Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اَوَعَجِبْتُمْ اَنْ جَآءَكُمْ ذِكْرٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَلٰى رَجُلٍ مِّنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ وَلِتَـتَّقُوْا وَلَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
“Dan herankah kamu bahwa ada peringatan yang datang dari Tuhanmu melalui seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri, untuk memberi peringatan kepadamu dan agar kamu bertakwa, sehingga kamu mendapat rahmat?” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 63)
Rassul dan nabi adalah manusia biasa
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini Allah menerangkan tentang kecaman Nabi Nuh kepada kaumnya, bahwa tidaklah patut mereka itu merasa heran atau ragu-ragu terhadap kedatangan peringatan dari Tuhan yang dibawa oleh seorang laki-laki di antara mereka sendiri. Dia memperingatkan mereka tentang azab yang akan menimpa mereka, bilamana mereka tetap dalam kekafiran. Dengan peringatan itu, mereka akan dapat memelihara diri dari perbuatan syirik dan munkar sehingga mereka memperoleh rahmat Allah.
Adapun yang menyebabkan keraguan dan keheranan kaumnya tentang kerasulannya, karena Nabi Nuh tidak mempunyai kelebihan yang istimewa. Tetapi jika mereka menggunakan pikiran yang sehat bahwa kelebihan antara manusia itu di samping diperoleh dengan usaha manusia itu sendiri, juga didapat dari karunia Allah, karena Allah Yang Mahakuasa.
Dalam kenyataan hidup manusia, nampak perbedaan di antara masing-masing manusia itu, baik perbedaan jasmaniah, maupun rohaniah. Oleh karena itu semestinya mereka menyambut seruan dari salah seorang yang memiliki kelebihan dan keistimewaan sebagai rasul untuk menyelamatkan mereka dari siksa Allah akibat kekufuran dan membawa mereka kepada kebenaran dan ketakwaan kepada Allah untuk memperoleh keridaan dan rahmat-Nya.
وَمَاۤ اَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوۡحِىۡۤ اِلَيۡهِمۡ فَاسْأَلُوا اَهۡلَ الذِّكۡرِ اِنۡ كُنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ
“Dan Kami tidak mengutus (rasul-rasul) sebelum engkau (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.
Dan Kami, wahai Muhammad, tidak mengutus para rasul sebelum engkau, melainkan beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang Kami beri wahyu kepada mereka. Kami tidak mengutus para malaikat untuk menjadi rasul bagi manusia. Maka tanyakanlah, wahai kaum kafir Mekah, kepada orang yang berilmu tentang kitab Allah yang diturunkan sebelum Al-Qur’an, jika kamu tidak mengetahui persoalan ini.
Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Allah sejak dahulu tidak pernah mengutus rasul kecuali selalu dari kalangan manusia biasa yang diberi-Nya wahyu. Kalau mereka benar-benar tidak mengetahui bahwa para rasul yang diutus Allah adalah manusia bukan malaikat, mereka bisa bertanya kepada orang-orang yang mengetahui baik dari kalangan kaum Yahudi maupun Nasrani, sebab mereka itu mengetahui masalah tersebut, dan tidak pernah mengingkarinya.
Dalam ayat yang lain Allah menyuruh Nabi Muhammad mengatakan kepada kaum musyrikin bahwa dia adalah manusia.
قُلْ اِنَّمَاۤ اَنَاۡ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰۤى اِلَيَّ اَنَّمَاۤ اِلٰهُكُمْ اِلٰـهٌ وَّا حِدٌ ۚ فَمَنْ كَا نَ يَرْجُوْا لِقَآءَ رَبِّهٖ فَلْيَـعْمَلْ عَمَلًا صَا لِحًـاوَّلَايُشْرِكْ بِعِبَا دَةِ رَبِّهٖۤ اَحَدًا
“Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 110)
Sifat jaiz (boleh) para rasul hanya satu yaitu a’radhul basyariyah,”
Secara bahasa, a’radhul basyariyah berarti sifat yang biasa terdapat pada manusia. Artinya, satu-satunya sifat jaiz yang dimiliki rasul tersebut adalah kesamaan sifat rasul dengan manusia biasa.
Namun, sifat-sifat tersebut tidak lantas mengurangi martabat nabi dan rosul yang mulia. Hal ini dikarenakan para rasul ma’shum (terpelihara) dari segala perbuatan maksiat.
Mengutip dari buku Aqidah Akhlaq karya Ahmad Kusaeri, sifat jaiz bagi rasul juga dapat berarti sifat yang diperbolehkan. Kebolehan ini meliputi sifat-sifat manusiawi seperti, makan, minum, tidur, dan beristri.
Mengenai sifat a’radhul basyariyah bagi rasul dijelaskan dalam surat Al Furqan ayat 20,
وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ ۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat.”
Bukan fisik yang dicontoh dari rassul (nabi Nuh), tapi perilaku dan sikap mental yang harus ditiru dari nabi Nuh;
Nabi Nuh memiliki beberapa kelebihan yang membedakannya dari manusia biasa:
Ini adalah beberapa kelebihan yang diyakini oleh umat Islam tentang Nabi Nuh, yang membedakannya dari manusia biasa.
Semoga kita bisa mencontoh dari sikap mental nabi Nuh terutama kesabaran dalam berdakwah.