Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman;
وَقَا لَ اللّٰهُ لَا تَـتَّخِذُوْۤا اِلٰهَيْنِ اثْنَيْنِ ۚ اِنَّمَا هُوَ اِلٰـهٌ وَّا حِدٌ ۚ فَاِ يَّايَ فَا رْهَبُوْنِ
“Dan Allah berfirman, Janganlah kamu menyembah dua Tuhan; hanyalah Dia Tuhan Yang Maha Esa. Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.” (QS. An-Nahl Ayat 51).
Tauhid Mengajarkan Kita untuk Tidak Mendua
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI: Allah SWT menjelaskan kepada para hamba-Nya agar jangan sekali-kali menyembah tuhan-tuhan yang lain selain Dia, karena yang demikian itu berarti mempersekutukan Allah, padahal Allah Mahasuci dari sekutu. Tidak mungkin Allah swt yang Mahakuasa di jagat raya ini lebih dari satu. Dia itu tunggal, dan hanya Dia yang berhak disembah.
Allah memerintahkan kepada manusia agar takut kepada ancaman dan hukuman-Nya. Dia juga melarang manusia mempersekutukan-Nya dan membuat sesembahan lain selain Dia. Secara jelas, larangan yang terdapat dalam ayat ini adalah menyembah dua Tuhan. Namun demikian, bilangan itu bukanlah menunjukkan bilangan dua saja, tetapi untuk menunjukkan bilangan yang paling sedikit. Sedang yang dimaksud ialah menyembah tuhan-tuhan yang lain selain Allah dan supaya tidak terbayang dalam pikiran manusia ada tuhan-tuhan yang lain selain Dia.
Tauhid mengajarkan kita untuk tidak mendua: jangan sampai lisan mengakui Allah sebagai Tuhan Yang Esa, tetapi hati justru diperbudak oleh harta, jabatan, pujian, atau ketakutan kepada manusia.
Tadabur;
1. Tauhid bukan sekadar mengakui Allah itu satu
Mengakui Allah sebagai Tuhan Yang Esa harus tercermin dalam kehidupan. Jika Allah adalah satu-satunya Tuhan, maka ibadah, ketundukan, doa, dan pengharapan tertinggi juga hanya kepada-Nya.
2. Jangan menduakan Allah dalam pengabdian
“Menduakan” tidak hanya berkaitan dengan menyembah berhala. Dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
Apakah keputusan saya lebih takut kepada penilaian manusia daripada kepada Allah? Apakah kepentingan dunia membuat saya mengabaikan perintah-Nya?
Di sinilah tauhid menjadi kompas kehidupan.
3. Manusia sering memiliki “tuhan-tuhan kecil” dalam kehidupan
Harta, jabatan, popularitas, kekuasaan, bahkan keinginan diri dapat menjadi sesuatu yang terlalu dominan ketika manusia mulai mengejarnya dengan mengorbankan prinsip agama.
Bukan berarti memiliki harta atau jabatan itu salah. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai sesuatu yang kita miliki justru menguasai hati kita.
4. “فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ” — hanya kepada Allah rasa takut tertinggi diarahkan
Takut kepada manusia bisa membuat kita kehilangan keberanian untuk berbuat benar. Takut kehilangan jabatan bisa membuat kita tidak jujur. Takut kehilangan harta bisa membuat kita menghalalkan segala cara.
Ayat ini mengajarkan keseimbangan: hormati manusia, tetapi jangan sampai rasa takut kepada manusia mengalahkan ketaatan kepada Allah.
5. Tauhid membuat hidup memiliki satu pusat orientasi
Ketika Allah menjadi pusat kehidupan, kita tidak mudah terombang-ambing oleh pujian atau celaan manusia.
Kita bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi bukan demi pujian.
Kita memimpin dengan amanah, bukan demi kekuasaan. Kita berbuat baik, bukan sekadar agar dianggap baik.
Karena tujuan akhirnya adalah mencari rida Allah. Dan mungkin pertanyaan terpenting setelah membaca An-Nahl 51 adalah:
“Dalam hidup saya, siapa yang paling saya takuti, paling saya harapkan, dan paling saya prioritaskan?”
Jawaban atas pertanyaan itu dapat menjadi cermin sejauh mana tauhid benar-benar hidup di dalam hati kita.
“Jika Allah adalah Tuhan Yang Esa, maka jangan biarkan hati kita terbagi dalam pengabdian. Takutlah kepada-Nya, berharaplah kepada-Nya, dan jadikan rida-Nya sebagai tujuan tertinggi kehidupan.”
Doa untuk kemurnian tauhid, tidak menduakan Allah dalam pengabdian, serta hanya takut dan berharap kepada-Nya.
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى التَّوْحِيدِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا مَنْ هُوَ أَعْظَمُ مِنْكَ، وَلَا أَشَدَّ خَوْفًا مِنْكَ، وَلَا أَرْجَى مِنْكَ. وَاجْعَلْنَا لَكَ وَحْدَكَ عَابِدِينَ، وَلَكَ وَحْدَكَ خَاشِعِينَ، وَإِلَيْكَ وَحْدَكَ رَاغِبِينَ.
Allahumma tsabbit qulubana ‘alat-tauhid, wa la taj‘al fi qulubina man huwa a‘zhamu minka, wa la asyadda khaufan minka, wa la arja minka. Waj‘alna laka wahdaka ‘abidin, wa laka wahdaka khasyi‘in, wa ilaika wahdaka raghibin.
“Ya Allah, teguhkanlah hati kami di atas tauhid. Jangan Engkau jadikan di dalam hati kami sesuatu atau seseorang yang lebih kami agungkan daripada-Mu, lebih kami takuti daripada-Mu, dan lebih kami harapkan daripada-Mu. Jadikanlah kami hanya menyembah-Mu, hanya tunduk kepada-Mu, dan hanya berharap kepada-Mu.”