Kaum Nabi Nuh Tenggelam karena Kekufuran dan Kemaksiatan

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

فَكَذَّبُوْهُ  فَاَ نْجَيْنٰهُ  وَا لَّذِيْنَ  مَعَهٗ  فِى  الْفُلْكِ  وَاَ غْرَقْنَا  الَّذِيْنَ  كَذَّبُوْا  بِاٰ يٰتِنَا  ۗ اِنَّهُمْ  كَا نُوْا  قَوْمًا  عَمِيْنَ

“Maka, mereka mendustakannya (Nuh). Lalu Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal. Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 64)

Kebanyakan kaumnya tenggelam karena mereka hanyut dalam kekufuran dan kemaksiatan

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menerangkan bahwa kebanyakan kaum Nabi Nuh masih tetap mengejek dan mendustakannya, mereka tetap menentang perintah Tuhan dan bertambah hanyut dalam kedurhakaan. Hati nurani mereka tertutup sehingga mereka tidak dapat mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Allah dan mereka tidak dapat mengambil hikmat manfaat dari pengutusan para Rasul.

Telinga mereka pun menjadi tuli sehingga mereka tidak dapat membenarkan adanya hari kemudian, hari pembalasan yang disampaikan oleh Nabi Nuh yang semestinya diketahui oleh manusia bahwa seorang yang hidup di dunia ini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Allah sebagai Pencipta-Nya, Nabi menunjukkan kepada adanya kehidupan pada hari kemudian. Tetapi manusia yang tidak menggunakan pikirannya menduga bahwa kehidupan manusia itu hanya di dunia saja tanpa ada pertanggungjawaban di akhirat.

Secara tidak sadar mereka telah menyamakan dirinya dengan hewan, karenanya timbullah berbagai perbuatan jahat seperti syirik di atas bumi ini. Karena keingkaran kaum Nuh inilah, azab Allah menimpa mereka, yaitu berupa angin dan banjir yang menenggelamkan mereka. Hanya sedikit dari pengikut kaum Nuh yang diselamatkan oleh Allah dari tenggelam di waktu terjadinya bencana tersebut karena mereka berada dalam perahu yang telah disiapkan jauh hari sebelumnya. Kebanyakan kaumnya tenggelam karena mereka hanyut dalam kekufuran dan kemaksiatan.

Umat sebelum nabi Muhammad mendustakan ayat ayat Allah dibinasakan, umat nabi Muhammad membuat maksiat tidak dibinasakan

Keistimewaan Umat Nabi Muhammad

Allah subhanahu wata’ala menerangkan hal tersebut dalam al-Quran surat Al-Anfal,

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (QS. Al-Anfāl: 33)

Ibnu Abbas dan Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, dua hal yang karenanya umat ini tidak diazab, satunya sudah pergi yaitu Nabi (sudah wafat) dan tinggal istighfar (meminta ampun). Hal ini merupakan pengkhususan umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Setelah masa Fir’aun atau sesudah Taurat diturunkan, Allah subhanahu wata’ala tidak menurunkan azab secara menyeluruh.

Keterangan itu ada di dalam al-Quran,

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ مِن بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الْأُولَىٰ بَصَائِرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
“Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) setelah Kami binasakan umat-umat terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk serta rahmat, agar mereka mendapat pelajaran.” (QS. Al-Qashash: 43)

Ketika bani Israil melakukan kemaksiatan dan kekufuran, Allah subhanahu wata’ala menurunkan azab kepada sebagian bani Israil dan dibiarkan sebagiannya; karena tidak semua bani Israil setuju dengan kekufuran yang dilakukan oleh sebagian mereka.

Termasuk hikmah Allah subhanahu wata’la mengenai tidak adanya azab menyeluruh dan kontan sesudah Taurat diturunkan ialah, ketika ada dari umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang melakukan kekufuran dan kemaksiatan, agar mereka semuanya tidak mengalami kebinasaan itu. Serta disyariatkannya umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam untuk berjihad melawan orang-orang musyrik dan orang-orang yang membangkang.

Umat Nabi Muhammad adalah sebaik-baik umat

Hikmah lainnya adalah disyariatkannya amar makruf nahi munkar, saling menasihati dalam kebaikan, dan tersebab inilah umat Nabi Muhammad menjadi umat terbaik. Sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wata’ala,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Āli ’Imrān: 110).

Umat nabi Muhammad tidak dibinasakan, tapi bisa langsung berhadapan dengan kiamat, yang kita mohonkan diselamatkan pada saat kiamat tiba, salah satunya mendawamkan doa ;

Doa Akhir Zaman Agar Selamat di Hari Kiamat

Doa akhir zaman agar selamat di hari kiamat bisa dibaca setelah selesai menunaikan ibadah salat.

“Rabbana amanna faktubna ma’as syahidin.”

Yang artinya:“Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad)”.