Beriman kepada Allah, Maka Bertawakalah dan Berserah Diri Sepenuhnya Hanya Kepada-Nya

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَقَا لَ  مُوْسٰى  يٰقَوْمِ  اِنْ كُنْتُمْ  اٰمَنْتُمْ  بِا للّٰهِ  فَعَلَيْهِ  تَوَكَّلُوْاۤ  اِنْ كُنْتُمْ  مُّسْلِمِيْنَ
“Dan Musa berkata, Wahai kaumku! Apabila kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya jika kamu benar-benar orang muslim (berserah diri).” (QS. Yunus 10: Ayat 84)
Beriman kepada Allah, maka bertawakalah dan berserah diri sepenuhnya hanya kepada-Nya
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Setelah Musa melihat orang-orang yang beriman dalam keadaan ketakutan, maka dia menyerukan kepada mereka agar bertawakkal kepada Allah jika mereka benar-benar beriman kepada-Nya disertai dengan penyerahan diri dan ketaatan yang mutlak terhadap perintah dan larangan Allah. Keimanan tanpa pengamalan yang nyata terhadap ajaran Allah dan Rasul-Nya, adalah keimanan yang tidak bermakna. Tawakkal kepada Allah akan lahir dari jiwa orang yang beriman dan dia taat mengamalkan ajaran agamanya dalam batas kemampuannya. Ayat ini menunjukkan bahwa tidak semua kaum Bani Israil itu beriman kepada Musa sewaktu mereka berada di Mesir.
Di samping beriman kepada Allah, hendaknya seseorang beriman kepada Rasul. Barulah ia menjadi seorang Muslim yang berserah diri dan taat terhadap perintah dan larangan agama yang dibawa Rasul itu. Orang-orang Yahudi sesudah selamat meninggalkan bumi Mesir dan tiba di Sinai, mereka menuntut kepada Musa agar dibuatkan patung Tuhan bagi mereka. Kemudian, ketika mereka ditinggalkan Musa yang akan menerima wahyu di bukit Sinai, mereka menjadikan anak lembu sebagai Tuhan dan menyembahnya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa tidak seluruh orang Yahudi beriman dan taat kepada ajaran Musa a.s.
Inti Kandungan Yunus: 84
  1. Seruan Tauhid dan Tawakal; Nabi Musa mengajak kaumnya untuk benar-benar bertawakal kepada Allah jika memang mereka mengaku beriman.
  2. Keimanan yang Konsisten; Ayat ini menunjukkan bahwa iman yang sejati harus dibuktikan dengan tindakan, yaitu berserah diri hanya kepada Allah — bukan kepada kekuasaan dunia seperti Firaun.
  3. Konteks Tekanan Politik dan Sosial; Seruan ini muncul di tengah ketakutan Bani Israil, yang sebelumnya digambarkan dalam ayat 83 — mereka takut kepada Firaun meskipun mereka tahu Musa membawa kebenaran.
  4. Makna Menjadi Muslim; Ayat ini juga memperkuat bahwa menjadi Muslim bukan sekadar identitas, tapi berarti percaya, tunduk, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, termasuk dalam kondisi sulit.
Pelajaran Penting
  • Jangan hanya mengaku beriman, tapi buktikan dengan tawakal di saat sulit.
  • Keteguhan Nabi Musa menjadi contoh keberanian spiritual dalam menghadapi penguasa zalim.
  • Tawakal adalah ujian iman: jika benar-benar percaya Allah, maka harus menyerahkan urusan hanya kepada-Nya — meski risiko duniawi tampak berat.
Doa agar benar-benar bertawakal kepada Allah setelah beriman dan berserah diri.
اللَّهُمَّ إِنَّا آمَنَّا بِكَ وَتَوَكَّلْنَا عَلَيْكَ، فَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Allahumma innā āmannā bika wa tawakkalnā ‘alaika, fa thabbit aqdāmanā wansurnā ‘ala al-qawmi azh-zhālimīn.”
“Ya Allah, sesungguhnya kami telah beriman kepada-Mu dan bertawakal kepada-Mu, maka teguhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami menghadapi kaum yang zalim.”