أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَاٰ مَنَ مَنْ فِى الْاَ رْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًا ۗ اَفَاَ نْتَ تُكْرِهُ النَّا سَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ
“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di Bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?” (QS. Yunus 10: Ayat 99)
Jika Allah berkehendak, seluruh manusia beriman kepada-Nya
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menerangkan bahwa jika Allah berkehendak agar seluruh manusia beriman kepada-Nya, maka hal itu akan terlaksana, karena untuk melakukan yang demikian adalah mudah bagi-Nya. Tetapi Dia tidak menghendaki yang demikian. Dia berkehendak melaksanakan Sunnah-Nya di alam ciptaan-Nya ini. Tidak seorangpun yang dapat mengubah Sunnah-Nya itu kecuali jika Dia sendiri yang menghendakinya. Di antara Sunnah-Nya ialah memberi manusia akal, pikiran, dan perasaan yang membedakannya dengan malaikat dan makhluk-makhluk yang lain. Dengan akal, pikiran, dan perasaan, manusia menjadi makhluk yang berbudaya, dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, baik untuk dirinya, untuk orang lain maupun untuk alam semesta ini. Kemudian amal perbuatan manusia diberi balasan sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya itu; perbuatan baik dibalas dengan pahala dan perbuatan jahat dan buruk dibalas dengan siksa.
Di samping itu, Allah mengutus para rasul untuk menyampaikan agama-Nya yang menerangkan kepada manusia mana yang baik dilakukan dan mana yang terlarang dilakukan. Manusia dengan akal, pikiran, dan perasaan yang dianugerahkan Allah kepadanya dapat menilai apa yang disampaikan para rasul. Tidak ada paksaan bagi manusia dalam menentukan pilihannya, baik atau buruk. Dan manusia akan dihukum berdasarkan pilihannya itu.
Hikmah dari Kenyataan Bahwa Tidak Semua Manusia Beriman
1. Untuk Menampakkan Kehendak Bebas (Free Will)
Allah memberikan manusia akal dan kehendak bebas, berbeda dari makhluk lain seperti malaikat yang hanya taat. Karena itulah keimanan manusia yang sejati memiliki nilai: ia lahir dari pilihan, bukan paksaan. “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama…” (QS. Al-Baqarah: 256)
Jika Allah langsung membuat semua orang beriman, maka:
• Tidak akan ada ujian hidup
• Tidak akan ada perbedaan derajat amal dan taqwa
• Manusia tidak bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya
2. Untuk Membedakan yang Jujur dan yang Pura-Pura
Keimanan sejati hanya tampak ketika manusia punya kesempatan untuk tidak beriman, tapi ia tetap memilih Allah.
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan: ‘Kami telah beriman’, dan mereka tidak diuji?”
(QS. Al-‘Ankabut: 2)
3. Menampakkan Sifat-Sifat Allah yang Maha Adil dan Maha Bijaksana
Kalau semua manusia dijadikan beriman tanpa kehendak mereka, maka:
• Sifat Al-‘Adl (Maha Adil) tidak tampak
• Tidak ada keadilan dalam pahala dan siksa
• Tidak ada ujian yang menunjukkan siapa yang taat dan siapa yang membangkang
4. Agar Dunia Menjadi Tempat Ujian, Bukan Surga
Kehidupan dunia bukan tempat ganjaran, tapi ujian. Allah memang menetapkan bahwa dunia ini akan selalu penuh perbedaan, termasuk dalam hal iman. “Dialah yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.”(QS. Al-Mulk: 2). Kalau semua beriman, maka dunia tidak lagi jadi ladang ujian.
5. Memberi Ruang untuk Dakwah dan Tumbuhnya Hidayah
Sebagian manusia tidak beriman—namun sebagian dari mereka bisa berubah melalui dakwah, kasih sayang, dan pengalaman hidup. Di sinilah peran kita: menyampaikan kebenaran dengan hikmah, karena manusia diberi waktu dan kesempatan untuk berubah.
Kesimpulan, Allah dapat menjadikan seluruh manusia beriman, tapi tidak menghendaki itu secara mutlak karena:
• Allah menciptakan manusia dengan kehendak bebas
• Iman tanpa pilihan tidak punya nilai
• Dunia ini adalah tempat ujian, bukan akhirat
“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan jalan, ada yang bersyukur (beriman) dan ada pula yang kafir.” (QS. Al-Insan: 3)
Doa Memohon Hidayah dan Keteguhan Iman;
“Ya Allah, berilah aku petunjuk dan jadikanlah aku sebab bagi petunjuk orang lain. Teguhkan aku di atas keimanan, jadikan aku jalan hidayah bagi selainku, dan karuniakan kami hikmah dalam berdakwah serta kesabaran atas hasilnya.”