Ibroh dari Kisah Nabi Musa; Selalu Berusaha Memperbaiki Diri

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَوٰعَدْنَا  مُوْسٰى  ثَلٰثِيْنَ  لَيْلَةً  وَّاَتْمَمْنٰهَا  بِعَشْرٍ  فَتَمَّ  مِيْقَا تُ  رَبِّهٖۤ  اَرْبَعِيْنَ  لَيْلَةً  ۚ وَقَا لَ  مُوْسٰى  لِاَ خِيْهِ  هٰرُوْنَ  اخْلُفْنِيْ  فِيْ  قَوْمِيْ  وَاَ صْلِحْ  وَلَا  تَتَّبِعْ  سَبِيْلَ  الْمُفْسِدِيْنَ

“Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa (memberikan Taurat) tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada saudaranya (yaitu) Harun, Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah (dirimu dan kaummu), dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 142)

Perbaiki dirimu dan kaummu, dan janganlah engkau mengikuti jalan orang orang yang berbuat kerusakan

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dan Kami telah menjanjikan kepada Nabi Musa untuk bermunajat kepada Kami dan Kami memberikan kitab Taurat setelah berlalu waktu tiga puluh malam. Dan untuk melengkapi ibadahnya, Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh malam lagi, maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhan Pemeliharanya, yaitu empat puluh malam. Dan ingat juga ketika Nabi Musa berkata kepada saudaranya, yaitu Nabi Harun, sebelum keberangkatannya untuk memenuhi janji itu, “Gantikanlah aku dalam memimpin kaumku sampai aku kembali, dan perbaikilah dirimu dan kaummu, dan janganlah engkau mengikuti

Sebagai seorang Muslim, upaya untuk terus memperbaiki diri adalah sebuah kewajiban. Islam adalah agama yang menekankan pembangunan diri, moralitas, dan karakter yang baik. Meskipun kita mungkin telah mengucapkan dua kalimat syahadat yang menyatakan keiman kita, perjalanan kita sebagai seorang Muslim tidak berakhir di sana. Berikut adalah beberapa alasan mengapa sebagai seorang Muslim kita perlu terus memperbaiki diri:

1. Kewajiban dalam Islam

Islam memandang perbaikan diri sebagai sebuah kewajiban. Tidak hanya kewajiban ritual seperti shalat dan puasa yang harus dijalani, tetapi juga kewajiban untuk menjadi individu yang lebih baik dari segi moral dan etika. Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad SAW banyak berbicara tentang pentingnya berbuat baik, berbuat adil, dan meningkatkan diri dalam semua aspek kehidupan.

2. Ketaatan kepada Allah

Memperbaiki diri adalah sebuah bentuk ketaatan kepada Allah. Ketika kita berusaha untuk menjadi lebih baik, kita mendekatkan diri kepada Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Dalam Al-Quran, Allah memerintahkan kita untuk terus meningkatkan iman dan amal saleh.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Quran, Surah Al-Hashr, 59:18)

3. Pencarian Ilmu

Pencarian ilmu adalah salah satu aspek penting dalam perbaikan diri. Islam mendorong umatnya untuk terus belajar dan mencari pengetahuan. Dengan meningkatkan pengetahuan kita, kita dapat lebih memahami ajaran agama dan cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini juga membantu kita untuk berkontribusi positif dalam masyarakat.

4. Membentuk Karakter Mulia

Islam menganjurkan untuk membentuk karakter yang mulia dan berakhlak baik. Ini termasuk berbuat baik kepada sesama, menjaga kesucian hati, dan menghindari sifat-sifat buruk seperti kecemburuan, kedengkian, dan kemunafikan. Dengan memperbaiki karakter, kita dapat menjadi teladan yang baik bagi orang lain dan membantu menciptakan masyarakat yang lebih baik.

5. Perbaikan Diri sebagai Proses Seumur Hidup

Perbaikan diri adalah sebuah proses seumur hidup. Tidak ada batas waktu dalam usaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kita harus terus belajar dari pengalaman, menghadapi cobaan, dan berusaha untuk menjadi lebih baik setiap hari. Ini adalah bagian dari perjalanan spiritual kita sebagai seorang Muslim.

6. Pengaruh Positif pada Lingkungan

Dengan menjadi individu yang lebih baik, kita juga memiliki pengaruh positif pada lingkungan sekitar kita. Keluarga, teman-teman, dan masyarakat akan merasakan manfaat dari perbaikan diri kita. Ini dapat menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan damai.

7. Akhirat yang Lebih Baik

Dalam Islam, perbaikan diri di dunia berdampak pada kebahagiaan dan keberuntungan di akhirat. Amal shalih yang kita lakukan di dunia akan membantu kita memperoleh surga dan keridhaan Allah di akhirat. Oleh karena itu, perbaikan diri bukan hanya tentang hidup yang lebih baik di dunia, tetapi juga persiapan untuk akhirat yang lebih baik.

Sebagai seorang Muslim, perbaikan diri adalah kewajiban yang harus diemban. Ini bukan hanya tentang memenuhi ritual keagamaan, tetapi juga tentang membentuk karakter, moralitas, dan etika yang baik. Melalui perbaikan diri, kita mendekatkan diri kepada Allah, memberikan pengaruh positif pada lingkungan, dan mempersiapkan diri untuk akhirat yang lebih baik.

Allah SWT memberikan kelebihan kepada manusia untuk menentukan masa depan yang lebih baik sebagaimana perintah Allah SWT dalam Surat Ar-Ra’d, ayat 11:

إِنَّ اللهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri agar lebih baik pada masa depan.”

Dalam konteks ini Rasulullah SAW bersabda:

من كان يومه خيرا من امسه فهو رابح. ومن كان يومه مثل امسه فهو مغبون. ومن كان يومه شرا من امسه فهو ملعون.( رواه الحاكم)

“Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka.” (HR Al Hakim).

Semoga kita termasuk orang yang selalu memperbaiki diri, untuk lebih baik dan lebih baik lagi dan berujung dengan kematian husnul khotimah.