Kepemimpinan yang Mengantarkan ke Surga atau Neraka

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَبَرَزُوْا  لِلّٰهِ  جَمِيْعًا  فَقَا لَ  الضُّعَفٰٓ ؤُا  لِلَّذِيْنَ  اسْتَكْبَرُوْۤا  اِنَّا  كُنَّا  لَـكُمْ  تَبَعًا  فَهَلْ  اَنْـتُمْ  مُّغْـنُوْنَ  عَنَّا  مِنْ  عَذَا بِ  اللّٰهِ  مِنْ  شَيْءٍ  ۗ قَا لُوْا  لَوْ  هَدٰٮنَا  اللّٰهُ  لَهَدَيْنٰكُمْ  ۗ سَوَآءٌ  عَلَيْنَاۤ  اَجَزِعْنَاۤ  اَمْ  صَبَرْنَا  مَا  لَــنَا  مِنْ  مَّحِيْصٍ

“Dan mereka semua (di Padang Mahsyar) berkumpul untuk menghadap ke hadirat Allah, lalu orang yang lemah berkata kepada orang yang sombong, Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan kami dari azab Allah (walaupun) sedikit saja? Mereka menjawab, Sekiranya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh atau bersabar. Kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 21)

Di hari akhir, pengikut dan pemimpin sama-sama tidak bisa saling menyelamatkan

Menurut tafsir lengkap Kementrian Agama RI, dalam ayat ini, Allah SWT menggambarkan keadaan yang akan terjadi kelak di Padang Mahsyar, di mana manusia dikumpulkan setelah mereka dibangkitkan dari kubur, untuk memperhitungkan amal kebajikan dan perbuatan jahat yang dilakukan masing-masing orang ketika di dunia.

Disebutkan dalam ayat ini, bahwa semua manusia akan berkumpul menghadap Allah di Padang Mahsyar, untuk dihisab dan mendengarkan keputusan Allah tentang nasib mereka selanjutnya. Dan setelah selesai dihisab, dan orang yang berdosa telah ditetapkan akan disiksa dalam neraka, timbullah kesadaran dan penyesalan dari kaum yang lemah iman yang telah teperdaya oleh bujukan orang-orang yang sombong di dunia ini yang memperlakukan diri mereka sebagai tuhan, dan kaum yang lemah iman sebagai hamba.

Ketika itu, mereka yang lemah iman berkata kepada orang-orang sombong yang pernah menjadi ikutan mereka selagi di dunia, “Kami pernah menjadi pengikut-pengikut kamu ketika di dunia. Sekarang, dapatkah kamu menghindarkan kami dari azab dan siksaan Allah, walaupun hanya sedikit saja?”

Selanjutnya, dalam ayat ini disebutkan jawaban orang-orang yang sombong itu atas pernyataan tersebut, “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, tentulah kami dapat pula memberi petunjuk kepada kamu. Sekarang keadaan kita sama, harus memilih antara mengeluh dan menyesali perbuatan kita, atau bersabar menerima nasib yang telah ditetapkan Allah kepada kita. Kita sekali-kali tidak mendapatkan tempat untuk melarikan diri dari azab dan siksa-Nya.”

Ayat ini menggambarkan dengan jelas, betapa besarnya kesalahan yang telah dilakukan kedua golongan itu. Golongan pertama, yaitu mereka yang lemah iman, telah membiarkan diri mereka menjadi permainan kaum yang sombong di dunia ini, dan telah menghambakan diri kepada mereka, dan di akhirat ternyata yang mereka agungkan itu tak mampu membela diri mereka sendiri dari azab Allah, apalagi membela orang-orang lain yang telah mereka perhamba di dunia ini. Sedang golongan kedua, telah melakukan penipuan kepada kaum lemah di dunia ini dan berlagak sebagai tuhan.

Di akhirat mereka dituntut pula oleh para pengikutnya untuk membela dan menghindarkan mereka dari azab Allah, akan tetapi mereka tidak berdaya apa-apa, berhadapan dengan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT.

Pemimpin tidak punya kuasa “menyelamatkan” dari azab Allah, yang ada adalah membimbing dan menunjukkan jalan keselamatan. Di sinilah kontrasnya terlihat dalam tadabur Surah Ibrahim Ayat 21.

Di hari akhir, semua pemimpin dunia lepas tangan karena tak punya kuasa menyelamatkan, tetapi Nabi Muhammad justru menunjukkan teladan kepemimpinan sejati: sangat peduli, membimbing umat ke jalan yang benar, bahkan hingga detik terakhir hidupnya, karena itulah satu-satunya bentuk “penyelamatan” yang hakiki.

Ibrahnya: Pemimpin yang benar bukan yang menjamin keselamatan, tapi yang mengantarkan manusia kepada hidayah sebelum terlambat.

Seorang pemimpin memiliki tanggung jawab yang sangat besar; jika ia adil dan membimbing kepada kebenaran, ia mendapat pahala yang besar, tetapi jika ia menyesatkan dan zalim, ia menanggung dosa dirinya dan orang yang mengikutinya.

Adapun rujukannya dapat dilihat dalam Al-Qur’an dan hadist di bawah ini:

  • Dalam Surah Ibrahim Ayat 21 dijelaskan bahwa pemimpin dan pengikut sama-sama tidak bisa saling menyelamatkan di akhirat, ini menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak otomatis menyelamatkan.
  • Dalam Surah An-Nahl Ayat 25: orang yang menyesatkan akan memikul dosa dirinya dan dosa orang lain yang diikutinya.
  • Dalam Surah An-Nisa Ayat 58: perintah berlaku adil, ini dasar utama kepemimpinan yang benar.
  • Hadits riwayat Nabi Muhammad:
    “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
  • Hadits tentang keutamaan pemimpin adil: “Tujuh golongan yang mendapat naungan Allah… di antaranya pemimpin yang adil.” (HR. Bukhari & Muslim)

Pemimpin bukan dijamin selamat, tapi justru posisi paling berisiko sekaligus paling mulia, tergantung bagaimana ia menjalankan amanahnya.

Jika diberi amanah menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang membawa keselamatan bagi umatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Pemimpin yang mengajak kepada kebaikan (ma’ruf), mencegah dari kemungkaran, serta mampu menginspirasi dan menuntun pengikutnya untuk terus berbuat kebajikan.

Doa memohon pemimpin yang bertakwa dan adil (dirangkai dari makna Al-Qur’an):

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا إِمَامًا عَادِلًا تَقِيًّا، يَقُودُنَا إِلَى الْحَقِّ وَيَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ

Allahummarzuqnā imāman ‘ādilan taqiyyan, yaqūdunā ilā al-haqqi wa ya’muru bil-ma‘rūf wa yanhā ‘anil munkar

“Ya Allah, anugerahkan kepada kami pemimpin yang adil dan bertakwa, yang membimbing kami kepada kebenaran serta mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran”