Kesedihan Itu Manusiawi, Tapi Jangan Tenggelam di Dalamnya

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَاُ وْحِيَ  اِلٰى  نُوْحٍ  اَنَّهٗ  لَنْ  يُّؤْمِنَ  مِنْ  قَوْمِكَ  اِلَّا  مَنْ  قَدْ  اٰمَنَ  فَلَا  تَبْتَئِسْ  بِمَا  كَا نُوْا  يَفْعَلُوْنَ
“Dan diwahyukan kepada Nuh, Ketahuilah, tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang benar-benar beriman (saja), karena itu janganlah engkau bersedih hati tentang apa yang mereka perbuat.” (QS. Hud 11: Ayat 36)
Allah memberitahu Nabi Nuh bahwa tidak akan ada lagi yang beriman dari kaumnya, selain yang sudah beriman, dan memintanya untuk tidak bersedih atas penolakan mereka
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini, Allah mengisahkan bahwa Ia telah mewahyukan kepada Nabi Nuh untuk menjelaskan hal-hal berikut:
  1. Setelah kaum Nuh meminta supaya Nuh a.s. segera mendatangkan azab Allah sebagai bukti atas kebenaran dakwahnya dan Nabi Nuh a.s. pun telah mendoakan mereka supaya dimusnahkan Allah, maka tidak ada lagi yang beriman di antara mereka kecuali hanya sedikit saja yaitu hanya orang-orang yang sudah menyatakan beriman kepadanya sebelum itu.
  2. Sekalipun sudah ratusan tahun lamanya Nabi Nuh a.s. hidup bersama kaumnya menyampaikan dakwah kepada mereka, namun mereka masih tetap membangkang. Hal itu tidaklah membuatnya berduka cita dan bersedih karena memikirkan sikap dan tingkah laku mereka yang tetap tidak beriman itu, sebab azab pembalasan Allah kepada mereka di dunia ini sudah dekat saatnya, dan mereka tidak akan dapat mengelak dan mencegahnya.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, panjang kapal itu seribu dua ratus hasta. Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah memerintahkan kepada Nuh a.s. supaya membuat kapal yang akan dipergunakan untuk menyelamatkan Nabi Nuh dan pengikutnya yang beriman dari topan (air bah) yang akan melanda dan menenggelamkan permukaan bumi sebagai azab di dunia ini kepada orang-orang kafir dari kaumnya yang selalu membangkang dan durhaka. Nabi Nuh diperintahkan membuat kapal penyelamat itu dengan petunjuk-petunjuk dan pengawasan dari Allah.
Selanjutnya pada ayat ini Allah memperingatkan Nuh a.s. agar tidak lagi berbicara dengan kaumnya yang zalim (kafir) dan tidak lagi memohon supaya dosa mereka diampuni atau dihindarkan dari azab-Nya, karena sudah menjadi ketetapan Allah bahwa mereka akan ditenggelamkan.
Larangan serupa ini telah diberikan pula kepada Nabi Ibrahim a.s. sewaktu dia memohonkan kepada Allah agar azab-Nya tidak ditimpakan kepada kaum Luth, sebagaimana disebut dalam firman-Nya:
Wahai Ibrahim! Tinggalkanlah (perbincangan) ini, sungguh, ketetapan Tuhanmu telah datang, dan mereka itu akan ditimpa azab yang tidak dapat ditolak. (Hud/11: 76).
Ukuran 1 hasta (cubit) dalam sistem kuno bervariasi, tapi secara umum berkisar antara: 1 hasta ≈ 45 cm (0,45 meter). Jadi kalau kapal Nabi Nuh disebutkan memiliki panjang 1200 hasta, maka 1200 hasta ≈ 540 meter.
Tadabbur dan Pelajaran dari Ayat Ini:
1. Kebenaran Tidak Diukur dari Banyaknya Pengikut
•Allah langsung menyatakan bahwa jumlah orang yang akan beriman sudah final dan tidak akan bertambah.
•Ini mengajarkan bahwa dalam dakwah atau perjuangan kebaikan, kualitas lebih penting dari kuantitas.
Jangan ukur keberhasilan dari banyaknya yang ikut, tapi dari ketaatan pada perintah Allah.
2. Ketika Semua Upaya Tak Lagi Mengubah Keadaan
•Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun (QS. Al-‘Ankabūt: 14), tapi hanya sedikit yang beriman.
•Allah akhirnya memerintahkan beliau untuk berhenti berharap pada sisa kaumnya.
•Ada saatnya, bahkan untuk seorang nabi, berhenti berjuang terhadap mereka yang keras kepala adalah bentuk ketaatan, bukan kekalahan.
3. Kesedihan Itu Manusiawi, Tapi Jangan Tenggelam di Dalamnya
•Nabi Nuh jelas bersedih, karena beliau peduli dan mencintai kaumnya.
•Namun Allah menegaskan:
“Janganlah engkau bersedih hati terhadap apa yang mereka perbuat.”
Ini adalah bentuk penghiburan dan penguatan langsung dari Allah.
4. Hidayah Adalah Hak Penuh Allah
•Tugas seorang nabi (dan kita sebagai da’i) hanya menyampaikan, bukan menjamin orang lain akan menerima.
•Hidayah ada di tangan Allah. Kita hanya bisa mengetuk hati, bukan memaksa membukanya.
5. Ada Batas Waktu untuk Setiap Umat
•Ketika sudah tertutupnya hati kaum Nabi Nuh, masa ampunan dan peringatan pun ditutup.
•Ini memberi pelajaran bahwa kesempatan berubah tidak akan selalu tersedia. Maka manfaatkan waktu selagi masih terbuka.
QS Hūd: 36 mengajarkan kita untuk:
•Ikhlas dalam berdakwah, tanpa terikat hasil.
•Tidak putus asa saat usaha kita ditolak.
•Tetap tenang dalam menghadapi penolakan, karena Allah tahu dan Allah yang mengatur hasil akhirnya.
Doa untuk meminta kepasrahan kepada ketetapan Allah;
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِمَّنْ يَعْمَلُ لِوَجْهِكَ، وَلَا تَجْعَلْ هَمِّي نَظَرَ النَّاسِ، وَثَبِّتْ قَلْبِي عِندَ الرَّدِّ وَالْخُذْلَانِ، وَارْزُقْنِي الصِّدْقَ وَالصَّبْرَ فِي الدَّعْوَةِ وَالْخَيْرِ
“Ya Allah, jadikan aku termasuk orang yang beramal hanya karena-Mu. Jangan jadikan perhatianku tertuju pada pandangan manusia. Teguhkan hatiku saat menghadapi penolakan dan pengabaian. Anugerahkan aku kejujuran dan kesabaran dalam berdakwah dan berbuat baik.”