Kepercayaan Orang Kafir Mekah; Rassul itu Seharusnya Malaikat

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَقَا لُوْا  لَوْلَاۤ  اُنْزِلَ  عَلَيْهِ  مَلَكٌ    ۗ وَلَوْ  اَنْزَلْـنَا  مَلَـكًا  لَّـقُضِيَ  الْاَ مْرُ  ثُمَّ  لَا  يُنْظَرُوْنَ

“Dan mereka berkata, Mengapa tidak diturunkan malaikat kepadanya (Muhammad)? Jika Kami turunkan malaikat (kepadanya), tentu selesailah urusan itu, tetapi mereka tidak diberi penangguhan (sedikit pun).”(QS. Al-An’am 6: 8)

Kepercayaan orang kafir Mekah yang berperan sebagai rassul itu seharusnya malaikat

Tafsir lengkap Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa dalam ayat ini diterangkan tentang anggapan orang kafir Mekah mengenai kerasulan. Mereka berpendapat semestinya ada malaikat yang mendampingi Muhammad turut memberi peringatan bersamanya dan memperkuat kerasulannya atau Allah menurunkan malaikat sebagai rasul, bahkan mereka menghendaki dapat melihat Tuhan.

وَيَوْمَ  تَشَقَّقُ  السَّمَآءُ  بِا لْـغَمَا مِ  وَنُزِّلَ  الْمَلٰٓئِكَةُ  تَنْزِ يْلًا
“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) langit pecah mengeluarkan kabut putih dan para malaikat diturunkan (secara) bergelombang.” (QS. Al-Furqan 25: Ayat 25)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقَا لُوْا  مَا لِ  هٰذَا  الرَّسُوْلِ  يَأْكُلُ  الطَّعَا مَ  وَيَمْشِيْ  فِى  الْاَ سْوَا قِ  ۗ لَوْلَاۤ  اُنْزِلَ  اِلَيْهِ  مَلَكٌ  فَيَكُوْنَ  مَعَهٗ  نَذِيْرًا
“Dan mereka berkata, Mengapa rasul (Muhammad) ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa malaikat tidak diturunkan kepadanya (agar malaikat) itu memberikan peringatan bersama dia,” (QS. Al-Furqan 25: Ayat 7)

وَقَا لَ  الَّذِيْنَ  لَا  يَرْجُوْنَ  لِقَآءَنَا  لَوْلَاۤ  اُنْزِلَ  عَلَيْنَا  الْمَلٰٓئِكَةُ  اَوْ  نَرٰ ى  رَبَّنَا  ۗ لَـقَدِ  اسْتَكْبَرُوْا  فِيْۤ  اَنْفُسِهِمْ  وَعَتَوْ  عُتُوًّا  كَبِيْرًا
“Dan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami (di akhirat) berkata, Mengapa bukan para malaikat yang diturunkan kepada kita atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita? Sungguh, mereka telah menyombongkan diri mereka dan benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan kezaliman).” (QS. Al-Furqan 25: Ayat 21)

Di kalangan orang Arab terdapat kepercayaan tentang adanya hubungan antara Allah dengan makhluk-Nya. Menurut mereka, yang patut menjadi penghubung (rasul) mestinya makhluk rohani (malaikat). Manusia, meskipun dia memiliki kesempurnaan rohani yang tinggi, seperti akal, akhlak dan adab yang mulia, namun tidak mungkin dia menjadi rasul, karena dia masih bergaul dengan manusia dan masih memiliki kebutuhan jasmani, seperti makan, minum dan berusaha. Fenomena kepercayaan seperti ini, bukan hal yang baru ada pada zaman Nabi Muhammad, tetapi telah ada sejak zaman Nabi Hud (al-Mu’minun/23: 33-34)

وَقَا لَ  الْمَلَاُ  مِنْ  قَوْمِهِ  الَّذِيْنَ  كَفَرُوْا  وَكَذَّبُوْا  بِلِقَآءِ  الْاٰ خِرَةِ  وَاَ تْرَفْنٰهُمْ  فِى  الْحَيٰوةِ  الدُّنْيَا  ۙ مَا  هٰذَاۤ  اِلَّا  بَشَرٌ  مِّثْلُكُمْ  ۙ يَأْكُلُ  مِمَّا  تَأْكُلُوْنَ  مِنْهُ  وَيَشْرَبُ  مِمَّا  تَشْرَبُوْنَ
“Dan berkatalah para pemuka orang kafir dari kaumnya dan yang mendustakan pertemuan hari akhirat serta mereka yang telah Kami beri kemewahan dan kesenangan dalam kehidupan di dunia, (Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan apa yang kamu makan, dan dia minum apa yang kamu minum.” (QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 33)

وَلَئِنْ  اَطَعْتُمْ  بَشَرًا  مِّثْلَـكُمْ  اِنَّكُمْ  اِذًا  لَّخٰسِرُوْنَ
“Dan sungguh, jika kamu menaati manusia yang seperti kamu, niscaya kamu pasti rugi,” (QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 34)

Kaum musyrik Mekah mempunyai dua anggapan mengenai kedudukan malaikat dalam kerasulan. Anggapan pertama ialah malaikat itu sendiri yang menjadi rasul. Anggapan kedua ialah malaikat itu menyertai Nabi dan menjelaskan langsung kepada mereka bahwa Muhammad adalah Nabi. Anggapan mereka yang kedua ini, jika tidak dikaitkan dengan kehadiran malaikat secara langsung di hadapan mereka, tidaklah menjadi sumber perselisihan, sebab Muhammad sudah menerangkan kepada mereka, bahwa mereka selalu didatangi malaikat. Tetapi mereka memandang diri mereka sederajat dengan Nabi dalam sifat-sifat kemanusiaan. Oleh karena itu, mereka berpendapat sanggup pula berhadapan dengan malaikat dan menerima pelajaran langsung dari malaikat. Di sinilah letak kekeliruan yang besar dari orang-orang kafir, terhadap diri sendiri; mereka menolak segala sesuatu yang tidak mereka peroleh secara langsung.

Terhadap anggapan mereka yang kedua, Allah menjelaskan dalam ayat ini bahwa kalau Allah menghadirkan malaikat di hadapan mereka dalam bentuknya yang asli yang terjadi tentulah kehancuran mereka, dan mereka tidak akan diberi kesempatan untuk menyatakan iman, bahkan azab segera akan menimpa mereka. Kehancuran mereka dapat disebabkan oleh kedahsyatan wujud malaikat itu saat malaikat itu menampakkan diri kepada mereka, atau mereka dimusnahkan oleh malaikat karena mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah.

Pemahaman agama tidak harus dibuktikan secara fisik, makanya ayat ayat di awal Quran harus percaya kepada yang ghaib.

الَّذِيْنَ  يُؤْمِنُوْنَ  بِا لْغَيْبِ  وَ  يُقِيْمُوْنَ  الصَّلٰوةَ  وَمِمَّا  رَزَقْنٰهُمْ  يُنْفِقُوْنَ

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 3).

Doa diteguhkan dalam keimanan

رَبَّنَا  لَا  تُزِغْ  قُلُوْبَنَا  بَعْدَ  اِذْ  هَدَيْتَنَا  وَهَبْ  لَنَا  مِنْ  لَّدُنْكَ  رَحْمَةً  ۚ اِنَّكَ  اَنْتَ  الْوَهَّا بُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 8)