Kaum Nabi Yunus adalah Satu-satunya Kaum yang Beriman Setelah Melihat Tanda Azab

Allah SWT berfirman;
‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَلَوْلَا  كَا نَتْ  قَرْ يَةٌ  اٰمَنَتْ  فَنَفَعَهَاۤ  اِيْمَا نُهَاۤ  اِلَّا  قَوْمَ  يُوْنُسَ  ۗ لَمَّاۤ  اٰمَنُوْا  كَشَفْنَا  عَنْهُمْ  عَذَا بَ  الْخِزْ يِ  فِى  الْحَيٰوةِ  الدُّنْيَا  وَمَتَّعْنٰهُمْ  اِلٰى  حِيْنٍ
“Maka mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu tertentu.” (!QS. Yunus 10: Ayat 98)
Kaum Nabi Yunus adalah satu-satunya kaum yang beriman setelah melihat tanda azab, sehingga Allah cabut azab dan beri mereka kehidupan sampai waktu yang ditentukan
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menerangkan bahwa sikap yang paling baik dilakukan oleh suatu kaum ialah bila seorang rasul menyeru kepada mereka untuk beriman kepada Allah dengan mengemukakan bukti-bukti kebenaran seruannya, lalu mereka berkenan menyambut seruan rasul itu dengan beriman dan melaksanakan risalah yang dibawanya. Iman yang seperti itu adalah iman yang bermanfaat dan menguntungkan, karena itu dilakukan di saat seseorang dalam keadaan mampu memikul beban yang dipikulkan Allah kepadanya (taklif). Iman itu tidak berfaedah bagi seseorang bila dia dalam keadaan tidak taklif, seperti iman Firaun di saat ia akan tenggelam di tengah lautan dan seperti iman orang-orang kafir di saat mereka diazab dalam neraka. Iman di saat itu tidak diterima lagi.
Kaum Nabi Yunus adalah kaum yang beriman dalam keadaan taklif, sehingga iman itu berfaedah bagi mereka. Nabi Yunus diutus kepada penduduk kota Nainawa (Ninive), untuk menyampaikan agama Allah, tetapi mereka mengingkari seruan itu. Yunus menerangkan kepada mereka bahwa jika mereka tidak juga beriman, Allah akan menurunkan azab kepada mereka setelah tiga hari. Pada hari ketiga, Yunus menghindar dari negeri itu. Pada pagi hari yang dijanjikan itu, mereka melihat tanda akan kedatangan azab itu. Oleh karena itu, mereka mencari Yunus, tetapi Yunus tidak mereka temui. Lalu mereka berkumpul bersama keluarga dan binatang ternak mereka di tengah lapang memohon kepada Allah agar azab yang dijanjikan itu tidak ditimpakan kepada mereka dan mereka menyatakan iman kepada-Nya. Allah menerima tobat mereka dan membatalkan penurunan azab kepada mereka. Kemudian Allah memberikan kepada mereka kesenangan hidup sampai akhir hayat mereka, sebagai balasan dari keimanan mereka.
Azab sudah mulai tampak, tetapi dihentikan karena mereka bertaubat total.
Keterangan dalam Tafsir (misalnya: Tafsir Ibn Katsir, Al-Baghawi, dan Al-Qurthubi)
Menurut para mufassir:
  • Kaum Nabi Yunus mulai melihat tanda-tanda azab, seperti:
  • Langit menjadi gelap (dengan awan hitam pekat)
  • Asap tebal menutupi daerah mereka
  • Suara gemuruh mengerikan
  • Tercium bau sangat menyengat
  • Mereka mengira kiamat atau kehancuran telah datang, lalu:
  • Mereka keluar dari kota, membawa anak-anak dan ternak
  • Menangis, memohon ampun, dan bertobat sungguh-sungguh
  • Allah pun mencabut azab tersebut.
Surah Yunus ayat 98  menunjukkan bahwa taubat berjamaah bisa menghentikan azab, dan iman yang tulus, meskipun datang terlambat, tetap bisa menyelamatkan—asal datang sebelum kematian atau azab benar-benar turun.
Tadabbur (Renungan) dari Yunus 98
1. Azab bisa dibatalkan jika ada pertobatan  berjamaah.
Kaum Nabi Yunus adalah satu-satunya kaum yang bertaubat sebelum azab benar-benar menimpa, dan itu menyelamatkan mereka. Tadabburnya:
  • Azab bukan takdir mutlak—ia bisa dihindari dengan iman dan perubahan berjamaah.
  • Kita sering terlalu pasrah, padahal Al-Qur’an justru menunjukkan bahwa keselamatan adalah pilihan yang bisa diperjuangkan
2. Taubat yang diterima adalah yang dilakukan sebelum terlambat
Kaum Nabi Yunus bertaubat saat azab baru mulai tampak, bukan saat mereka sudah mati. Tadabburnya:
  • Taubat yang efektif adalah taubat yang cepat, tidak menunggu musibah menimpa seluruhnya.
  • Menunda-nunda taubat adalah perjudian jiwa.
3. Keselamatan datang saat masyarakat berubah bersama
Yang Allah selamatkan bukan hanya individu, tapi seluruh komunitas yang bertaubat bersama. Tadabburnya:
  • Kita tidak cukup hanya sholeh sendiri; harus ada kesadaran sosial dan seruan kebaikan bersama
  • Dakwah dan edukasi itu penting, karena perubahan masyarakat harus dimulai dari kesadaran berjamaah
4. Iman harus diiringi dengan tindakan nyata
Kaum Nabi Yunus meninggalkan dosa, menangis, keluar rumah, membawa anak dan ternak, memohon ampun secara total.  Tadabburnya:
  • Taubat bukan cuma ucapan di lisan. Ia harus disertai aksi nyata dan pengakuan berjamaah  atas kesalahan “Ketika manusia sadar sebelum terlambat, dan bersatu dalam tobat dan kejujuran, rahmat Allah lebih luas dari azab-Nya.”
Doa Nabi Yunus;
Meskipun doa ini dibaca oleh Nabi Yunus sendiri saat dalam perut ikan, umat Islam sering menggunakannya dalam konteks tobat pribadi maupun berjamaah, karena sangat kuat maknanya:
لَا إِلَـٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ
Lā ilāha illā anta, subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn.
“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)