Berpegang Teguhlah pada Agama yang Lurus dengan Ikhlas dan Jauhilah Segala Bentuk Kemusyrikan

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَاَ نْ  اَقِمْ  وَجْهَكَ  لِلدِّيْنِ  حَنِيْفًا  ۚ وَلَا  تَكُوْنَنَّ  مِنَ  الْمُشْرِكِيْنَ
“dan (aku telah diperintah), Hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan tulus dan ikhlas, dan jangan sekali-kali engkau termasuk orang yang musyrik.” ( Yunus 10: Ayat 105).
Berpeganglah teguh pada agama yang lurus dengan ikhlas dan jauhilah segala bentuk kemusyrikan
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini diterangkan bahwa Nabi Muhammad saw diperintahkan agar menghadapkan wajahnya dan seluruh dirinya kepada Allah, memfokuskan perhatian pada tugas-tugas agama dan mengabdi kepada Tuhan semesta alam. Sebab jika dia memberikan perhatian kepada selain Allah, maka hal itu mengurangi kebulatan jiwanya dalam menghadap Tuhan dan pengabdian terhadap agamanya. Kepada Allah sajalah hendaknya tujuan segala pengabdiannya lahir dan batin. Janganlah dia termasuk orang yang mempersekutukan Allah dalam ibadah dengan dewa-dewa, jin-jin, roh-roh, atau patung-patung seperti halnya penyembah-penyembah berhala. Larangan Allah terhadap Rasul ini dimaksudkan untuk mendorong dan merangsang Rasul saw untuk tetap menjauhi sifat-sifat syirik.
Yunus: 105 memang secara langsung khitob (seruan) ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi secara makna dan kandungan, ayat ini juga berlaku umum untuk seluruh umat manusia.
  1. Khitob langsung kepada Nabi SAW; Gaya bahasa Al-Qur’an sering menggunakan bentuk perintah langsung kepada Nabi Muhammad SAW sebagai representasi umat. Jadi, walaupun sasarannya Nabi, pesan tersebut mengandung pelajaran universal untuk semua manusia.
  2. Makna Umum; Perintah untuk berpegang pada agama secara ikhlas, menjauhi kemusyrikan, dan hidup sesuai fitrah, adalah ajaran yang ditujukan untuk semua umat manusia. Ini diperkuat oleh ayat-ayat lain yang berbicara tentang fitrah dan tauhid.
  3. Tafsir Ulama; Banyak mufassir seperti Al-Qurtubi, Ibnu Katsir, dan Al-Syaukani menegaskan bahwa perintah dalam ayat ini bukan hanya untuk Nabi, tetapi juga untuk umat beliau, sebagai bentuk ajakan menuju tauhid yang murni.
Meskipun khitob langsungnya adalah kepada Nabi Muhammad SAW, kandungan maknanya berlaku umum untuk semua manusia. Ini adalah ciri khas Al-Qur’an dalam menyampaikan ajaran universal melalui seruan kepada Nabi sebagai teladan umat.
Doa ketulusan dalam beragama dan menjauhi kemusyrikan;
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الْمُخْلِصِينَ لَكَ الدِّينَ، وَثَبِّتْنِي عَلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ، وَنَجِّنِي مِنَ الشِّرْكِ وَأَهْلِهِ
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mengikhlaskan agama hanya kepada-Mu, tetapkanlah aku di atas jalan-Mu yang lurus, dan lindungilah aku dari kemusyrikan dan para pelakunya.”