan Allah yang dapat melepaskan diri dari kekuasaan-Nya. Allah berfirman:

Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan patuh.” (Fussilat/41: 11)

Dan firman-Nya lagi : Dan semua sujud kepada Allah baik yang di langit maupun yang di bumi, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayang mereka, pada waktu pagi dan petang hari. (ar-Ra’d/13: 15)

Dengan penjelasan ini diharapkan mereka dapat mengakhiri keingkaran mereka, dan kembali ke fitrah semula yaitu tunduk di bawah kekuasaan Allah dan mempercayai kebenaran wahyu yang diturunkan kepada hamba-Nya yang terpilih, yaitu Muhammad saw.
Secara sunatullah semua mahluk tunduk dan taat kepada Allah ;

وَمَا  لِيَ  لَاۤ  اَعْبُدُ  الَّذِيْ  فَطَرَنِيْ  وَاِ لَيْهِ  تُرْجَعُوْنَ

“Dan tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.”

(QS. Ya-Sin 36: Ayat 22)

Jika para malaikat yang tidak pernah membangkang saja tunduk dan takut kepada Allah, maka manusia seharusnya lebih menyadari siapa dirinya dan siapa Tuhannya. Kita diciptakan oleh Allah, hidup dengan nikmat-Nya, dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.

Karena itu, tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyembah Allah yang telah menciptakanku. Sebab hidup bukan sekadar tentang apa yang kita inginkan, tetapi tentang kepada siapa kita tunduk dan untuk apa kita diciptakan.

“Dan tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.”
(QS. Ya-Sin 36:22)

Semoga hati kita selalu rendah di hadapan Allah, taat kepada perintah-Nya, dan jauh dari kesombongan.