أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
رَضُوْا بِاَ نْ يَّكُوْنُوْا مَعَ الْخَوَا لِفِ وَطُبِعَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُوْنَ
“Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, dan hati mereka telah tertutup, sehingga mereka tidak memahami (kebahagiaan beriman dan berjihad).” (QS. At-Taubah 9: Ayat 87)
Kebahagiaan yang utama dalam Islam terletak pada keimanan dan kesediaan untuk berjihad di jalan Allah
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang munafik itu merasa senang tidak ikut berjihad fisabilillah. Mereka lebih senang tinggal bersama orang-orang lemah yang tidak kuat ikut berperang, yaitu perempuan-perempuan yang menjaga rumah tangga. Mereka tidak sedikit pun merasa malu tinggal bersama orang-orang perempuan yang tidak ikut berperang itu. Padahal mereka adalah orang-orang yang kuat, sehat, dan mampu untuk turut berperang. Walaupun banyak yang mengejek dan mentertawakan, namun ejekan itu bagi mereka tidak ada artinya, karena perasaan malu bagi mereka tidak ada lagi. Yang demikian itu adalah pertanda bahwa iman mereka sangat lemah dan hati mereka sudah dipengaruhi kebendaan.
Oleh karena itu Allah menutup mati hati mereka, mereka tidak mau menerima kebenaran, pelajaran dan nasihat dari siapapun juga. Penyakit kemunafikan itu telah membalut seluruh hati mereka, sehingga mereka tidak dapat mempergunakan pikiran yang sehat untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan, bahwa ikut berjihad dan berperang itu adalah suatu keuntungan dan tinggal di rumah adalah merugikan dan memalukan.
Kebahagiaan yang utama dalam Islam memang terletak pada keimanan dan kesediaan untuk berjihad di jalan Allah, baik dalam bentuk jihad fisik, jihad melawan hawa nafsu, maupun jihad dengan ilmu dan harta. Keimanan yang kokoh membawa ketenangan hati dan kebahagiaan hakiki, karena seorang mukmin yakin akan janji Allah di dunia dan akhirat.
Sebaliknya, bagi orang munafik, mereka kehilangan keimanan yang sejati dan tidak memiliki semangat berjihad di jalan Allah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)
Musibah terbesar dari hilangnya iman dan semangat berjihad:
- Hati yang mati dan gelisah: Tanpa iman, hati menjadi keras dan kosong dari ketenangan. Hilangnya iman membuat seseorang kehilangan arah hidup dan terjerumus dalam kesesatan serta kesedihan tanpa makna.
- Kehilangan pertolongan dan keberkahan Allah: Orang yang berpaling dari iman dan jihad tidak lagi mendapatkan perlindungan serta pertolongan dari Allah. Mereka hidup dalam kesulitan batin dan duniawi yang berkelanjutan.
- Kemunduran di dunia dan kehinaan di akhirat: Kehilangan semangat berjihad di jalan Allah menyebabkan umat Islam menjadi lemah, baik secara spiritual maupun sosial. Di akhirat, mereka akan menghadapi azab yang pedih karena meninggalkan kewajiban mereka.
- Tertipu oleh kehidupan dunia: Orang yang tidak memiliki iman yang kuat akan mudah tertipu oleh kesenangan duniawi, sehingga mengabaikan tujuan hidup yang sejati, yaitu mencari ridha Allah.
- Kematian dalam keadaan su’ul khatimah (akhir hidup yang buruk): Hilangnya iman bisa menyebabkan seseorang mati dalam keadaan kufur atau maksiat, yang merupakan kerugian terbesar dan tidak dapat ditebus setelah kematian.
Semoga kita selalu berusaha menjaga keimanan dengan taqwa, ibadah yang ikhlas, serta terus memperbarui niat dalam berjihad di jalan Allah, baik melalui ilmu, amal, maupun dakwah.