Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
مَثَلُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ اَعْمَا لُهُمْ كَرَمَا دِ ٱِشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيْحُ فِيْ يَوْمٍ عَا صِفٍ ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ مِمَّا كَسَبُوْا عَلٰى شَيْءٍ ۗ ذٰلِكَ هُوَ الضَّلٰلُ الْبَعِيْدُ
“Perumpamaan orang yang ingkar kepada Tuhannya, perbuatan mereka seperti abu yang ditiup oleh angin keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak kuasa (mendatangkan manfaat) sama sekali dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 18)
Amalan orang-orang kafir tidak bernilai di sisi Allah dan lenyap seperti abu yang diterbangkan angin
Menurut tafsir lengkap Kementrian Agama RI dijelaskan bahwa jika dalam ayat-ayat di atas Allah telah menjelaskan azab yang akan diderita orang-orang kafir dalam neraka Jahanam, maka dalam ayat ini dijelaskan-Nya kerugian besar yang akan mereka derita, yaitu pahala dari amalan kebajikan mereka di dunia, kalau ada, dihapus Allah.
Dengan demikian, mereka tidak dapat merasakan manfaat apapun dari amalan kebajikan yang mungkin pernah mereka perbuat di dunia. Amalan-amalan mereka itu diibaratkan oleh ayat ini bagaikan abu yang ditiup angin kencang, hilang tanpa kesan. Keadaan yang demikian adalah akibat dari kesesatan mereka dan penyelewengan yang jauh sekali dari petunjuk Allah swt.
QS. Ibrahim:18 menjelaskan: Orang-orang yang kafir, amal-amal mereka seperti abu yang ditiup angin kencang, tidak tersisa sedikit pun. Artinya: Ada amal yang secara lahir terlihat baik, tapi tidak bernilai di sisi Allah. Ayat ini menjelaskan “syarat diterimanya amal”
Dari ayat ini, ulama menjelaskan:
- Amal baik tidak cukup hanya “baik secara perbuatan”
- Tapi harus memenuhi syarat agar bernilai pahala
Dua syarat utama amal diterima. Dalam Islam, amal diterima jika memenuhi:
- Ikhlas karena Allah; Tidak riya, tidak untuk pujian manusia dan murni karena Allah
- Sesuai tuntunan (syariat); Mengikuti ajaran Nabi ﷺ dan tidak menyimpang atau bid’ah dalam ibadah
Kaitannya dengan QS. Ibrahim : 18 bahwa ayat ini menekankan satu hal besar, yakni “Tanpa iman (tauhid), amal tidak bernilai”
Orang kafir bisa saja bersedekah, menolong orang dan berbuat baik, tapi karena tidak beriman kepada Allah dan tidak ikhlas dalam tauhid, maka amalnya seperti abu yang hilang tertiup angin. Jadi, apa “syarat kebaikan” menurut ayat ini? Bisa disimpulkan:
- Harus ada iman (tauhid)
- Harus ada keikhlasan
- Harus sesuai ajaran Rasul
Tanpa itu, amal bisa tidak bernilai sama sekali di akhirat.
Renungan yang dalam ayat ini memberi peringatan keras bahwa bukan banyaknya amal, tapi yang penting diterima atau tidaknya, karena:
- Amal besar bisa jadi nol
- Amal kecil bisa jadi besar di sisi Allah
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang orang lain, tetapi juga menjadi peringatan bagi kita semua. Sering kali kita fokus pada: Banyaknya amal, besarnya usaha dan penilaian manusia.
Maka yang harus kita jaga bukan hanya amal itu sendiri, tetapi: Keimanan kita, Keikhlasan kita dan kesesuaian amal dengan sunnah
Penutup: Perumpamaan “abu yang diterbangkan angin” adalah gambaran yang sangat tajam: sesuatu yang awalnya terlihat ada, namun akhirnya hilang tanpa makna.
Doa semoga Allah menjaga amal-amal kita agar tidak sia-sia, tidak hilang, dan benar-benar bernilai di sisi-Nya.
اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
Allāhumma innī as’aluka ‘ilman nāfi‘an, wa rizqan ṭayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan.
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik (berkah), dan amal yang Engkau terima