أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
قُلْ يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اِنْ كُنْتُمْ فِيْ شَكٍّ مِّنْ دِيْنِيْ فَلَاۤ اَعْبُدُ الَّذِيْنَ تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰـكِنْ اَعْبُدُ اللّٰهَ الَّذِيْ يَتَوَفّٰٮكُمْ ۖ وَاُ مِرْتُ اَنْ اَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
“Katakanlah (Muhammad), Wahai manusia! Jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah agar termasuk orang yang beriman,” (QS. Yunus : 10 : 104).
Kematian adalah peringatan yang paling efektif, tetap saja banyak orang yang abai
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah memerintahkan Rasul saw untuk mengatakan kepada kaumnya bahwa jika mereka itu meragukan kebenaran agama yang dibawanya, yang mengajarkan tentang keesaan Allah, maka semestinya mereka lebih dulu meragukan keyakinan yang mereka pertahankan. Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw menyatakan kepada mereka bahwa dia tidak akan menyembah batu-batu berhala dan patung yang mereka sembah yang tidak memiliki kemampuan sedikitpun. Tetapi dia akan menyembah Tuhan Maha Pencipta, Yang menentukan hidup dan mati makhluk-Nya. Dia-lah yang memberi kesenangan dan kesusahan, kemanfaatan dan kemudaratan, menurut hikmah dan inayah-Nya, bukan tuhan seperti yang mereka sembah itu.
Dengan perbandingan itu maka bertambah jelaslah kebenaran agama yang dibawa Rasul saw dan kesesatan keyakinan kaum musyrikin. Kemudian Nabi Muhammad saw mengatakan kepada kaum musyrikin Arab bahwa dia diperintahkan supaya menjadi orang yang beriman. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman keselamatan dari azab, kemenangan atas musuh-musuh mereka dan kekuasaan di bumi.
Orang muda lebih susah diingatkan karena merasa jauh dari kematian, orang tua seharusnya lebih mudah diingatkan akan kematian, karena dirinya sendiri sudah banyak kelemahan dan orang orang yang sebayanya sudah banyak yang meninggal. Ayat ini adalah deklarasi tegas bahwa:
- Rasul menyerahkan diri hanya kepada Allah, bukan kepada sembahan selain-Nya.
- Allah-lah yang menguasai hidup dan kematian manusia, bukan ilah lain.
- Kematian disebut secara spesifik: “yang akan mewafatkan kamu” (ٱلَّذِى يَتَوَفَّىٰكُمْ) — sebagai pengingat kuat tentang siapa yang benar-benar mengatur nasib manusia.
“Kematian adalah peringatan paling efektif, tapi diabaikan. Orang muda cenderung lalai karena merasa jauh dari kematian, sedangkan orang tua harusnya lebih tersentuh karena usia dan pengalaman. Orang tua harusnya menyadari bahwa kematian adalah peringatan, karena kematian kerabat dan pertemanan lebih banyak dirasakan oleh orang tua.
Ini bisa dikaitkan dengan ayat tersebut karena:
- Ayat menegaskan Allah sebagai penguasa kematian → artinya manusia seharusnya tunduk, takut, dan sadar posisi.
- Orang yang lalai, entah muda atau tua, telah menyekutukan (dalam makna sikap) pengatur hidupnya dengan selain Allah: hawa nafsu, keangkuhan, dunia.
Doa untuk keteguhan dalam tauhid, keimanan kepada Allah sebagai satu-satunya yang patut disembah, dan kesadaran bahwa hanya Allah yang mengatur kehidupan dan kematian:
اللَّهُمَّ ثَبِّتْنِي عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُؤْمِنِينَ بِكَ وَالْمُخْلِصِينَ فِي عِبَادَتِكَ، وَارْزُقْنِي حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، فَإِنَّكَ أَنْتَ الَّذِي تَتَوَفَّانَا، وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ.
“Ya Allah, teguhkanlah aku di atas agama-Mu. Jadikanlah aku termasuk orang-orang yang beriman kepada-Mu dan tulus dalam menyembah-Mu. Anugerahkan kepadaku husnul khatimah, karena Engkaulah yang mewafatkan kami, dan hanya kepada-Mu kami akan kembali.”