Kekejaman Firaun kepada Bani Israil, Membunuh Anak Laki-laki dan Membiarkan Hidup Anak Perempuan Mereka

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَاِ ذْ  اَنْجَيْنٰكُمْ  مِّنْ  اٰلِ  فِرْعَوْنَ  يَسُوْمُوْنَـكُمْ  سُوْٓءَ  الْعَذَا بِ  ۚ يُقَتِّلُوْنَ  اَبْنَآءَكُمْ  وَ  يَسْتَحْيُوْنَ  نِسَآءَكُمْ  ۗ وَفِيْ  ذٰ  لِكُمْ  بَلَآ ءٌ  مِّنْ  رَّبِّكُمْ  عَظِيْمٌ

“Dan (ingatlah wahai Bani Israil) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir’aun) dan kaumnya, yang menyiksa kamu dengan siksaan yang sangat berat, mereka membunuh anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu merupakan cobaan yang besar dari Tuhanmu.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 141)

Firaun, kekuasaannya sangat besar dan zalim, membunuh yang kuat (laki laki) dan membiarkan hidup yang lemah (perempuan)

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini Allah mengingatkan kepada Bani Israil yang ingin dibuatkan tuhan selain Allah itu, bahwa mereka telah diberi nikmat yang berlimpah berupa diutusnya Nabi Musa kepada mereka, untuk melepaskan mereka dari belenggu penindasan dan perbudakan Firaun yang telah membunuh setiap anak lelaki mereka yang lahir, dan membiarkan hidup anak perempuan mereka dengan maksud agar Bani Israil tetap dalam keadaan lemah dan tetap dalam perbudakan untuk ditindas selama-lamanya. Hendaknya segala macam cobaan dan pengalaman-pengalaman yang pahit itu dapat dijadikan pelajaran dengan mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa dan berusaha setiap waktu agar pengalaman-pengalaman itu tidak terulang lagi.

Al-Qur’an menceritakan kisah Fir’aun yang zalim dan melakukan pembataian terhadap bayi laki-laki yang lahir. Apa yang menyebabkan Fir’aun (Ramses II) membunuh semua bayi laki-laki?

اِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِى الۡاَرۡضِ وَجَعَلَ اَهۡلَهَا شِيَـعًا يَّسۡتَضۡعِفُ طَآٮِٕفَةً مِّنۡهُمۡ يُذَبِّحُ اَبۡنَآءَهُمۡ وَيَسۡتَحۡىٖ نِسَآءَهُمۡ‌ ؕ اِنَّهٗ كَانَ مِنَ الۡمُفۡسِدِيۡنَ

“Sungguh, Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir’aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas Ayat 4)

Fir’aun menindas Bani Israil karena dianggap golongan yang berbahaya. Jika dibiarkan pasti akan menggerogoti pemerintahannya. Dia pun memperlakukan golongan ini dengan hina dan dianggap sebagai golongan budak yang tidak mempunyai hak apa-apa. Golongan ini bahkan dipaksa membangun piramida dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar dan berat lainnya. Apalagi setelah ia mendengar dari tukang-tukang tenungnya bahwa yang akan merobohkan kekuasaannya ialah Bani Israil. Semenjak itu Fir’aun bertekad bulat untuk membasmi golongan ini.

Diriwayatkan oleh as-Suddi bahwa Fir’aun pernah bermimpi melihat api datang ke negerinya dari Baitul Makdis. Api itu membakar rumah-rumah kaum Fir’aun dan membiarkan rumah-rumah Bani Israil. Fir’aun bertanya kepada orang-orang cerdik-pandai dan tukang-tukang tenung. Mereka menjawab bahwa takwil mimpi itu ialah akan lahir seorang anak laki-laki (dari Bani Israil) yang akan meruntuhkan kekuasaannya di Mesir. Takwil inilah yang mendorong Fir’aun melakukan tindakan kejam dengan membunuh setiap bayi laki-laki. Nabi Musa Selamatkan Bani Israil Fir’aun bisa saja membunuh semua laki-laki dari Bani Israel, namun ia tidak dapat melampaui kuasa Allah. Qodarullah, atas kehendak Allah, Musa lahir tanpa sepengetahuan Fir’auan dan prajuritnya.

Dikisahkan, Ibunda Nabi Musa diberi Ilham oleh Allah untuk menyusui Musa kecil lalu menghanyutkannya di Sungai Nil menggunakan keranjang. Musa kecil ditemukan istri Fir’aun. Istri Fir’aun ingin merawat Nabi Musa kecil dan Qadrullah, Fir’aun setuju. Ajaibnya, Musa kecil tidak mau menyusu kepada siapapun. Akhirnya dipanggillah orang yang dapat menyusui beliau dan tak lain perempuan tersebut adalah ibunya. Musa kecil tumbuh besar dan sehat di lingkungan kerajaan Fir’aun. Ibnu Abbas menerangkan ayat-ayat yang menceritakan Nabi Musa. Mulai dari upaya pembantaian Fir’aun terhadap bayi lelaki. Kemudian kisah Musa dilempar di sungai dan ditemukan oleh keluarga Firaun. Kemudian kisah Musa menarik jenggotnya firaun, hingga Musa diberi pilihan antara kurma dan bara.

Nabi Musa suaranya tidak jelas, karena lidahnya pernah terkena bara api, pada saat disuruh memilih antara kurma dan bara api, nabi Musa kecil memilih bara api, pada saat mau bicara berhadapan dengan Firaun, nabi Musa berdoa;

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Robbisrohli sodri, wayassirli amri, wahlul ‘uqdatammil lisani yafqohu qouli.

“Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS. Taha ayat 25-28).