Kebenaran  Tanpa Kekuasaan (Nabi Musa) dan Kekuasaan Besar Tanpa Kebenaran (Firaun)

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَمَاۤ  اٰمَنَ  لِمُوْسٰۤى  اِلَّا  ذُرِّيَّةٌ  مِّنْ  قَوْمِهٖ  عَلٰى  خَوْفٍ  مِّنْ  فِرْعَوْنَ  وَمَلَا۟  ئِهِمْ  اَنْ  يَّفْتِنَهُمْ  ۗ وَاِ نَّ  فِرْعَوْنَ  لَعَا لٍ  فِى  الْاَ رْضِ  ۚ وَاِ نَّهٗ  لَمِنَ  الْمُسْرِفِيْنَ
“Maka tidak ada yang beriman kepada Musa selain keturunan dari kaumnya dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan para pemuka (kaum)nya akan menyiksa mereka. Dan sungguh, Fir’aun itu benar-benar telah berbuat sewenang-wenang di Bumi dan benar-benar termasuk orang yang melampaui batas.” (QS. Yunus 10: Ayat 83).
Memilih ikut nabi Musa atau Firaun
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Meskipun telah terbukti bahwa yang dibawa Nabi Musa adalah mukjizat dan yang didatangkan oleh Fir’aun adalah sihir, tetapi hati Fir’aun dan mayoritas kaumnya telah tertutup dari hidayah iman, maka tidak ada yang beriman kepada Musa, selain sebagian keturunan dari kaumnya, yakni kaum Nabi Musa yang dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan para pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Dan sungguh, Fir’aun itu benar-benar telah berbuat sewenang-wenang di bumi, yakni di Mesir dengan menindas Bani Israil, dan benar-benar termasuk orang yang melampaui batas dalam melakukan kezaliman serta sangat sombong.
Kebenaran  tanpa kekuasaan (diwakili oleh Nabi Musa) dan kekuasaan besar tanpa kebenaran (diwakili oleh Firaun).
Cerita Reflektif: Antara Musa dan Firaun
Bayangkan  hidup di Mesir kuno. Di hadapannya ada dua tokoh:
  • Firaun: Raja agung Mesir. Ia membangun infrastruktur megah, piramida, jalan-jalan besar, sistem irigasi, dan kota-kota modern di zamannya. Ia memberikan keamanan dan keteraturan. Namun, ia juga menindas, memperbudak, dan membunuh anak-anak Bani Israil. Ia mengaku sebagai tuhan tertinggi: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS An-Nazi’at: 24)
  • Musa: Seorang nabi dari kaum tertindas. Ia tidak punya tentara, tidak punya istana, bahkan hanya tongkat di tangannya. Tapi ia membawa satu hal yang tidak dimiliki Firaun: kebenaran dari Tuhan. Ia menyeru pada keadilan, membela yang lemah, dan mengajak untuk menyembah Allah yang Esa.
Jika pilihan itu ada di depan mata, mana yang akan dipilih ?
  • Pilih Firaun, yang menjamin kenyamanan dunia, tetapi membungkam nurani dan menindas?
  • Atau pilih Musa, yang mungkin tidak menjanjikan kekuasaan duniawi, tapi membawa jalan menuju keadilan dan keselamatan sejati?
Refleksi dari Kisah Ini
Allah menegur manusia yang lebih memilih dunia: “Sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan (di belakang mereka) hari yang berat (akhirat).” (QS Al-Insan: 27)
Dan Allah memuliakan Musa, walaupun secara kasat mata ia bukan “penguasa”: “Dan sungguh telah Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat), dan Kami jadikan ia petunjuk bagi Bani Israil…” (QS As-Sajdah: 23)
Pelajaran Moral, kisah ini sering dijadikan bahan muhasabah oleh para ulama:
  • Kekuasaan bukan ukuran kebenaran.
  • Kemegahan dunia tidak selalu berarti berkah.
  • Kadang, orang harus memilih antara hidup nyaman tapi bersekutu dengan kebatilan, atau hidup sulit tapi tetap bersama kebenaran.
“Jika  hidup di zaman Musa dan Firaun, kita berdiri di sisi siapa?”
Doa agar teguh dalam iman dan berani menolak kebatilan
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ، وَارْزُقْنِي شَجَاعَةَ الْحَقِّ فِي وَجْهِ الْبَاطِلِ، وَلَا تَجْعَلْنِي مِمَّنْ خَافُوا النَّاسَ فَفَرُّوا مِنَ الْحَقِّ إِلَى الْبَاطِلِ.
“Ya Allah, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu, anugerahkan kepadaku keberanian untuk menyuarakan kebenaran di hadapan kebatilan, dan jangan jadikan aku termasuk orang-orang yang takut kepada manusia sehingga lari dari kebenaran menuju kebatilan.”