Jika “Hijrah”, maka Dosa-dosa Sebelumnya akan Dihapus

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

قُلْ  لِّـلَّذِيْنَ  كَفَرُوْۤا  اِنْ  يَّنْتَهُوْا  يُغْفَرْ  لَهُمْ  مَّا  قَدْ  سَلَفَ  ۚ وَاِ نْ  يَّعُوْدُوْا  فَقَدْ  مَضَتْ  سُنَّتُ  الْاَ وَّلِيْنَ

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu (Abu Sufyan dan kawan-kawannya), Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu; dan jika mereka kembali lagi (memerangi Nabi) sungguh, berlaku (kepada mereka) Sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu (dibinasakan).”(QS. Al-Anfal 8: Ayat 38)

Islam itu menghapuskan apa yang terjadi sebelumnya, dan bahwasanya hijrah itu telah menghapuskan apa yang sebelumnya dan haji itu menghilangkan dosa-dosa yang sebelumnya

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya untuk menyatakan kepada orang-orang kafir Quraisy, yaitu Abu Sufyan dan pengikut-pengikutnya bahwa Allah memberikan tawaran kepada mereka, apabila mereka mau menghentikan permusuhannya kepada seruan Nabi Muhammad dan menghentikan tipu-dayanya dalam menghalang-halangi tersebarnya agama Allah, mereka masih diberi kesempatan untuk bertaubat. Dan Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang sudah mereka lakukan dan mereka tidak akan mengalami siksaan di akhirat.

Demikian juga Rasulullah tidak akan memerangi mereka dan tidak akan menuntut balas terhadap tindakan-tindakan mereka yang telah mereka lakukan baik berupa penyiksaan, pengusiran, pembunuhan, perampasan, maupun lain-lainnya. Hal ini adalah merupakan ketentuan Islam yaitu mencintai perdamaian selama ajaran Islam dapat tersebar di muka bumi dan tidak dihalang-halangi. Akan tetapi apabila seruan agama Islam dihalang-halangi maka umat Islam akan bertindak terhadap orang-orang yang menghalang-halangi tersebut.

Allah memberikan ancaman dan peringatan bahwa apabila mereka tetap tidak menghiraukan seruan itu dan mereka tetap bersikap keras dalam memusuhi ajaran Islam, serta menghalang-halangi dan memerangi kaum muslim, maka sunnah Allah yang telah berlaku terhadap orang-orang dahulu kembali berlaku, yaitu Allah akan membantu perjuangan orang-orang mukmin dan menghancurkan tipu-daya orang-orang kafir.

Allah berfirman: Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat). (al-Mumin/40: 51)

Untuk memberikan gambaran bahwa apabila orang-orang musyrikin itu betul-betul menghentikan tindakan mereka yang memusuhi Nabi Muhammad menerima seruannya dan masuk Islam, niscaya mereka dapat pengampunan dari Allah. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan Amr bin al-ash berkata: “Setelah Allah meresapkan agama Islam betul-betul ke dalam hatiku, aku pun datang kepada Nabi dan berkata: “Ulurkan tanganmu, aku akan membaiat kamu. Maka Rasulullah mengulurkan tangan kanannya, lalu aku menarik tanganku. Nabi bertanya: “Mengapa engkau menarik tanganmu?” Aku menjawab: “Aku akan menentukan suatu syarat”. Rasulullah bertanya: “Engkau akan mensyaratkan apa?” Aku menjawab: “Aku ingin agar Allah mengampuni aku.” Rasulullah bersabda: “Tidakkah engkau mengetahui hai Amr, bahwasanya Islam itu menghapuskan apa yang terjadi sebelumnya, dan bahwasanya hijrah itu telah menghapuskan apa yang sebelumnya dan haji itu menghilangkan dosa-dosa yang sebelumnya.” (Riwayat Muslim dari Amr bin al-ash).

Hadiat Rassululloh yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Islam menghapuskan semua dosa yang terdahulu” (Hadis Riwayat Muslim).

Hadis ini menjelaskan bahawa apabila seseorang kafir atau ahli maksiat masuk Islam dengan ikhlas, semua dosa-dosa besar dan kecilnya sebelum memeluk Islam akan dihapuskan oleh Allah. Keislamannya menjadi satu permulaan baru, dan dia dianggap seperti bayi yang baru lahir, bersih daripada dosa.

Namun, bagi dosa-dosa terhadap manusia seperti hutang atau kezaliman, tanggungjawab terhadap manusia tersebut masih perlu diselesaikan dan ditebus, kerana dosa antara manusia perlu diselesaikan sesama mereka.
Proses taubat ini juga menunjukkan betapa luasnya rahmat dan pengampunan Allah terhadap hamba-Nya yang kembali ke jalan-Nya dengan penuh keikhlasan.

“Allāhumma anta rabbī, lā ilāha illā anta, khalaqtanī wa anā ‘abduka, wa anā ‘alā ‘ahdika wa wa‘dika ma-staṭa‘tu, a‘ūdhu bika min sharri mā ṣana‘tu, abū’u laka bini‘matika ‘alayya, wa abū’u bidhambī, faghfir lī fa innahu lā yaghfiru dh-dhunūba illā anta.

“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tiada Tuhan melainkan Engkau. Engkau telah menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku berusaha memenuhi janji dan perjanjian dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang telah aku lakukan. Aku mengakui segala nikmat-Mu yang Kau berikan kepadaku, dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena tiada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.”